
Gubrak
"Bi-Bian. Apa yang kalian lakukan???" Luna berteriak setelah membuka pintu dengan kasar. Emosinya meluap melihat Bian sedang bermesraan dengan wanita yang paling dibencinya.
"Apa yang kau lakukan? dasar wanita pelakor." Ucap Luna dengan wajah memerah. Ia akan mendorong Una tapi Bian menahan tangan Luna.
"Apa yang kau lakukan?" Bian menghempas tangan Luna dengan kasar.
Una menahan tubuh Bian dengan tangannya melihat pria itu sudah sangat emosi.
"Kau bilang apa tadi?" Una pun melangkahkan kakinya mendekat pada Luna. "Aku pelakor?" Tatapan mata Una begitu sangat tajam membuat Luna agak ciut.
"Kau memang pelakor. Kau merebut Bian dariku." Jawab Luna tak mau kalah. Ia melihat beberapa karyawan lain sedang melihat mereka.
"Kau lihat ini." Tunjuk Una pada cincin di jari manisnya. "Apa aku perlu menunjukkan buku nikah padamu?"
Luna meremas tangannya kesal. Wajah Una cukup menyeramkan saat ini, tatapan matanya begitu beraura pembunuh.
"Yang jadi pelakor aku atau kau?" Una menekan dada Luna dengan telunjuknya.
Beberapa karyawan saling berbisik-bisik. Mengomentari apa yang mereka lihat.
"Kau..?" Luna akan menampar Una, tapi Una langsung menepis dan...
Plak
Satu tamparan melayang di pipi Luna. Membuat orang-orang yang berada di sana terkejut.
"Beraninya kau.." Luna tak terima Una menamparnya, wanita itu pun menjambak rambut Una. Mereka pun saling menjambak rambut.
"Dasar kau, wanita pelacur. Jika orang tuamu tahu kelakuanmu, mereka pasti sangat malu." Ledek Luna yang masih berucap meski menahan sakit rambutnya di jambak.
"Diam kau." Hati Una juga sakit mendengar ucapan Luna. Ia pun makin keras menjambak Luna.
__ADS_1
"Sudah hentikan." Bian memegangi tubuh sang istri dan Luna di pegang Wan.
"Lepaskan tanganmu yang kotor itu." Luna makin kesal, Bian malah memeganginya Una dan bukan dirinya.
"Aku bilang lepaskan." Teriak Luna menggerakkan badan agar pegangan Wan terlepas. Tapi sepertinya percuma. Pria itu lebih kuat darinya.
"Kau sekarang ku pecat." Tunjuk Bian pada Luna. "Wan, bawa pergi..."
"Baik Tuan."
"Bian... kau tak boleh seperti ini. Wanita itu pelacur." Luna tetap mengoceh meski Wan sudah menggeretnya pergi.
"Sayang..." Panggil Bian pada Una yang duduk di sofa menundukkan kepala.
"Kenapa menangis?" Bian membawa tubuh Una dalam pelukannya. Hatinya teriris mendengar suara tangisan pilu Una. Pria itu mengelus kepala Una untuk menenangkan sang istri.
"Apa Mas menganggapku pelacur?" Tanya Una mengangkat kepala menatap Bian. Wajahnya penuh dengan air mata.
"Apa yang kamu katakan? kamu itu istriku. Hanya istriku. Kamu itu istri Bian Arkana. Tak ada yang boleh memanggilmu selain itu." Bian mengusap air mata Una.
"Aku bukan anak kecil." Cibir Una.
"Jadi nggak mau es krim?" Tanya Bian meyakinkan.
"Mau." Ucap Una berwajah cemberut.
Bian jadi tersenyum, "Ayo kita beli es krim." Pria tampan itu bangkit dan menggandeng tangan Una.
"Tunggu dulu..." Una membuka tasnya dan akan membenarkan make upnya. "Aku malu keluar dengan wajah sembab seperti ini, orang-orang bakal mengira aku korban KDRT."
Bian malah tertawa mendengar ocehan Una. Sempat-sempatnya berpikir seperti itu.
Tak lama Bian dan Una pun berjalan menuju basement tempat mobil terparkir. Para karyawan melihat Bian yang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita menuju lift.
__ADS_1
'Una...' Batin salah satu karyawan.
###
"Enak?"
Una mengangguk merasakan rasa manis dan dingin mengalir di lehernya. Rasa yang membuat perasaannya membaik.
Una menyodorkan es krim itu ke mulut Bian, pria itu membuka mulutnya. Bian senang Una menyuapinya.
"A'..." Bian kembali membuka mulutnya. Minta disuapi lagi.
"Ini es krim ku. Mas pesan saja sana." Una melahap cepat es krimnya, ia tak mau menyuapi Bian lagi.
Pria itu pun cemberut. "Dasar pelit."
"Katanya bisa beli 100 mall beserta isinya, tapi es krim saja masih minta." Cibir Una menahan tawanya melihat mata Bian yang melotot tidak terima dengan perkataannya.
"Una..." Bian yang kesal menarik pipi Una. Membuat wajah istrinya menjadi lebar.
"Sayang... kamu lucu banget sih." Bian menkecup bibir Una, membuat mata wanita cantik itu membelalak.
"Mas..."
"Kenapa?" Tanya Bian tak mengerti.
Bian mengikuti arah mata Una. Pria itu baru sadar mereka sedang berada di tempat umum. Banyak mata yang melihat ke arah mereka.
"Haha... biar mereka tahu kalau kamu milikku."
.
.
__ADS_1
.