TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 33


__ADS_3

Di ruang tamu, Una menatap wanita paruh baya itu. Perasaannya tak menentu sekarang. Ia  merasa wanita itu adalah Bundanya, tapi kadang merasa tak yakin dan takut salah orang.


'Ini Bunda, kan? apa Bunda tak mengenaliku?'


"Aku mau minta maaf sama kamu Mel, sama Una juga. Perihal tadi malam mertuaku dan Luna datang kemari. Mereka pasti mengatakan hal yang menyakitkan..." Rosa meminta maaf atas nama mertua dan anaknya.


Una tak mendengar ucapan Rosa, ia masih berkecambuk dengan pikirannya sendiri. Berusaha mengingat wajah Bundanya yang sudah mulai samar. Ia benar-benar tak bisa mengingat dengan jelas wajah Bundanya kala itu, hingga ia ragu apa wanita ini adalah Bundanya? ataukah hanya karena nama yang sama membuatnya seakan sama, padahal mereka adalah orang yang berbeda.


Una memegang kepalanya, wajah Bunda yang samar-samar terus memenuhi pikirannya. Ia berusaha mengingat saat-saat masih bersama Bundanya dulu. Saat Bunda memanggil namanya. Tapi ia merasa kesal, kenapa wajah itu tetap saja tak jelas dan membuat kepalanya semakin pusing.


"Una... kamu nggak apa sayang?" Tanya Mama khawatir melihat Una memegang kepalanya. Air mata Una berlinang seperti sedang menahan kesakitan.


"Mel... aku panggil dokter ya." Rosa sama takutnya melihat wanita muda itu. Ia pun segera menelepon dokter.


Tak berapa lama dokter telah memeriksa keadaan Una. Kini wanita muda itu sudah tidur di ranjangnya.


"Dok...bagaimana keadaan menantu saya?" Tanya Mama sambil matanya melihat Una di ranjang. Ia benar-benar sangat khawatir.


"Pasien mengalami stres, kami sudah memberikan obat pereda. Perlu istirahat dan jangan banyak berpikir." Jelas Dokter.


"Baik Dok. Bagaimana dengan bayinya?" Tanya Mama.


"Bayi?"


###


Bian keluar dari ruang rapat diikuti Wan dari belakang. Ia ingin kembali ke ruangannya. Tapi saat sampai ia menghela nafas melihat orang yang berada di dalam ruangannya.


"Kenapa dia bisa di sini? siapa yang membiarkannya masuk?" Tanya Bian dengan sorot mata tajam.


"Maaf Tuan.." Wan segera menghubungi petugas keamanan.


"Bian... aku datang bawa sarapan untuk kamu. Kamu pasti belum sarapan, kan? wanita itu mana bisa memasak makanan seperti ini." Ucap Luna menunjukkan kotak makanannya.


"Aku tidak butuh sarapan darimu. Kenapa lama sekali? Wan." Teriak Bian ingin segera Luna meninggalkan ruangannya.


"Bian... aku masak buat kamu lho..."

__ADS_1


Beberapa petugas keamanan masuk dan menggeret paksa Luna. Walaupun Luna memanggil Bian, pria itu tak peduli.


"Halo Ma..." Ucapnya mengangkat telepon dari Mamanya.


...


"Apa???"


Mendapat telepon dari sang Mama, Bian langsung bangkit.


"Wan... urus semuanya. Aku ada urusan penting." Bian langsung bergegas. Pria itu begitu sangat tergesa-gesa.


Di perjalanan pulang, Bian melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Menyalip dan mendahului mobil-mobil sepanjang perjalanan. Ia ingin segera sampai, mendapat kabar dari Mamanya bahwa Una sakit, membuat pikirannya tak menentu.


Sampai rumah, Bian memarkirkan mobilnya asal. Ia pun masuk.


"Mana Una Ma?" Tanyanya saat melihat Mama.


"Di kamarnya."


Dengan langkah lebar, Bian melangkah menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar dan kaget melihat Una.


Una yang kaget melihat Bian. Wajah Una sudah penuh dengan air mata.


"Ada apa?" Tanya Bian berjongkok di samping Una.


Una tak ada bicara, ia tak ingin mengatakan apa yang sedang dirasakannya. Tapi hatinya saat ini begitu sesak, begitu banyak hal yang ingin ia luapkan.


"Jangan menangis. Kamu bisa katakan padaku, aku pasti membantumu." Bian memeluk tubuh Una yang begitu lemah.


Air mata Una makin berlinang, membasahi kemeja Bian. Suara isak tangisnya makin jelas terdengar. Sungguh begitu menyedihkan.


Bian bersender di dinding sambil menepuk-nepuk pelan punggung Una yang masih berada di pelukannya. Isak tangisnya sudah tidak terdengar lagi, mungkin ia sudah tidur.


"Bian... bagaimana..." Ucapan Mama terhenti melihat perlakuan Bian. Putranya itu tampak begitu sangat menyayangi istrinya.


"Mama..." Bian tersadar melihat Mama yang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Mama buatkan makanan, kamu suruh Una untuk makan." Mama meletakkan nampan berisi makanan di atas meja nakas.


"Baik Ma. Makasih Ma."


Setelah Mama pergi, Bian menggendong Una ke ranjangnya. Meletakkan dengan perlahan, agar tak membangunkannya.


Bian mengusap air mata yang masih tersisa. Menatap dalam wajah Una yang begitu sangat sendu. Sepertinya ia sangat sedih.


Setelah menyelimuti Una dan memberikan kecupan di kening Una. Bian pun keluar dari kamar. Ia ingin bertanya pada Mama, kenapa Una menangis.


"Apa ia sedih karena perkataan Nenek dan juga Luna, ya?" Tebak Mama.


"Apa setelah aku pergi Nenek kemari?" Tanya Bian memastikan.


"Tidak, tante Rosa yang kemari meminta maaf."


"Apa tante Rosa mengatakan hal yang menyakitkan?"


"Tante Rosa tak mengatakan apapun. Ia hanya meminta maaf atas kedatangan mertua dan anaknya ke rumah kita tadi malam." Jelas Mama.


"Bian... apa kamu yang membuat Una stres??" Tanya Mama dengan sorot mata tajam.


"Aku?" Menunjuk diri sendiri bingung dengan tuduhan sang Mama.


"Dokter bilang, Una stres. Ia tidak boleh banyak pikiran. Pasti selama ini kamu yang buat menantu Mama banyak pikiran kan." Seperti biasa Mama menjewer telinga Bian.


"Aduh Ma, sakit." Bian mengusap-usap telinganya yang sudah merah. "Mama... aku tidak pernah membuat istriku stres."


"Kamu bilang Una hamil padahal ia belum hamil. Kamu pasti yang terus menekan dan menuntut Una untuk segera hamil. Kamu nggak boleh begitu Bian, perempuan itu sensitif. Biarkan saja semua berjalan dengan semestinya. Walau kamu sangat menginginkan anak, kamu harus bersabar. Semua butuh waktu..." Repet Mama memarahi Bian.


"Ma... Aku mau lihat Una." Bian pun segera kabur. Ia tak mau mendengar repetan Mama, yang ujung-ujungnya telinganya yang akan jadi santapan empuk sang Mama.


"Bian..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2