TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 22


__ADS_3

"Tante... Tante..." Panggil Luna memasuki rumah keluarga Bian. Wanita itu berteriak-teriak membuat pelayan rumah pusing.


"Ada apa Nona?" Tanya Tika, salah seorang pelayan rumah.


"Mana Tante Mely?" Tanyanya dengan wajah sinis.


"Ada apa?"


Luna menoleh ke sumber suara. Ia langsung menghampiri Mamanya Bian.


"Tante Mely, mana wanita murahan itu? aku tadi lihat Bian membawanya kemari." Ucap Luna tidak senang.


"Kamu nggak boleh memanggilnya begitu." Mama merasa tidak suka, Luna memanggil menantunya seperti itu.


"Tante... aku nggak mau tahu Bian harus menceraikan wanita itu. Dia itu wanita Club malam, pasti anak dikandungannya itu bukan anaknya Bian." Luna mengatakan kemungkinan yang terjadi.


"Sudahlah Lun, Bian sudah menentukan pilihan. Kamu jangan terus berharap, yang ada kamu akan terus sakit hati." Mamanya Bian mulai menasehati Luna.


Mendengar penuturan Tante Mely membuat Luna tidak senang. Wanita paruh baya itu bisa menerima wanita seperti itu.


"Tante Mely, tante sudah janji sama aku bakal menikahkan Bian denganku. Kenapa sekarang Tante berubah?" Luna menaikkan satu oktaf suaranya.


"Tante sudah merestui Bian dengan kamu. Tapi jika Biannya tidak mau. Mau bagaimana lagi?" Tante Mely juga meninggikan suaranya, ia tak senang Luna sudah mulai kurang ajar.


"Aku nggak mau tahu ya, Tante. Aku mau Bian, dan tante harus membujuknya agar menceraikan perempuan tak tahu malu itu. Bian harus menikah denganku." Luna mengatakannya dengan berapi-api.


"Semua keputusan ada di tangan Bian. Terserah dia mau menikah dengan siapa, itu pilihannya karena dia yang akan menjalaninya." Mely sudah tak mau ambil pusing berdebat dengan Luna. Wanita itu duduk di sofa lalu meminum tehnya.


"Tante..." Pekik Luna tak terima. Mely menatap Luna tak senang, anak bau kencur ini berani meninggikan suaranya.


"Tante sebagai orang tua seharusnya bisa menasehati Bian. Kalian harus ingat kalau nggak karena Ayah membantu keluarga ini, mungkin sekarang tante sudah menjadi gembel di jalanan."


"Luna..."


"Bun-Bunda.." Luna melihat Bunda datang.


Plak


Luna terdiam saat tangan Bunda mendarat di pipinya. Ia memegangi pipinya yang kena tampar.


"Jaga bicara kamu. Bunda nggak pernah mengajarkan kamu bertindak tidak sopan. Cepat minta maaf pada Tante Mely." Pinta Bunda menatap lekat putrinya.


"Bunda..." Luna menangis memegangi pipinya. Ia pun melangkah pergi dari rumah itu.


"Mel... maafkan sikap Luna, ya. Kamu jangan ambil hati ucapannya." Rosa meminta maaf atas nama anaknya.


"Ya sudahlah Ros."

__ADS_1


"Aku minta maaf ya."


Mely menghela nafas dan ia kembali tersenyum. Walau bagaimana pun, sikap Rosa selalu baik padanya, tidak seperti anaknya satu itu.


"Jadi dia dijadikan pelunas hutang sama keluarga yang telah menyelamatkannya. Seperti membalas budi." Ucap Rosa yang telah mendengar cerita Mely.


"Iya, aku jadi kasihan padanya."


"Kamu cari tahulah orang tuanya. Kasihan juga terpisah karena penculikan. Mana dia menjalani kehidupan sulit seperti itu." Rosa juga merasa sedih. Ia jadi teringat jika ia pernah meninggalkan anaknya seorang diri, hingga menjadi penyesalan. Tak bisa melihat sang anak untuk selamanya.


"Bian sudah mencari tahu. Tapi tak ada informasi apapun."


"Jadi sekarang dimana dia?"


"Sedang tidur di kamar. Aku akan merawatnya, agar ia melahirkan cucu yang sehat dan imut." Ucap Mely senang.


"Wah... selamat ya Mel. Sebentar lagi kamu sudah mau punya cucu."


~


"Apa?" Bian meremas tangannya menerima telepon yang membuat ubun-ubunnya panas. Para pelayan di rumah mengadukan tindakan Luna.


