TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 21


__ADS_3

Pagi itu Una memasang wajah datar pada Bian. Ia masih kesal karena Bian tahu apa yang sedang direncanakannya.


Bian yang sedang mengemudi melirik wanita yang memasang wajah datar. Sepertinya wanita itu sedang marah padanya.


Mobil berhenti di depan rumah Bian. Mata Una melihat wanita disamping rumah Bian menatap tajam seperti tidak senang.


Melihat Bian keluar, Una pun ikut keluar dari mobil.


"Sayang..." Panggil Una dengan nada manja.


Pria itu pun berbalik dan menatap Una. Tadi wajah wanita itu begitu datar, kenapa wajahnya sekarang sangat imut. Bahkan suaranya begitu manja.


"Sayang... kakiku sakit." Ucap Una memegang betisnya sambil memasang wajah sedih.


'2 bulan? aku akan berusaha 1 bulan. Setelah itu aku nggak mau berurusan lagi denganmu.'


Bian mengerti kenapa Una bisa berubah. Ternyata Luna sitetangga sebelah rumah sedang melihat mereka.


"Mana yang sakit sayang?" Tanya Bian mengikuti akting Una. Pria itu berjongkok memegang betis wanita itu.


"Betisku sakit.." Wajah sedih dengan mata berkaca-kaca, membuat Bian jadi nggak tega.


Una memegang tangan Bian. Tapi pria itu ternyata langsung menggendongnya. Membuat Una sangat terkejut, tadi ia mengira Bian hanya akan membantu memapahnya saja.


"A-apa yang Tuan lakukan?" Tanya Una berbisik.


"Tenang saja. Apa kita mau langsung ke kamar?" Tanya Bian memasang wajah yang bagi Una sangat menyebalkan.


"Turunkan aku."


"Tenanglah."


'Bian...' Batin Kesal wanita tetangga sebelah rumah melihat Bian menggendong Una memasuki rumah.


"Ada apa ini?" Tanya Mama melihat anaknya menggendong Una.


"Kaki Una sakit Ma." Bian pelan-pelan mendudukkan Una di sofa.


"Cepat panggil dokter." Pinta Mama khawatir.


"Su-sudah nggak apa Tante." Jawab Una cepat.


Mama memerintahkan pelayan rumah untuk membuatkan minum. Bian cukup aneh melihat Mamanya. Ia tadi mengira begitu mereka sampai, mungkin mereka akan melihat piring terbang.

__ADS_1


"Bisa kamu menikah nggak memberi tahu kami." Mama kesal menjewer telinga anaknya. Meskipun Bian sudah besar, pasti Mama selalu menjewernya jika putranya itu bersalah.


"Ma-maaf Ma. Soalnya jika ku beri tahu dan kalian tak merestui. Bagaimana nasib Una dan anakku?" Bian menunjukkan wajah memelasnya.


"Papa dan Mama... maafkan aku yang tak bisa menjadi anak berbakti. Sekarang tolong restui pernikahan kami." Ucap Bian dengan nada serius.


'Dasar tukang akting.'


Suasana terasa sunyi. Kedua orang tua Bian menatap Bian dan Una bergantian. Mereka pun menghela nafas.


"Hmm... Baiklah. Papa akan membicarakan hal ini pada Reno. Agar mereka bisa menasehati Luna, supaya dia mengerti."


'Reno.' Una membatin mendengar nama itu. Nama yang sama dengan nama ayahnya.


"Dan selama masa kehamilan, Una harus tinggal disini." Sambung Mama kemudian. Wanita paruh baya itu sudah bertekad akan merawat cucunya mulai dari dalam kandungan hingga terlahir ke dunia.


"A-apa?" Kompak Bian dan Una bertanya.


"Kami akan merawat Una, ia harus melahirkan cucu kami dengan sehat dan tanpa kekurangan apapun."


"Ta-tapi Ma, kalau kami tinggal disini. Una kemungkinan akan bertemu dengan Luna. Dan tahulah Mama bagaimana Luna. Aku nggak mau melihat istriku ini sedih." Bian mencubit pipi Una berkali-kali.


Una memberi tatapan tajam agar Bian melepas pipinya. Apa pria itu kira pipinya tidak sakit?


Una terpaksa tersenyum dan mengangguk setuju. "Benar Om dan Tante."


"Biasakan panggil kami Papa dan Mama." Ucap Papa memberitahu.


