TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 75


__ADS_3

"Mas..." Una datang ke kantor Bian. Ia merengek meminta Bian membatalkan tuntutannya.


"Mas Bianku... Mas kan sudah berjanji. Tak akan menuntut Luna."


"Aku sedang bekerja sayang. Kamu berisik." Bian fokus pada tumpukan berkas.


"Mas Bianku sayang..." Una memeluk leher Bian dari belakang. Ia akan merayu Bian agar membatalkan tuntutannya.


"Aku nggak suka ia terus menghinamu." Bian berusaha fokus pada pekerjaannya. Nafas Una yang berhembus mengenai lehernya, membuat Bian mulai goyah.


"Aku tahu. Tapi..." Dengan memberanikan diri, wanita itu duduk di paha Bian. Melingkarkan tangannya di leher pria yang menunjukkan wajah datar.


"Aku mau Mas Bianku tersayang ini membatalkan tuntutannya." Ucap Una sangat manja.


"Aku tidak bisa sayang. Biarkan saja ia mendekam di penjara. Itu lebih baik untuknya dari pada ia terus mengganggu kita." Bian tetap pada keputusannya. Membuat Luna mendekam di penjara.


"Sayang..." Una merangkup wajah Bian dengan tangannya, membuat pria itu menatap wajah memohon itu.


Sungguh Bian tak tega melihat ekspresi Una sekarang. Tapi ia tak mau melepaskan Luna begitu saja.


"Batalkan ya Mas." Pinta Una lirih menganggukkan kepala.


Una sedih mengingat Bunda tadi terus menerus menelepon dirinya. Luna akan di penjara, jika Bian tak membatalkan tuntutannya. Ia tak mungkin sekejam itu pada Luna, adiknya. Meski Luna tak bisa menerima dirinya.


Wajah Una ditekuk melihat gelengan kepala Bian. Air mata itu pun berjatuhan.


"Hah!!! baiklah." Bian menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Ia hanya akan ditahan sampai tengah malam. Agar ia sadar dan tidak menghinamu lagi." Bian akhirnya mengalah, ia tidak suka melihat Una menangis. Jika Luna mendekam di penjara, Una pasti akan terus merengek padanya. Pria itu juga takut Una akan mengancamnya dengan minta cerai.


"Mas... batalkan sekarang." Una tak mau sampai tengah malam. Ini masih siang.


"Atau kita biarkan saja, biar dia dipenjara seumur hidupnya?" Tanya Bian penuh penekanan.


"Mas Bian jahat!!!" Dengan kesal Una menggigit hidung pria itu.


###


Dengan wajah kesal Luna keluar dari sel. Sudah hampir 12 jam ia berada didalam sel bersama napi lainnya.


"Luna... Kamu nggak apa kan,Nak." Bunda memeluk sang putri erat. Ia begitu sedih Luna berada di dalam sel. Selama Luna di sel ia terus menunggu di kantor polisi.


Pengacara juga tak dapat mengeluarkan Luna. Bunda tahu pasti Una yang membujuk Bian, hingga anaknya itu dibebaskan bersyarat.


'Bian!!! kau sangat kelewatan.' Luna mengepal tangannya.


Keluarganya membawa Luna keluar dari kantor polisi. Luna mengikuti mereka tapi otaknya masih berputar. Ia akan membalas Bian dengan menyakiti Una.


"Sudah puas." Dari dalam mobil yang terpakir Bian dan Una melihat Luna keluar didampingi keluarganya.


Kini Una bernafas lega, Bunda tersenyum bahagia karena Luna bebas. Kini ia menatap tajam yang pada orang disampingnya.


"Mas Bian jahat. Kasihan Luna di dalam sel." Una melipat tangan mendengus menatap Bian.


"Biarkan saja. Aku lebih nggak suka ia menghinamu. Tak ada seorang pun yang bisa menghina istriku. Wanita yang sangat aku cintai." Bian menggenggam tangan Una.

__ADS_1


Lagi dan lagi, hati Una berdebar kencang. Ia mengalihkan pandangan matanya. Tatapan Bian sungguh tak baik untuk kesehatan jantung.


"Tapi Mas..." Una kembali menatap Bian setelah menetralkan suasana hatinya. "Biar nanti aku bicara empat mata dengan Luna. Walau bagaimana pun ia adikku."


"No no no." Pria itu menggerakkan telunjuknya. Una tak bisa dibiarkan bicara berdua dengan wanita keras kepala itu. Bisa-bisa istrinya itu dalam bahaya.


"Jangan pernah sekalipun kamu bicara hanya berdua dengannya." Bian memperingatkan.


Una mencubit perut Bian. "Apaan sih Mas. Luna itu adikku lho."


"Dia memang adikmu. Tapi apa kamu yakin ia menganggapmu seorang kakak?"


Pertanyaan Bian membungkam mulut Una. Benar apa yang Bian katakan. Luna bahkan tidak pernah menerima dirinya.


"Jadi?" Wajah Una mendadak murung. Sebagai kakak, ia juga ingin dekat dengan adik-adiknya.


"Hmm... Jika kamu ingin bicara berdua dengannya. Katakan saja kapan, aku akan mengawasimu."


"Mas-" Una merasa aneh. Ucapan Bian seolah menganggap Luna akan melakukan sesuatu hal buruk padanya.


"Turuti aku. Ya?" Bian tersenyum mengelus kepala istrinya itu.


Una mengangguk pelan. Ia akan menuruti perkataan Bian.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2