
"Pi-pi-pi-piton?" Otak Una mulai berpikiran jauh.
"Mas, aku tunggu diluar saja." Una melepas tangan Bian, wanita itu pun memakai jurus langkah seribu keluar ruangan.
"Dasar plin plan." Bian mendengus kesal melihat Una keluar dari ruangannya. Dengan menghela nafas panjang, ia pun masuk kamar mandi.
Beberapa waktu kemudian, Bian keluar dari kamar mandi dan tak melihat sang istri. Ia pun menelepon Una.
Bian melangkahkan kaki meninggalkan ruangannya. Una mengatakan jika ia sudah menunggu di lobi.
Sementara di Lobi, Una mengobrol dengan Ziva.
"Aku punya nomor Mas Dino." Ucap Una memberitahu.
"Astaga, Una... jangan menjodohkanku dengan Dino."
"Mas Dino baik lho Va. Ia itu pria pekerja keras. Sudah baik tampan lagi. Paket komplit itu." Una sekarang seperti sales, merekomendasikan Dino.
"Una..." Ucap Ziva kaget melihat pria yang berdiri di belakang wanita itu.
"Aku yakin jika kau sama dia, kau pasti akan bahagia. Aku saja dulu sempat naksir sama mas Dino lho. Jika tak ada mas Bian, aku pasti sudah dekati Mas Dino." Una tak sadar ada pria yang menatapnya tajam atas ucapannya tersebut.
"U-una..." Ziva memberikan menaikkan alisnya, agar Una melihat ke belakang.
"Mas Dino orangnya ramah. Nggak seperti mas Bian pemarah, tukang ngatur dan dia itu juga tukang ancam." Bukannya mengerti kode Ziva, Una malah membahas perlakuan Bian padanya dulu.
"Pak Bian." Ucap Ziva akhirnya.
Mata Una terbelalak, ia menepuk mulutnya yang ceplos menceritakan Bian. Ia menatap Ziva kesal, kenapa tak memberitahunya jika Bian ada dibelakangnya.
"Mas-Mas Bianku, kita kau kemana?" Una menjadi gugup melihat wajah tak bersahabat itu.
"Ayo pulang." Bian pun melangkah kaki, tanpa menggandeng Una.
"Aku pulang dulu ya." Una melambaikan tangan ke Ziva, ia pun segera berlari menyusul Bian.
Setelah sampai di rumah, Bian berlalu pergi tanpa mengatakan apapun. Tadi juga di jalan pria itu mengacuhkannya.
"Mas..." Una menahan tangan Bian yang akan masuk kamar mandi.
"Apa?" Nada suara Bian yang begitu dingin membuat Una takut. "Aku mau mandi."
Bian tak bisa beranjak karena Una masih menahan tangannya.
"A-aku minta maaf." Una menunduk tak berani menatap mata yang begitu tajam.
"Apa kamu masih menyukai mas Dinomu itu?" Tanya Bian penuh penekanan.
Una menggeleng cepat. "Tidak."
"Jadi?" Bian berharap wanita itu mengatakan satu hal yang ingin didengarnya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mendekatkannya dengan temanku. Itu saja." Aku Una cepat.
"Aku mau mandi. Tolong lepaskan tanganmu." Pinta Bian makin kesal. Seharusnya Una membujuk dirinya.
Mendengar itu Una menatap Bian. Perlahan tangannya melepas tangan pria itu.
'Apa aku nggak ada di hatinya.' Bian berdiri dengan air shower yang mengguyur tubuhnya. Ia ingin mendinginkan pikirannya, ucapan Una membuatnya kesal.
Bian kesal Una membanggakan pria lain dan bukannya membanggakan dirinya. Walau yang Una bilang tentangnya dulu benar adanya. Dan lagi wanita itu begitu sangat sulit mengungkapkan perasaannya.
###
"Bun, tak perlu seperti ini." Una merasa tak enak hati. Bunda membawanya ke sebuah kamar.
"Kamu anak Bunda. Jadi sekarang ini adalah kamar kamu." Bunda mengelus kepala Una. Ia menempatkan kamar Una di lantai 2. Sebelah kamar Luna dan Adit. Ia berharap Una dan Luna bisa akur.
"Ta-tapi Bun.." Wanita muda itu masih bingung .
