Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
J.J Adalah Jeaven Jesslyn


__ADS_3

"Lebih baik kau bunuh saja aku!" Brent langsung menyembur omelan sedetik pintu apartemen Jeaven terbuka. Kedua lubang hidungnya mendengus kembang kempis seperti seekor banteng yang sedang murka.


Sementara Jeaven masih terpaku di ambang pintu belum ingin bersuara. Pembawaannya masih tenang seperti orang tak memanggul dosa.


"Menjadi manajermu membuat aku harus meletakan kepala di kaki dan kaki di kepala. Tensi darahku bisa jebol! Jantung serasa sudah merosot di ujung jempolan kaki. Apa kau tahu itu?"


"Aku tidak tahu," jawab terkesan super santai.


"Makanya aku kasih tahu biar kau tahu," sahut Brent secara spontanitas dengan suara yang tiba-tiba sedikit melunak. Seakan lupa kalau emosinya baru saja meledak-ledak. Namun, sedetik kemudian ia langsung tersadar dan kembali memasang wajah galak. "Kau ini benar-benar ya! Bisa-bisanya berkata santai seperti itu! Aku ini sedang marah!"


"Iya, aku tahu."


"Ya Tuhan ... cabut saja nyawaku." Brent kian dibuat frustrasi oleh tingkah si anak pantauannya itu. Diayak kasar kepalanya seakan sedang diserang koloni kutu.


"Bisakah kau tenang dulu?" pinta Jeaven yang sedikitpun tak berciut nyali kendati Brent sedang mengamuk.


"Tenang dulu katamu? Aku kelimpungan karena kau nekat terbang ke London tanpa ijin terlebih dahulu, tanpa berpikir begitu banyak kosekuensi yang akan diterima. Aku bahkan sampai pingsan saat mendengar kabar pesawat yang membawamu kembali mengalami kecelakaan maut. Dan apa ini, kau bahkan tidak segera mengabariku kalau ternyata selamat dan baik-baik saja. Kau anggap apa aku ini?"


Brent terus berceramah tanpa titik koma. Jeaven bahkan tak berkesempatan untuk bersuara. Hingga munculnya sosok Jesslyn sukses mendinginkan suasana.


"Paman Brent, maaf ya. Ini semua karena aku yang salah. Jeaven nekat menemuiku karena aku terlalu bersikap egois dan kekanak-kanakan. "Jesslyn memasang wajah rasa bersalah sembari tangan mengusap perutnya.


"Ini bukan salahmu, Jesslyn." Amarah yang semula meletup-letup mendadak sirna. Wajah melas Jesslyn sukses melunakkan hatinya. Mana bisa ia terus berang di kala mahluk cantik itu memohon iba? Apalagi dia juga memiliki seorang putri juga. Melihat Jesslyn tentu jiwa keayahannya muncul seketika.


Jeaven tidak kaget akan perubahan Brent yang secara signifikan. Pesona Jesslyn memang tak terbantahkan. Sekali saja istrinya itu mengeluarkan jurus puppy eyes hati yang keras seketika luluh tanpa alasan.


Berani-beraninya Jesslyn memasang wajah menggemaskan itu di depan pria lain.


Meskipun seperti itu rupanya hati Jeaven tidak suka. Keposesifan mengundang dorongan cemburu di rongga dada. Tidak pandang bulu tentang Brent yang usianya sepantaran dengan ayahnya. Yang dia ingin segala keimutan yang ada pada Jesslyn hanya miliknya saja.


"Paman, masuklah dulu. Aku akan buatkan minum. Kau pasti haus setelah berceramah." Sebagai bentuk kesopanan Jesslyn tak berniat membiarkan tamunya berdiri terlalu lama di depan pintu.


"Baiklah, terima kasih." Brent berjalan melewati bingkai pintu dan diikuti Jeaven.


"Paman, Callena tidak datang bersamamu?" Jesslyn masih melongok ke luar pintu, berharap putri Brent itu juga ikut bertamu.


Belum lama Jesslyn bertanya bahkan Brent pun belum sempat menjawab, sosok yang dicari tiba-tiba terlihat mata. Dari jauh Callena tampak berjalan mendekati Jesslyn yang mulai menyapa.


"Aku senang kau datang." Jesslyn menyambut Callena dengan pelukan bersahabat.

__ADS_1


"Terima kasih." Callena sedikit mengurai pelukannya. Bahasa matanya mengisyaratkan sebuah makna. "Maaf ya sudah merepotkanmu."


"Sama sekali tidak repot. Aku hanya tinggal kirim pesan kepada Jaeden dia pasti akan datang."


"Sekali lagi terima kasih, Jesslyn," ucap Callena dengan perasaan haru.


Jesslyn mengulas senyum. "Masuklah dulu."


"Iya."


Sementara di ruang tamu, Brent dan Jeaven tampak berbicara serius.


