
"Bian... kamu kenapa masih bersama wanita ini?" Luna datang menunjuk Una tak senang. Ia sangat emosi, Bian begitu mesra dengan wanita yang paling dibencinya itu.
"Lepaskan Bian. Dasar wanita murahan." Hardik Luna akan melepaskan tangan Bian yang merangkul Una.
"Luna, hentikan!" Bentak Bian kesal, ia pun mendorong Luna hingga jatuh.
"Jika kau menghina istriku lagi, aku tak akan segan mencebloskanmu ke penjara." Tunjuk Bian pada Luna yang menangis di lantai. Pria itu sudah tak peduli, meski ada orang tua Luna di sana. Tingkah Luna benar-benar membuatnya muak.
"Ayo sayang." Bian pun menggandeng Una menuju kamar mereka.
Sementara Una masih bingung. Ia masih melihat pria paruh baya itu, yang juga menatapnya lekat.
"Bian Bian... Aku tak akan melepaskanmu untuk wanita seperti itu." Luna memanggil nama pria yang tak memperdulikannya.
"Luna, ayo pulang." Bunda membantu Luna berdiri.
"Bunda, aku mau Bian. Bian harus menikah denganku." Luna kembali menangis.
"Sudah, lupakan saja Bian. Mel, maafkan Luna ya." Rosa menarik Luna, tapi Luna yang keras kepala seakan tetap tak mau beranjak dari sana.
"Mas Reno.." Panggil Rosa kemudian.
Reno pun tersadar dan bingung melihat Luna ada disana dan sudah terduduk di lantai. Ia dari tadi hanya fokus melihat Una. Putri kecilnya yang sudah tumbuh dewasa.
"Mas Reno, kita bawa Luna pulang." Pinta Rosa yang kesal melihat Reno yang hanya bengong.
Reno pun mengangguk dan menarik Luna. Karena Luna tak mau bergerak, Reno pun menyeretnya pergi.
"Ma, jika Una memang anak mereka. Berarti Una kakaknya Luna?" Tanya Papa memastikan.
"Iya, ya Pa." Mama menutup pintu rumah, ia menyetujui ucapan Papa.
###
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Bian yang melihat Una melamun duduk di kursi nakas.
"Nggak Mas." Jawab Una cepat sambil melanjutkan ritual perawatan kecantikan.
'Itu Ayah, kan? aku yakin itu Ayah.' Una berusaha untuk mengingat kembali.
'Mereka pasti orang tuaku. Aku harus bertanya kenapa mereka tidak mencariku selama ini?' Una akan meyakinkan hatinya.
"Sayang.."
"Astaga..." Una repleks mendorong wajah Bian yang akan mendekat padanya. Entah sejak kapan pria itu telah berada di sampingnya.
"Aduh!" Bian memegang pipinya.
"Maaf Mas, maaf. Aku repleks. Mas Bian buat kaget saja." Una mengelus-elus wajah Bian.
"Kamu dari tadi di panggili nggak dengar. Sakit pipiku ini." Wajah Bian memelas menunjuk pipi kanan dan kirinya.
Cup
Cup
Cup
"Yang ini?" Bian menunjuk bibirnya.
Una menggeleng cepat.
"Mas Bian bau." Wanita cantik itu menahan tawa melihat Bian yang langsung mendekatkan wajah ketiaknya.
"Nggak terlalu bau kok." Cengir Bian. "Baiklah sayang. Mas Bianmu ini mandi dulu ya."
Bian melangkah menuju kamar mandi. Tapi ia kembali berbalik menghampiri Una.
__ADS_1
Pria itu mencium bibir Una yang begitu menggoda sejenak. "Aku mencintaimu." Setelah mengucapkan perasaannya, ia pun menuju kamar mandi.
'Apaan sih dia?!' Una menutup wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Mana hatinya berdebar-debar lagi.
Una duduk di sofa sambil menonton tv. Tapi hati dan pikirannya melalang buana. Apa mereka orang tuanya atau hanya halusinasi saja?
"Sayang..." Bian duduk disamping Una dengan rambut yang masih basah.
Una pun bangkit dan mengambil handuk.
"Mas Bianku, rambutnya ini di keringkan dulu." Dengan perlahan Una mengeringkan rambut Bian.
"Aku nggak mau nanti Mas Bianku sakit."
"Aku akan selalu sehat. Biar bisa selalu bersama denganmu menjalani kehidupan ini." Pria itu menunjukkan senyum menawan, membuat Una jadi kikuk.
"Lihat ototku besarkan, Na. Ini hasil ngegym aku selama ini." Bian memamerkan tonjolan dilengannya.
Una tak merespon, ia masih mengelap rambut Bian .
"Tapi yang di bawah lebih besar." Bisik Bian tepat di telinga Una.
Ucapan Bian mengotori pemikiran Una sesaat.
"Kamu mikir apa? kakiku lebih besar kan?" Bian sengaja menggoda Una. Dari yang dilihatnya sepertinya Una sudah berpikiran hal lain.
"Keringkan sendiri." Una menutup wajah Bian dengan handuk dan segera menuju ranjang.
"Sayang, tapi yang itu juga besar lho." Bian tertawa puas melihat Una menutupi dirinya dengan selimut. Ia paham, jika sedang malu Una akan menutup dirinya dengan selimut.
'Dasar Bian mesum.'
.
__ADS_1
.
.