TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 88


__ADS_3

"Mas... turuni aku." Pinta una malu. Bian menggendong Una menuju dapur.


Mama mengulum senyum melihat putranya menggendong Una bak anak koala.


"Silahkan duduk tuan putri." Bian mempersilahkan Una untuk duduk.


"Aku bisa makan sendiri Mas." Una sangat malu. Bian memaksa untuk menyuapinya.


"Sudah makan." Suaminya ini tidak peduli keadaan sekitar.


Bian benar-benar merawat Una. Setelah sarapan, ia memberikan obat yang harus Una minum.


"Kita ke tempat Bunda." Ajak Bian.


Una mengangguk.


"Adikmu Luna, tadi malam tidak pulang."


"Apa?" Una sangat kaget. "Kemana dia? Mas Bianku cari Luna." Una menggoyang-goyang lengan Bian.


"Dia menginap di apartemennya Wan."


"Apa? Mas kok dibiarin. Luna perempuan Wan pria. Kalau khilaf gimana?" Una tampak khawatir.


Berbeda dengan Bian, pria itu hanya menatap aneh. Una seolah lupa, sebelum menikah mereka juga sempat tinggal bersama. Dan tidak terjadi apa-apa.


"Mas, ayo kita ke tempat Bunda." Una berdiri segera.


"Aku gendong saja." Bian tak memperbolehkan Una banyak bergerak.


"Aku bisa jalan sendiri Mas. Yang sakit itu kepalaku ,bukan kaki apalagi tanganku."


"Karena kepala kamu yang sakit, bisa menyebar ke semua. Sudah jangan banyak menolak." Bian menggendong Una ala bridal style. Walau Una terus memberontak ia tak peduli.


Mama sampai menggeleng melihat Bian. Putranya itu memang pemaksa dan tak menerima penolakan.


Bian menggendong Una sampai kamar Luna. Una sangat malu, semua mata melihat ke arahnya.


"Bunda, Luna kenapa?" Tanyanya melihat Luna berbaring di tempat tidur.


"Ia pingsan." Bunda melirik Wan.


"Maafkan saya." Wan menundukkan kepala.


"Pingsan kenapa?" Tanya Una dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Tadi saya memukul tengkuknya, karena Luna tak mau dibawa kemari." Ucap Wan apa adanya.


"Apa?" Pekik Una. "Kenapa memukul adikku?" Una akan menghampiri Wan, tapi ditahan Bian. Pria itu tahu, apapun akan Wan lakukan demi menuruti perintahnya.


"Sudahlah sayang. Dari pada dia pergi tah kemana."


Una pun mendekati Bunda yang duduk di pinggiran ranjang. Wajah Bunda sangat sedih. Ia tahu Bunda begitu menyayangi Luna. Selama ini, Lunalah yang selalu bersama Bundanya.


Luna terbangun dan melihat sekelilingnya. "Wan..." Pekik Luna menatap nanar pria itu.


"Saya permisi." Tugas sudah selesai, Wan segera cabut.


"Apa ada yang sakit? Bunda, kita harus membawa Luna ke rumah sakit." Ucap Una dengan raut wajah khawatir.


Luna menatap Una sejenak, lalu ia membuang wajahnya. Ia sangat geram pada Wan, yang membawanya ke rumah ini.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Bunda lembut.


"Ini Bunda." Dengan semangat Una mengambil mangkuk berisi makanan. "Ayo, minum dulu." Una menyodorkan gelas pada Luna.


Luna bingung mau bersikap seperti apa. Wanita bernama Una ini bersikap biasa saja, seolah tak ada yang terjadi pada mereka.


"Mas.." Una mengisyaratkan Bian untuk keluar dari kamar.


"Ayo Bang Bian. Biar mereka segera baikan." Bisik Adit menarik Bian keluar.


Suasana hening, tinggalah Bunda, Una dan Luna di ruangan itu.


"Tadi malam, kamu tidur dimana? apa Wan macam-macam padamu?" Sikap Una layaknya kakak yang begitu sangat khawatir.


Luna benar-benar mati kutu. Ia tak berani melihat Una.


"Kamu jangan pergi ya. Bunda sangat khawatir." Ucap Bunda dengan nada bergetar.


Luna menatap wanita paruh baya yang sudah berlinang air mata. Hal itu membuatnya jadi ikut sedih. Selama ini Bunda mencurahkan kasih sayangnya, hingga ia tak pernah berpikir jika ternyata mereka tidak ada ikatan apapun.


"Apapun yang terjadi, kamu tetap anak Bunda. Kamu bagian dari keluarga ini." Bunda menekankan kata-katanya.


"Bunda... maafkan aku." Luna terisak dalam pelukan wanita paruh baya itu. Una di sampingnya sudah menangis haru.


Setelah memeluk Bunda, ia melirik wajah Una yang sudah berlinang air mata.


"Maafkan aku, kak." Ucapnya pelan membuang wajahnya.


Una senang mendengar Luna memanggilnya kakak. Ia pun langsung memeluk sang adik erat.

__ADS_1


Jujur Luna masih canggung dipeluk oleh Una.


"Terima kasih adikku."


Luna mendengus, ia kesal dengan sikap Una yang terlalu baik padanya. Seharusnya Una marah, kan.


"Apa sakit?" Tanya Luna setelah pelukannya terlepas. Ia melihat bekas jahitan di kepala Una.


"Sudah mau sembuh." Jawab Una sambil tersenyum.


"Kepala kak sampai cobel begitu, apa Bian masih menyukaimu?"


"Bunda..." Rengek Una tak terima dikatakan kepalanya cobel.


Luna pun jadi tertawa melihat wajah Una yang merengek.


"Bun, aku mau kerja diluar negeri." Ucap Luna kemudian.


"Nggak boleh." Tolak Una cepat.


"Aku bicara sama Bunda, kak."


"Bunda, jangan izinkan dia."


"Nggak bisa. Bunda, aku mau pergi."


"Nggak bisa."


"Bisa."


"Aku bilang nggak boleh."


"Aku mau pergi."


"Aku nggak izinkan."


"Bunda..." Kali ini Luna yang merengek.


Bunda mengelus dada mendengar perdebatan mereka berdua.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2