"Owner pabrikan sponsor menunjukkan kecewanya jika kau absen pada ajang balapan di Paris. Ditambah lagi tidak ada alasan kuat bagimu untuk absen. Jika kau bertindak teledor bisa sangat merugikan tim di kejuaraan dunia MotoGP. Kau juga berpotensi dipecat dari tim. Belum lagi banyak rivalmu yang akan memanfaatkan kesalahanmu untuk dijadikan bahan berita. Kau tahu 'kan apa imbasnya nanti? Jalan karirmu akan tergoncang," terang Brent sekaligus mengingatkan Jeaven. Kendati sering dibuat pusing tujuh keliling tetap saja kepedulian kepada sang Ice Gun J.J itu ada.


"Iya, aku paham."


Terus terang Jeaven tak menyangka akan potensi resiko yang akan diterima. Pihak sponsor seolah melupakan prestasinya selama ini hanya karena sekali kesalahan saja. Sebenarnya ini bukan masalah besar bagi Jeaven meskipun dia dipecat ataupun menjadi sorotan berita. Masih ada pabrikan sponsor lain yang akan membuka lebar pintu untuk menyambutnya.


Namun, keberuntungan yang ada pada seorang Jeaven belum tentu dimiliki anggota tim lainnya. Dia juga tahu kalau Brent juga berpotensi dipecat sebagai manager timnya. Dia tidak mau hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga.


"Bagus kalau kau paham." Sebisanya mungkin Brent mengatur emosinya agar tidak kembali meledak. "Jadi sekarang kita langsung berangkat ke Paris. Aku juga sudah memesan tiket pesawat untukmu. Penerbangan ke sana tidak butuh waktu dua jam. Sesampainya di sana kau masih ada waktu untuk mengikuti sesi latihan bebas dan kualifikasi."


"Kau segeralah berangkat, jangan buat karir yang selama ini kau perjuangkan hancur karena sekali absen." Di saat Jeaven yang tengah gamang suara Jesslyn menyelusup ke dalam percakapan. Wanita itu rupanya sempat mendengar saat Brent memberi laporan.


"Aku akan berbicara dengan istriku dulu," ucap Jeaven kepada Brent sebelum membawa Jesslyn ke kamar.


"Kau serius?" Jeaven menatap lekat netra Jesslyn yang ternyata sudah mulai basah.


"Aku serius."


Jeaven merangkum kedua pipi Jesslyn. "Tapi kenapa kau menangis?"


"Karena jauh denganmu itu sangat berat. Aku pasti akan disiksa kerinduan, tapi aku juga tidak ingin karirmu hancur." Awalnya Jesslyn ingin terlihat tegar di depan Jeaven nyatanya dia malah terisak dan tak tahan menahan air mata.


Dipeluk erat tubuh sang pujaan hati yang mulai bergetar, Jeaven kian dirundung rasa tidak tega. "Bagaimana aku bisa pergi kalau kau seperti ini?"


Jesslyn gegas mengurai pelukan dan menatap yakin wajah Jeaven. "Aku sungguh tidak apa-apa. Wajar 'kan jika aku nangis. Setiap istri pasti melakukan hal yang sama jika akan berpisah dengan suaminya." Ia mengalungkan tangan di leher Jeaven yang terlihat menyimpan kebimbangan. Dikecup bibir suaminya itu dan diakhiri dengan senyuman. "Aku akan sabar menunggumu pulang. Lima bulan itu tidak lama."


Keraguan Jeaven berangsur-angsur memudar. Kendati rasa berat hati masih menguar. "Selama aku pergi kau tinggalah bersama orang tua. Jangan tinggal sendiri."

__ADS_1


"Baiklah."


"Jangan pergi sendirian."


"Iya."


"Makan makanan yang sehat, minum susu dan vitamin."


"Ya Tuhan, kau cerewet sekali."


"Jesslyn."


"Iya iya."


"Sebelum berangkat aku ingin kasih tahu."


"Apa?"


Jeaven tampak menggigit bibirnya karena sedikit ragu. Itu karena sebenarnya dia juga malu. Tetapi tidak ada salahnya jika Jesslyn tahu.


"Kau tahu julukanku di atas lintasan?"


"The Ice Gun J.J," jawab Jesslyn tanpa berpikir lama. "Kenapa memangnya?" Dia pun mulai bertanya-tanya.


"J.J itu singkatan nama kita. Jeaven Jesslyn."


"Ya Tuhan, kenapa kau manis sekali?" Sisa mendung di wajah Jesslyn seketika memudar. Kebahagiaan menyentuh hatinya yang bergetar. Kembali dikecup bibir Jeaven dengan cinta yang kian tersiar.


Berkali-kali ia dibuat terkesima akan sisi lain Jeaven yang selama ini belum diketahuinya. Hati kian percaya akan cinta Jeaven yang begitu sempurna.


"Jeav, di luar masih ada orang." Jesslyn terkesiap karena Jeaven tiba-tiba menggendong dan membawanya di atas ranjang. Dia tahu suaminya kini sedang terangsang.


"Sstt! Sebentar saja." Tangan Jeaven sudah menjalar nakal ke mana-mana, Melepaskan setiap benang di tubuh wanitanya.


"Nanti mereka dengar."


"Kamar ini kedap suara. Menjeritlah seperti biasanya karena aku suka."


"Jeav, hmm."

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2