TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 29


__ADS_3

Bian tampak gelisah, sofa tempat ia berbaring sungguh tak nyaman. Terlalu kecil sampai ia bergeser sedikit ke kanan atau ke kiri saja ia bisa jatuh.


Pria itu pun mengubah posisinya dari terbaring hingga duduk. Ia melihat kearah ranjang.


'Mimpi apa sih dia? senyum-senyum gitu.'


Bian duduk di samping ranjang, ia memandangi Una yang sedang tidur. Wajah wanita itu begitu bahagia, mungkin ia sedang bermimpi indah.


Tangan Bian tanpa sadar menyentuh hidung Una, ia bahkan menepikan rambut yang menutupi wajah wanita cantik itu. Menatap lekat wajah Una.


Glek


Bian menatap bibir kemerahan itu. Sepertinya Una sedang bermimpi mencium seseorang, sampai wanita itu memajukan bibirnya.


"Cium aku..." Ngigau Una makin memajukan bibirnya.


Bian berusaha menahan diri, tapi pesona wanita ini saat tidur terlalu menggoda. Bian pun berdiri, ia tidak boleh berbuat hal yang tidak-tidak pada orang yang sedang tidur.


"Saat ini aku suaminya, aku tidak akan berdosa, kan." Bian bermonolog sendiri.


Pria itu kembali duduk di ranjang, ia perlahan mendekatkan wajahnya pada Una. Dekat dan semakin dekat, bahkan Bian sudah merasakan hembusan nafas wanita itu.


Pria itu diam saat kedua bibir mereka telah menempel. Ia berkecambuk dengan pikirannya. Jika Una bangun wanita itu pasti akan menjerit histeris. Dan pasti akan menuduhnya pria mesum yang mencari kesempatan.


Bian perlahan menjauhkan wajahnya, tapi Una menggigit bibir Bian. Bahkan tangannya melingkar dileher pria itu. Tingkah Una saat ini memancing nalurinya sebagai seorang pria tulen.

__ADS_1


Tanpa berpikir lagi, pria itu pun mencium bibir yang dari tadi begitu menggodanya. ********** dengan lembut, Una juga membalasnya. Bian makin memperdalam ciuman mereka. Merasakan rasa yang begitu manis.


Una menggeliat saat sentuhan basah di lehernya. Bibir Bian turun ke leher putih Una. Menciumnya serta meninggalkan jejak-jejak sejarah disana.


"Aku suka kamu, Mas Dino..."


Bian menghentikan aksinya. Ia menatap wajah Una yang begitu merona. Rasa kesal karena Una malah menyebut nama pria lain.


"Mas Dino..." Dalam pejamnya, wajah Una terlihat begitu bahagia. Mungkin dalam mimpinya, ia sedang bersama Dino sekarang. Hal itu membuat Bian jadi ilfill. Pria itu pun segera ke kamar mandi, menuntaskan sesuatu yang sudah terlanjur bangun.


Pagi itu, Una duduk di kursi nakas sambil bercermin. Melihat beberapa tanda kemerahan di lehernya. Tadi malam ia bermimpi sedang berkencan dengan Dino. Mereka berjalan menyusuri taman dengan saling bergandengan tangan. Lalu Dino menciumnya di bawah rindangnya pohon dan udara sore yang begitu menyejukkan.


Una bingung, jika itu mimpi kenapa begitu sangat nyata. Bahkan rasa-rasa itu masih tertinggal di bibirnya. Ciuman yang membuat candu, bahkan ia ingin mengulanginya lagi.


Bian yang baru keluar kamar mandi melihat Una yang melamun menyentuh-nyentuh bibirnya.


"Hmm..."


"A-apa mas Dino tadi malam menginap di kamar ini?" Tanya Una masih penasaran.


Bian mengernyitkan dahinya. Pertanyaan apa itu?


"Untuk apa dia menginap disini?" Tanya Bian mulai tak senang.


Una menghela nafas, berarti tadi malam ia memang bermimpi.

__ADS_1


"Tuan, apa di kamar ini ada hantu?" Tanya Una merinding sambil melihat sekitarnya.


"Hantu?"


"Iya hantu. Aku rasa ada hantu yang mengisap darahku. Lihat Tuan, leherku jadi merah-merah." Una menunjukkan lehernya yang terdapat banyak jejak sejarah.


'Sejak kapan hantu menghisap darah?'


"Nanti karena kamu garuk-garuk. Kamu kan malas mandi." Ledek Bian beralasan menutupi perbuatannya.


Una diam membenarkan ucapan Bian. Saat ia tidur mungkin ia tak sengaja menggaruk lehernya hingga merah.


"Tuan, menurut anda jika kita memimpikan orang lain apa artinya?" Una mengulum senyumnya.


"Aku bukan pentafsir mimpi."


"Tadi malam aku mimpi mas Dino." Wajah Una sudah merona mengatakan itu.


Tapi wajah Bian makin kesal mendengar itu. Pria itu menyalakan tv yang berada di kamarnya.


"Oh ya?" Walau kesal tetap menanggapi.


"Iya, tadi malam aku bermimpi kencan sama dia. Terus kami begitu." Una menutup mulutnya tak percaya. Walau cuma mimpi tapi masih terasa begitu nyata.


"Begitu apa?" Bian tak paham maksud Una.

__ADS_1


"Itu Tuan. Begitulah." Una malu menjelaskan secara detil. Wanita itu segera kabur ke kamar mandi.


'Pasti dia bermimpi mesum..'


__ADS_2