
Bandara internasional London tengah berkalung duka. Salah satu penerbangan pesawat menuju bandara Paris mengalami kecelakaan setelah beberapa saat mengudara.
Kini bandara ramai dengan keluarga penumpang untuk minta kepastian. Beberapa orang bahkan terlihat menangis sembari menggenggam sejuta harapan. Harapan akan sebuah keajaiban Tuhan.
Media lokal menyebutkan bahwa tak ada tanda-tanda penumpang selamat dari bencana. Kabar ini membuat para keluarga panik dan menyerbu bandara. Menurut pantauan di lapangan, para keluarga dan kerabat penumpang pesawat itu menunggu dengan rasa cemas dan kalut soal perkembangan informasi kecelakaan selanjutnya.
Sejauh ini, pihak maskapai mengonfirmasi tidak ada tanda-tanda korban selamat dalam kecelakaan tersebut. Namun, konfirmasi itu belum resmi merilis jumlah korban jiwa.
Di ruang tunggu, Jesslyn menumpahkan air mata sembari tergugu. Badan lemas diserang hantaman kabar yang mengundang pilu. Jeaven adalah salah satu korban kecelakaan maut pesawat itu. Dan hingga sekarang belum juga ada konfirmasi tentang sang suami kendati waktu berat terus berlalu.
Di sana Jesslyn tidak sendiri. Ada Sean, Allesya dan Jaeden yang sama-sama sedang meremas hati. Dalam ketabahan mereka terus melantunkan doa tanpa berhenti. Kendati serangan kecemasan masih terus menemani.
Sementara Jeffrey saat ini sedang berada di Rumah sakit menemani Jenny yang kehilangan kesadaran. Sebagai seorang ibu jiwanya teramat terpukul mendengar apa yang dikabarkan. Kepergian Jennis si putra bungsunya saja masih sangay menyisakan lara yang menyesakan. Dan sekarang dia harus kembali terluka karena kehilangan.
Selain itu ada Monica dan Bryan yang juga berundung duka. Padahal di waktu dekat mereka akan menjalani pernikahan dengan harapan penuh suka cita. Tetapi kabar buruk tentang Jeaven seketika merampas kebahagiaan mereka begitu saja. Bagaimana bisa sepasang calon pengantin itu tetap menabur senyum bahagia kala kerabat tercinta sedang tertimpa bencana.
"Sayang, sebaiknya kau pulang dulu ya," tutur Allesya kepada Jesslyn yang sedang terduduk lemas di dalam pelukan si kakak kembarnya, Jaeden. Ia juga sangat cemas dengan kondisi si putri yang terlihat pasi.
Jesslyn menggeleng lemah di sela suaranya yang masih mengisak tangis. "Jesslyn masih ingin di sini. Menunggu Jeaven datang. Dia pasti akan sangat senang jika melihat Jesslyn menyambutnya," racaunya yang sudah teramat hanyut dalam kesedihan.
Hatinya benar-benar hancur lebur bak gelas kaca yang dilempar dari gedung tinggi. Baru saja ia ditampar keras oleh kebenaran akan perasaan Jeaven kepadanya selama ini. Namun, takdir seolah tak bersimpati, membiarkan seisi dunia menghukumnya dengan hujanan pisau belati. Sungguh, Jesslyn serasa ingin mati.
Jaeden seketika kian mengerat pelukan. Hatinya teramat sakit melihat kondisi Jesslyn yang teramat menyedihkan. Kendati tiada ucapan penenang yang terlontarkan, tapi usapan tangan di punggung bergetar sang adik cukup mengisyaratkan akan sebuncah perhatian. Bulir kristal pun tak urung ikut membasahi wajahnya yang tampan.
"Kau harus jaga kesehatanmu, Sayang. Ingat kau juga sedang hamil. Kasihan anakmu." Allesya terus membujuk agar Jesslyn mau berubah pikiran.
"Tidak, Mom. Jesslyn harus di sini sampai Jeaven datang." Calon mama muda itu kian tergugu, menenggelamkan wajah basahnya di dada Jaeden. "Kak, aku takut tidak bisa bangun dari mimpi buruk ini. Tolong aku, Kak. Aku sangat mencintainya. Hatiku tak akan sanggup kehilangan suamiku. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku kelak?"
"Tenangkan dirimu, Jesslyn. Kita masih bisa menadahkan tangan kepada Tuhan akan sebuah keajaiban. Pihak maskapai juga belum mengkonfirmasikan secara resmi nama-nama korban kecelakaan, 'kan?" Jaeden berusaha menenangkan sang adik kendati dirinya sendiri juga sama cemasnya.
"Kak, aku takut ...."
"Sudah jangan takut. Ada aku di sini. Mommy, Daddy, dan Monica juga bersamamu."