Bian dan Una saling menatap bingung. Kenapa orang tua Bian seperti itu? Apa mereka direstui karena alasan Una sedang mengandung?


"Sudah kamu tenang saja. Papa dan Mama yang akan mengurus Luna. Kamu nggak berangkat kerja? sudah mau punya anak harus rajin bekerja..." Omel Mama panjang dan lebar.


"Baiklah Ibu Suri.."


"Gimana ini?" Bisik Una.


"Kamu disini saja. Ntar sore aku jemput." Bisik Bian.


Mama dan Una mengantar Papa dan Bian sampai teras rumah. Una menyalami Papa sebagai bentuk kesopanan.


Bian menyodorkan tangannya memberi isyarat Una juga harus menyalaminya.


"Aku kerja dulu ya sayang. Kamu disini saja sama Mama." Ucap Bian dengan nada lembut, sambil tak lupa tangannya mengarahkan agar Una mencium pundak tangannya.

__ADS_1


"Kamu jangan rewel ya anak Daddy. Nurut sama Mommy dan Oma." Bian sengaja mengusap perut rata Una. Wanita itu terpaksa tersenyum padahal dalam hatinya ia ingin mencekik pria tampan itu.


"Aku pergi." Bian pun menkecup kening Una dan kedua pipi wanita itu. Lalu ia juga menyalami Mamanya.


Wajah Una langsung memerah karena perlakuan Bian. Ia juga sangat malu, kedua orang tua Bian tersenyum sambil menggelengkan kepala. Seolah sudah wajar saja.


"Ayo kita masuk. Kamu pasti belum sarapan." Mama membawa Una ke dapur setelah Papa dan Bian berangkat kerja.


"Kamu harus makan yang banyak." Mama meletakkan piring Una dengan berbagai masakan yang memang sengaja di buat untuk Una. Ia tadi menyuruh pelayan rumah memasak semua itu. Makanan yang sehat dan bergizi.


"I-iya Tante." Ucap Una gugup dan canggung.


"Kok tante, Mama." Wanita paruh baya itu membenarkan panggilan Una. Karena Bian sudah menikah, maka Una harus memanggilnya sama seperti Bian memanggil mereka.


"Apa si bayi begitu lapar?" Tanya Mama sambil mengelap mulutnya Una dengan tisu.


Una terdiam, Mama mengelap mulutnya membuat ia kembali merindukan Bundanya. Teringat Bunda yang selalu membersihkan mulutnya saat ia sedang makan.


"Orang tua kamu tinggal dimana?" Tanya Mama.


Ditanya begitu, mata Una jadi berkaca-kaca. Disatu sisi ia merindukan Bundanya dan disisi yang lain ia tak tahu dimana mereka.


Una menggeleng pelan. "Saat kecil Una diculik dan terpisah dari orang tua."


Mama menatap sendu mata Una. Ia jadi merasa kasihan.


"Kapal yang akan membawa Una dan anak-anak korban penculikan tenggelam di lautan. Una juga nggak nyangka bisa selamat. Una ditemukan terdampar di pinggir pantai. Dan diselamatkan sebuah keluarga." Cerita Una tentang dirinya. Karena kata Bian tak ada informasi tentang dirinya sebelum terdampar, jadi ia hanya menceritakan setelah kejadian itu saja.


"Apa keluarga itu baik padamu?" Tanya Mama penasaran.


Una menggeleng. "Tidak. Una disuruh mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dan saat sudah bekerja semua gaji Una di ambil mereka. Mereka juga mempunyai hutang pada rentenir dan menjadikan Una sebagai pelunas hutang mereka." Cerita Una dengan perasaan yang cukup tertekan.


'Malangnya nasibmu Nak.' Mama langsung memeluk Una yang tampak begitu sedih. Una pasti sangat tertekan.


Una pun menangis dipelukan Mama. Perlakuan Mama yang begitu hangat membuatnya sedih. Selama ini tak ada yang pernah memeluknya.


"Jangan nangis lagi. Ntar cucu Mama jadi cengeng."


Una menghapus air matanya, ada perasaan bersalah, karena mengikuti Bian berbohong perihal kehamilan.


"Sudah, kamu istirahat sana ke kamar." Ucap Mama setelah Una menyelesaikan makannya.


Una mengangguk patuh.

__ADS_1


__ADS_2