TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 38


__ADS_3

Bian menghela nafas melihat Una. Sudah sejam lebih Una menutupi dirinya dengan selimut.


"Hei... Una. Apa kamu tidak kepanasan?" Tanya Bian membuka selimut itu, tapi Una tetap menahannya. Tak membiarkan Bian membuka selimutnya dan melihat wajahnya sekarang.


"Nggak apa lho. Aku juga sudah lupa kejadian yang tadi." Ucap Bian mencoba membujuk Una agar membuka selimutnya.


'Lupa apaan? bahkan dia masih mengatakannya.' Batin Una kesal. Ia masih sangat malu dan nggak sanggup melihat wajah pria itu. Pria itu pasti akan menertawakannya.


"Nanti kamu bisa kehabisan nafas lho, Una." Bian membalikkan tubuh Una agar menghadap ke arahnya. Lengannya pun ia jadikan bantal untuk sang istri.


Sementara Una mulai merasa gelisah. Seranjang dengan pria itu membuat perasaannya tak karuan. Ia merasakan tangan Bian mulai memeluk tubuhnya. Nafasnya seakan berhenti bernafas, lalu wanita itu segera menarik nafas.


"Aku ingin tidur setelah melihat wajahmu. Tapi sepertinya aku akan begadang malam ini." Ucap Bian mengeratkan pelukannya.


"Besok aku mau kerja, pasti kerjaan akan berantakan karena aku kurang tidur." Bian sengaja melirik Una yang masih tertutup selimut.


Una perlahan membuka sedikit selimutnya. Matanya dapat melihat Bian yang tersenyum manis padanya.


"Ayo kita tidur." Ucap Bian menkecup kening Una. Ia sudah melihat Una dan segera menutup matanya. Tak mau membuat Una ngambek.

__ADS_1


'Kenapa dia begitu tampan?!'


Una baru menyadari ketampanan sang suami. Pria ini ternyata makhluk yang paling mendekati kata sempurna. Dengan jarak sedekat ini ia bisa mengamati wajah polos yang sedang terpejam.


'Apa aku wanita beruntung?'


###


"Sudah." Una sudah memasangkan dasi yang dibelinya semalam dengan Mama. Dasi itu sangat cocok dengan kemeja Bian.


"Wih... kamu sudah bisa memasangkan dasi, padahal tadi aku sudah pasrah bakal jadi kado." Ledek Bian membuat wajah Una mengkerucut.


"Ma-mas..." Ucap Una gugup saat Bian melingkarkan tangannya di pinggang Una.


Tanpa aba-aba Bian mendaratkan bibirnya di bibir merah muda itu. Una yang kaget mencoba mendorong tubuh Bian, tapi tangan Una langsung di genggam Bian. Pria itu mengarahkan tangan Una ke lehernya.


Ciuman itu begitu lembut, perlakuan Bian membuat Una yang semula hendak menolak mulai membalas pagutan tersebut. Saling meresap dan ******* diiringi debaran hati keduanya yang saling bersahut.


"Aku pergi kerja ya." Ucap Bian setelah melepas ciuman itu. Sebenarnya ia ingin melakukan lebih dari itu, tapi ia tahan. Mereka baru saja memulai dan tak boleh tergesa-gesa.

__ADS_1


Una mengangguk dengan wajah yang memerah. Ia mengalihkan pandangan, merasa kikuk dengan tatapan Bian yang melelehkan hatinya.


"Kita mulai pelan-pelan ya." Bian menkecup bibir Una. Bukan hanya sekali tapi sampai beberapa kali.


"Mas... apa nanti aku boleh pergi?" Tanya Una meminta izin. Ia megalihkan Bian agar tidak menkecupnya terus.


"Kamu mau kemana?" Tanya Bian dengan tangan masih betah nangkring di pinggang Una.


"Aku bosan di rumah. Jadi mau jalan-jalan." Una pun berkata manja.


"Boleh." Bian mengizinkannya. "Tapi saat aku pulang, kamu harus sudah ada di rumah."


Una tersenyum dan cepat mengangguk. Ia pun kemudian menkecup pipi Bian. Lalu segera berlari hendak keluar kamar.


"Yang kanan nggak?" Tanya Bian merasa kurang.


Mendengar itu langkah Una terhenti dan berbalik. Ia pun menkecup pipi kanan Bian dengan cepat dan segera berlari keluar. Ia sangat malu dan gugup.


Bugh!!!

__ADS_1


Suara bergetar terasa di ruangan itu, karena Una yang menutup pintu dengan begitu keras.


'Kenapa Una begitu manis?' Batin Bian memegangi kedua pipinya.


__ADS_2