__ADS_1
Jesslyn belum lagi berkata. Hanya suara isak tangisnya yang terdengar menguar di udara. Bahkan kepalanya sudah terasa berat karena pusing melanda. Namun, tak jua meluruhkan keinginan untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.
Monica yang sedari tadi tak tahan melihat keterpurukan si sahabat kesayangan mulai mendekat lalu ikut memeluknya. Sungguh, selama menjalin persahabatan baru kali ini ia melihat Jesslyn benar-benar hancur bak perahu dihantam badai samudra.
"Jesslyn, aku tahu semua ini sangat berat untukmu. Tetapi, memang benar yang dikatakan Jaeden tadi. Kita masih memiliki harapan selama pihak maskapai belum secara resmi mengumumkan nama-nama korban jiwa. Kau percaya atas keajaiban Tuhan, 'kan?"
Jesslyn sedikit mengurai pelukan sembari menekan isak tangisnya. Mata sembabnya diajak memandangi Monica yang juga sedang berlinang air mata.
"Iya, aku percaya. Jeaven orang baik. Tuhan pasti menyayanginya. Aku juga percaya keajaiban itu ada." Perlahan Jesslyn mulai bisa terbangun dari kesedihannya kendati kecemasan masih setia bergumul di dada. Perkataan Jaeden dan Monica sukses menyulut harapan besar akan kabar baik suaminya.
Senyuman haru mengulas tipis di bibir Monica. Setidaknya, sikap Jesslyn yang mulai sedikit tenang mengundang rasa lega. "Iya, Jeaven orang baik. Kau juga orang baik. Tuhan itu selalu adil."
"Maaf, ya."
"Untuk apa?"
"Harusnya kau berbahagia menyambut pernikahanmu, tapi malah--"
Bryan mengangguk setuju dan sama sekali tidak keberatan. Dia sangat tahu maksud Monica saat berkeputusan. "Tentu saja tidak apa-apa," jawabnya tulus dari hati.
"Kenapa?" Jesslyn memandangi Monica dan Bryan secara bergantian. Sorot matanya penuh akan pertanyaan.
"Kami akan menundanya sampai mendengar kabar baik tentang Jeaven," jawab Bryan.
"Maaf," sesal Jesslyn tertunduk.
"Kenapa meminta maaf untuk sesuatu di luar kuasamu?" Bryan mencoba mematahkan rasa bersalah Jesslyn yang memang tidak pada tempatnya.
"Kami antar kau pulang sekarang. Kau sedang hamil, jadi tidak boleh kelelahan. Jeaven pasti tidak suka melihatnya," sela Monica sembari mengingatkan.
"Tapi--"
"Jesslyn, kau pulanglah. Biar Daddy yang di sini," titah Sean yang akhirnya bersuara. Ia lanjut menoleh kepada Allesya. "Kau dan Jaeden juga pulang, ya. Ini sudah larut."
__ADS_1
"Tapi, Sayang." Allesya sepertinya masih ingin menemani suaminya.
"Allesya," pangkas Sean tidak ingin dibantah.
"Baiklah," ucap Allesya dengan berat hati.
Akhirnya Allesya pulang bersama Jaeden. Sementara Jesslyn memilih kembali ke apartemennya dengan diantarkan Monica dan Bryan.
"Kau yakin tidak ingin aku temani?" tanya Monica yang sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Jesslyn. Rasanya ia tidak tega meninggalkan si sahabat sendirian di saat butuh dukungan seperti saat ini.
"Iya. Aku sedang ingin sendiri," ucap Jesslyn.
"Jangan bertindak aneh-aneh." Monica mengingatkan. Takut saja kalau sahabatnya itu akan bertindak nekat karena dilanda kefrustrasian.
"Tenang saja."
"Oke. Kami pulang, ya,"
"Iya. Hati-hati."
Setelah kepergian Monica dan Bryan, Jesslyn memasuki apartemennya. Kaki tidak langsung melangkah menuju kamar dan memilih bersandar pasrah pada pintu.
Suasana hening kembali membawanya larut dalam kesedihan. Air matanya kembali bercucuran. Sungguh hatinya belum kuat menerima kenyataan. Bukan berarti dia melepas rengkuhan atas sisa harapan. Tetapi ia belum bisa sepenuhnya terbebas dari kecemasan.
"Jeaven, aku harap kau baik-baik saja. Kau harus pulang dengan selamat. Aku butuh pelukanmu. Aku takut." Jesslyn tergugu dalam kepiluan. "Aku sangat merindukanmu."
Cklek!
Tiba-tiba Jesslyn tersentak saat mendengar handle pintu tempat ia bersandar ditarik dari luar.
"Bukankah tidak ada yang tahu dengan password pintu apartemen selain aku?"
Bersambung~~
__ADS_1