'Aku akan membuat perhitungan denganmu.' Dengan langkah lebar, Bian pun pergi meninggalkan ruangannya. Ia pergi ke ruangan Papanya.


"Pa..." Bukan mengetok pintu terlebih dahulu, Bian langsung nyelonong masuk begitu saja.


"Ada apa?"


Pria paruh baya itu pun mendengarkan cerita anaknya.


"Pa, bayar saja berapa puluh kali lipat bantuan mereka saat itu. Agar kita jangan terus termakan budi mereka." Ucap Bian dengan emosi.


"Kamu tahu Om Reno tidak seperti itu. Luna yang memanfaatkan kebaikan Ayahnya. Sudah nanti Papa akan bicara sama Om Reno. Kamu nggak usah pikirkan Luna, pikirkan saja istri kamu."


Bian agak kecewa, tadinya ia pikir Papanya akan marah dan melabrak keluarga Luna. Tapi ia salah, bukan seperti itu orang tuanya bertindak. Ia juga mengingat hubungan kedua orang tua mereka sangat baik.


Sore itu Bian memasuki rumah dan ia melihat kedua wanita mengobrol di ruang tv. Sepertinya sangat asik hingga ia masuk mereka tak menyadarinya.


"Aku pulang." Ucap Bian.


"Kamu sudah pulang." Ucap Mama.


"Iya Ma." Bian menyalami Mamanya dan ia juga menyodorkan tangan pada Una.


Una terpaksa mencium tangan Bian, bahkan terpaksa tersenyum saat pria itu menkecup pipinya.


"Ma... kami akan pulang. Besok kemari lagi." Ucap Bian seraya mengenggam tangan Una.

__ADS_1


"Kan Mama sudah bilang, Una tetap tinggal di sini. Kamu saja yang pulang sana." Seperti biasa Mama menjewer telinga Bian.


"Mama..." Ucap Una merasa kasihan melihat Bian dijewer.


"Pokoknya kamu harus tinggal disini sama Mama." Pinta Mama pada Una.


Una merasa tak enak. Perlakuan Mama begitu hangat padanya. Baru beberapa jam berada di rumah ini, ia seperti mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Kasih sayang dan perhatian yang tak pernah didapatkannya selama ini.


"Kami akan tinggal beberapa hari lagi disini, Ma." Ucap Una akhirnya yang membuat wajah Mama bahagia. Sementara Bian masih meliriknya saja.


"Makasih Una sayang. Sudah sana kamu suruh anak bau ini mandi." Tunjuk Mama pada Bian.


"Ma..." Bian tak habis pikir. Sekarang Mama menganggapnya seperti seorang anak tiri.


Una berdiri di sudut kamar. Ia merasa aneh berada disatu kamar dengan pria itu.


"Bersikap wajarlah, kamu yang mau menginap disini, kan." Ucap Bian yang tahu Una tidak nyaman padanya.


"Mama anda baik. Aku jadi nggak tega." Bela Una.


"Oh ya." Bian menatap tak yakin.


"Iya... Bahkan aku merasa mendapat kasih sayang seorang Ibu." Una tersenyum menundukkan kepala.


"Jadi kamu memanfaatkanku?" Tanya Bian mengintimidasi.


"Ti-tidak Tuan. A-aku nggak begitu. Aku merasa tidak enak saja dengan Mama anda."


Bian mengangguk sambil membuka kancing baju kemejanya. Una menelan saliva melihat itu.


"Tuan, apa yang anda lakukan?" Una kaget Bian melepas kemejanya sembarang arah, hingga menampakkan tubuh six packnya.


"Apa lagi? menurutmu apa yang dilakukan pasangan suami istri di dalam kamar?" Bian sengaja menggoda Una. Ia melangkah mendekati wanita itu.


"Tuan, tolong jaga sikap anda. Tuan, jangan mendekat." Una memperingatkan Bian, tapi pria itu seperti tak peduli dan makin mendekatinya. Hingga Una tak dapat lagi mundur karena terhalang tembok.


"Apa yang ada dipikiranmu? apa kamu memikirkan yang tidak-tidak?" Bian menarik hidung Una sambil tertawa. Wajah Una sangat menggemaskan.


"Apa kamu mau melakukan itu sekarang?" Bisik Bian dengan suara yang sengaja diserakkan. Bisikan pria itu membuat Una merinding.


"Aku mau keluar." Una pun menginjak kaki Bian lalu mendorong dada Bian. Ia gerah dengan pria itu. Terlalu dekat dengan Bian tak baik buat jantungnya.


"Una... kakiku."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2