TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 25


__ADS_3

"Nona... biarkan kami saja." Ucap Tika melarang Una berada di dapur.


"Aku mau buat sarapan lho." Una masih bersikeras.


"Nona tunggu saja sebentar lagi. Kami akan segera membuatkan sarapan. Nyonya tak mengizinkan Nona masuk dapur." Jelas Tika agar Una mengerti.


"Ta-tapi..."


"Sayang... kamu ngapain di sini?" Mama menghampiri Una.


"Mau buat sarapan Ma."


"Sudah biar mereka saja. Kamu sana ke kamar, urus Bian saja." Mama mendorong tubuh Una pelan, agar menantunya ini segera kembali ke kamarnya di lantai 2.


Dengan terpaksa Una mengangguk dan menurut. Ia masuk ke kamar dan melihat Bian sedang bersiap.


"Kenapa?" Tanya Bian melihat Una tak bersemangat. 


"Aku nggak boleh masuk dapur sama Mama."


"Memang kamu mau ngapain di dapur?" Tanya Bian.


Una menatap Bian, merasa aneh dengan pertanyaan pria itu.


"Mau masaklah. Memang anda kira di dapur aku mau karoke." Jawab Una sinis.


Bian tersenyum mendengar jawaban Una. "Kamu ke dapur pun percuma. Hanya bisa memasak nasi goreng doanh." Ledek Bian membuat wajah Una jadi cemberut.


Bian memegang dasi, ingin Una memasangkannya. Tapi ia ingat saat itu Una bukannya memasangkan  dasi dengan baik, wanita itu malah membuat kemejanya berpita. Bagus lupaakan saja, ia akan memasang dasi sendiri saja.

__ADS_1


"Ayo turun." Bian merangkul Una. Wanita yang sedang melamun itu terkejut.


"Tu..."


"Kita harus bersikap seromantis mungkin. Tersenyumlah, kamu mau Mama mengintrogasimu."


Dengan terpaksa Una pun tersenyum, lalu mengikuti Bian keluar kamar.


Beberapa saat berlalu, seperti hari semalam. Una mengantar Bian sampai depan teras. Ia jadi mengikuti kebiasaan keluarga Bian.


"Tante Mely..." Ucap seorang wanita yang membuat keempatnya menoleh.


"Aku mau minta maaf sama Om dan Tante, sama Bian juga. Jika selama ini aku punya salah." Luna meminta maaf pada keluarga Bian.


"Tante... ini aku buatkan makanan kesukaan Bian. Aku yang masak sendiri lho. Bian nanti dimakan ya." Luna menyerahkan mangkok berisi makanan pada Tante Mely sambil matanya mengarah pada Bian.


"Ini sangat enak lho Tante. Tapi bisa sakit perut kalau yang makan tak pernah makan makanan mahal." Sindir Luna lalu melirik Una dengan tatapan menghina. Ia mengisyaratkan agar Una jangan sampai memakannya.


"Hati-hati ya Bian. Kerja yang rajin." Ucap Luna dengan senyum mengambang.


"Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa kamu telpon aku, ya." Ucap Bian mengelus perut Una, tak memperdulikan Luna.


Una pun mengangguk pelan. Ia mencium tangan Bian. Lalu seperti biasa Bian pun menkecup kening dan kedua pipinya. Membuat wajah Una lagi-lagi merona.


Papa melirik Mama, pria paruh baya itu pun masuk duluan ke dalam mobil.


"Mas... babynya mau dicium daddy juga." Ucap Una dengan nada begitu manja, memeluk lengan Bian.


"Anak Daddy jangan nakal ya." Dengan setengah berjongkok Bian menkecup perut Una. Pria itu menahan tawanya. Ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi Luna yang begitu tampak emosi dan tak senang.

__ADS_1


"Ma... Una ke kamar ya." Pamit Una setelah mobil Bian berlalu pergi.


"Eh... mau kemana kau?" Luna tak senang setelah menyaksikan drama pagi hari yang membuat hatinya begitu panas.


"Ke kamarku." Jawab Una santai sambil melangkah masuk.


"Kau..." Luna tak terima mendengar itu.


"Luna... kamu pulang ya. Makasih makanannya." Mama memberi isyarat pada penjaga rumah untuk menyuruh Luna pergi.


"Tante..." Panggilnya kesal, Tante Mely sudah tak berpihak lagi padanya. Wanita paruh baya itu segera masuk ke rumah, ia diacuhkan.


Mama menyerahkan pada Tika makanan yang dibawa Luna. "Ini tolong dibuang."


"Ma, kok dibuang?" Una merasa mubajir jika makanan dibuang. Padahal makanan itu tampak sangat lezat.


"Biarkan saja. Bisa jadi itu ditaruh sesuatu atau mungkin sudah di jampi-jampi." Ucap Mama curiga pada makanan yang dibawa Luna.


"Mama... mana mungkin." Ucap Una yang tak percaya.


"Bisa jadi. Luna itu tergila-gila sama Bian, suami tampan kamu itu lho. Kamu harus menjaga Bian biar jangan direbut sama para pelakor." Mama mewanti-wanti Una. Mama sangat membenci perselingkuhan.


"Semua yang namanya pria, seknya kuat lho. Jadi kamu harus begini... lalu begitu... supaya kamu tetap hot sama Bian. Jadi Bian nggak akan mau mencari kehangatan sama perempuan lain. Nanti kamu harus bla bla bla..."  Mama menjelaskan kiat sukses menjaga suami agar terhindar dari para pelakor.


Menantunya itu mengangguk pelan, wajahnya sudah memerah mendengar berbagai pelajaran kegiatan di ranjang. Membayangkannya saja sudah membuat Una merinding. Konon lagi jika dipraktekkan.


'Astaga... telingaku panas.'


 .

__ADS_1


.


.


__ADS_2