
"Nenek... aku harus bagaimana?"
Setelah berada di kamarnya, tangisan luna kembali bersambung. Ia menangis sampai terisak-isak.
"Kenapa Bian tidak bisa menerimaku, Nek? kenapa dia bisa mencintai wanita seperti itu? Kenapa wanita itu lebih beruntung dicintai Bian? padahal wanita itu hanya wanita malam. Aku mendapat semua kasih sayang dari kalian, tapi kenapa aku tidak bisa mendapatkan hati Bian, Nek? Kenapa Nek? kenapa?" Luna mengeluarkan segala unek-uneknya sambil menangis. Meratapi dirinya yang tak sedikit pun dicintai oleh pria itu. Tapi dengan begitu mudahnya Bian menjatuhkan hati pada wanita yang tak jelas asal usulnya itu.
Nenek tak bisa berkata-kata, wanita tua itu hanya mampu mengelus pundak sang cucu. Ia menghela nafas, mungkin jika Bian cucu kandungnya akan lebih muda membujuknya. Tapi Bian hanya orang lain, yang tidak mudah mengikuti perkataannya.
"Nenek... lebih baik aku mati saja." Luna pun bangkit dan berlari keluar kamar.
"Luna-Luna..." Panggil Nenek akan mengejar Luna.
Nenek hanya wanita tua yang tak sanggup mengejar Luna yang sudah menuruni tangga. Wanita muda itu akan menuju dapur.
"Kak Lun..." Adit merasa aneh melihat Luna yang berjalan tergesa-gesa.
'Aku harus mati baru bisa melupakanmu, Bian.' Luna mulai berpikir diluar nalar. Mana mungkin ia dapat menjalani hidup tanpa Bian.
Luna berjalan menuju dapur. Membuat para pelayan yang sedang berada di dapur terkejut. Ia pun mengambil sebuah pisau di dalam laci.
"Kak Lun... lepaskan pisau itu." Bujuk Adit pelan melihat Luna mengarahkan pisau ke tangannya sendiri. Kakaknya seperti ingin memotong urat nadinya.
"Luna sayang, ayo lepaskan pisaunya." Nenek yang baru sampai dapur dengan ngosh-ngoshan juga ikut membujuk. Ia kaget melihat tingkah Luna.
"Aku nggak mau. Untuk apa aku hidup jika Bian tidak bersamaku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dirinya..?" Air mata Luna bercucuran, ia makin mendekatkan pisau itu ke pergelangan tangannya. Mungkin mati akan lebih baik dari pada menderita seperti ini.
"Luna... Ayo lepas pisau itu. Kita bisa bicarakan baik-baik." Bunda juga membujuk Luna, wanita paruh baya itu sampai menangis. Ia tak pernah berpikir Luna akan senekat itu.
"Aku nggak mau. Aku hanya ingin Bian, jika tidak aku akan mati saja." Luna akan menancapkan pisau itu.
"Luna..." Pekik Bunda ketakutan melihat sang anak. "Baiklah, kita akan bicarakan dengan Bian." Bujuk Bunda agar Luna tak meneruskan aksinya.
"Dia tetap akan menolakku Bunda." Luna mengatakannya sambil terisak.
Bunda menarik nafasnya, "Bunda yang akan membujuknya."
"Benar Bun?" Tanya Luna menatap sang Bunda.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu mengangguk. Meski ia sendiri juga nggak tahu nanti membujuk Bian seperti apa. Apa menyuruh pria itu menceraikan istrinya? Entahlah, yang terpenting sekarang Luna mau melepaskan pisau itu.
"Sayang. Kamu nggak boleh seperti ini." Wanita itu menghampiri sang anak, karena Luna sudah melepas pisau itu. Ia memeluk Luna erat. Mereka berdua sama-sama menangis sambil berpelukan.
"Ayo Bunda antar kamu ke kamar."
Luna mengangguk, ia di papah Bunda menuju kamarnya di lantai 2.
###
Malam itu Una melihat Bian yang sedang fokus melihat hp. Pria itu duduk menyenderkan pundaknya di ranjang.
"Mas..." Panggil Una yang berbaring di samping Bian.
"Apa sayang?" Bian melirik wajah Una. Ia ingin tertawa saja melihat wajah Una yang berubah merah.
Una merasa dirinya sekarang mudah baperan dengan pria ini. Bian memanggilnya sayang saja membuat hatinya jadi bahagia, seakan melayang terbang.
"I-i-tu... itu..." Masih juga dilihati Bian, Una sudah gugup dan kikuk. Jadi Lupa apa yang mau dikatakannya pada Bian.
"I-itu Mas, aku mau-mau-mau minta bantuan Mas Bianku." Meski dengan gugup Una berusaha menyampaikan niat hatinya.
Una mengangguk pelan. "Boleh?"
"Kakiku pegal, tolong kamu pijat dulu." Pinta Bian menggerak-gerakkan kakinya.
Wajah Una yang tadinya tampak imut berubah menjadi datar.
"Bagaimana aku akan membantumu jika kakiku sakit." Ucap Bian dengan santai.
Dengan terpaksa Una pun bangkit dan memijat telapak kaki pria itu.
'Kenapa kakinya besar sekali? apa dia kingkong?' Batin Una melihat kaki Bian yang lebih besar dari kakinya. Wajarlah namanya juga kaki pria.
"Kalau kamu terpaksa, sudah tidak usah memijat.."
"Siapa yang terpaksa." Una memotong ucapan Bian, wanita itu pun memijat kaki Bian.
__ADS_1
"Naik lagi."
"Lagi."
"Naik lagi Una."
Wanita itu mengukuti ucapan Bian, kini ia sudah memijat sampai dengkul Bian.
"Ke atas lagi."
"Lagi Una."
"Ke atas lagi."
Una menelan salivanya, jika makin ke atas-atas lagi, tangannya akan mengenai area itu. Una diam dan tak mau mengikuti ucapan Bian, tangannya hanya memijat sampai paha pria itu.
"Kalau kamu memijat di situ terus pahaku bisa bengkak, jadi kamu harus memijat semuanya sampai sini." Bian menunjuk area itu.
"Una.."
"Una sayang."
"Unaku sayang.."
Wanita bernama Una itu diam saja, tiba-tiba ia menjadi budeg sekarang.
Una merasa merinding saat hembusan nafas Bian terasa di telinganya. Sepertinya jarak pria itu sangat dekat dengannya, membuatnya sulit berkata bahkan bergerak.
"Una sayang... kamu nggak mau melihatnya." Bisik Bian dengan suara yang begitu menggoda. Ia memegang tangan Una dan akan mengarahkan ke area itu.
Una berkali-kali menghela nafas, ia mengalihkan pandangannya ke mana saja asal bukan pada Bian dan area itu.
"Aku lapar..." Una mendorong tubuh Bian, wanita itu bangkit dan langsung kabur keluar kamar. Hawa di kamar itu membuatnya panas dan berkeringat.
"Una... Una. Seharusnya kenalan dulu biar jinak." Bian tertawa sambil menggelengkan kepala.
.
__ADS_1
.
.