"Kamu nanti bisa menginap disini dengan Bian."
Tiba-tiba wajah tak senang menghampiri mereka. "Bunda, ada apa ini?"
"Bunda menunjukkan kamar. Sekarang ini kamar Una, Kakakmu."
"Kakak?" Luna merasa jijik mengatakannya.
"Bun, untuk apa wanita itu tinggal disini?" Luna masih menatap Una tak suka.
"Dia bukan kakakku? dia itu penipu, Bun." Pekik Luna menatap Una.
"Luna..."
"Bunda sudahlah. Una pamit pulang saja." Una tak mau berdebat dengan adiknya itu.
"Aku akan mengizinkanmu tinggal di rumah ini dengan satu syarat."
Langkah Una berhenti dan menoleh ke belakang.
"Aku tak butuh izinmu, selama Ayah dan Bunda mengizinkanku." Jawab Una yang mulai kesal. Kenapa ia harus meminta izin adiknya itu untuk tinggal di rumah orang tuanya sendiri.
Luna meremas tangannya. "Kau. Aku membencimu."
Luna menghampiri Una dengan emosi. Tangannya melayang akan menampar Una.
"Aw..." Luna meringis menahan tangannya yang ditahan Bian.
"Apa kau tak mengerti ucapanku?" Bian mendorong Luna dengan cukup kuat, hingga membuat wanita itu jatuh.
"Bian, kenapa kau begitu tega hanya demi wanita malam ini-"
"Diam! aku bilang diam. Yang kau katakan wanita malam itu adalah istriku. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya."
__ADS_1
Una diam mendengar perkataan Bian. Ia menatap Bian dengan mata berkaca. Rasanya ingin menangis saja..
"Tante Rosa sebelumnya aku minta maaf. Besok aku akan menuntut wanita ini karena menghina istriku." Tunjuk Bian pada Luna.
"Bian, kau tidak boleh begini." Pekik Luna yang tak terima. Bian akan menuntut dirinya hanya demi wanita seperti itu.
Bian menggandeng Una pergi.
"Mas..."
Begitu masuk kamar, Una langsung memeluk Bian dari belakang.
"Mas..." Una pun menangis memeluk erat tubuh tegap itu. Tubuh yang selalu membuatnya aman dan nyaman.
"Sudahlah, jangan menangis." Bian membawa tubuh Una ke hadapannya. Menghapus air mata itu.
"Aku mau minta maaf soal perkataanku tadi. Tapi apa yang kukatakan memang benar adanya. Tapi aku juga minta maaf, tak seharusnya mengatakan hal seperti itu. Tapi Mas Bian yang saat itu kan memang seperti itu. Mas-"
Bian mendaratkan satu ciuman, ia tak mengerti apa yang dikatakan Una sekarang, lebih tepatnya ia tidak peduli.
Una membalas setiap ******* yang diberikan Bian. Saat ini yang ada dipikirannya hanya pria ini seorang. Pria yang selalu memenuhi pikirannya.
"Aku mencintaimu." Bian mengungkapkan perasaannya lagi. Melonggarkan pernyatuan bibir mereka. Nafas keduanya saling memburu.
"Aku..."
"Ya." Bian kembali menatap lembut mata itu. Wajah Bian begitu berharap, ia menunggu ucapan Una selanjutnya.
"Aku-aku mau Mas Bianku, tidak menuntut Luna."
Bian menghela nagas panjang, selalu Una memberikannya harapan palsu.
"Aku akan menuntut dia dan mencebloskannya kedalam penjara." Ucap Bian tegas sambil meremas tangannya. Ia ingin Luna mendekam di penjara, jadi tak bisa mengganggu mereka lain.
"Mas Bianku, jangan ya. Luna itu masih adikku. Walaupun dia tidak menyukaiku, tapi aku tak mau ia dicebloskan ke penjara."
Bian menggeleng.
"Tak ada yang bisa menghalangi keputusanku."
"Mas Bianku... jika Mas tidak menuntut Luna, aku akan melakukan permintaan Mas."
"Baiklah. Kamu sudah berjanji."
Una merinding melihat senyuman penuh arti tersebut. Ia sudah tahu apa yang diinginkan pria itu.
'Bian mesum.'
.
.
__ADS_1
.