Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Denyutan Pilu


__ADS_3

Di sebuah ruang perawatan, Jeaven masih larut dalam kecemasan. Sepasang manik matanya tak urung beralih dari Jesslyn yang sedang menjalani penanganan. Wanita itu masih setia dalam keadaan pingsan. Hingga membuat si pria kutub itu kian dirundung kegelisahan.


Percayalah, meski terlihat tenang Jeaven sebenarnya sedang menahan debaran tak ramah. Bahkan serangkaian kalimat doa dan harapan sudah beberapa kali terlepas dari ujung lidah.


Tubuhnya yang gagah dibawa berdiri sigap kala sang dokter usai memeriksa. Meski bibir tak bersuara tapi bahasa mimik mukanya sarat akan tanya.


"Anda--" Sang dokter tampak ragu untuk bertanya dan menjelaskan hasil pemeriksaan karena Jeaven masih menutup wajahnya dengan masker dan topi.


Paham akan gelagat sang dokter Jeaven lantas melepas semua benda yang menutupi mukanya tanpa ragu. Sehingga ketampanan yang semula bersembunyi kini bisa terjangkau mata.


Sang dokter wanita itu sempat membatin karena sangat tahu dengan siapa dia berhadapan saat ini. Ice Gun J.J, pembalap MotoGP terkemuka yang sangat digandrungi. Namun, demi menjaga keprofesionalan saat bekerja ia berusaha mengendalikan diri. Meski hati menjerit karena ia juga salah satu fans yang menggilai.


"Saya orang terdekatnya," terang Jeaven yang sedikit berhati-hati saat memilih kata. "Bagaimana dengan keadaannya, Dok?" imbuhnya lagi dengan sebuah pertanyaan.


"Kandungannya tidak apa-apa."


Baru mendengar sebaris pembukaan penjelasan dari dokter sudah membuat dada Jeaven kembali bergetar. Rasa haru di relung jiwa kian menjalar. Namun, di sisi lain ada sesal yang dirasa dengan sangat sadar.


Jeritan batin terus merutuki diri. Bisa-bisanya ia tidak menempatkan bahu saat Jesslyn membutuhkan sandaran yang berarti.


"Pasien hanya mengalami syok saat tubuhnya menerima guncangan saat terjatuh. Penyebabnya adalah karena berbagai perubahan terjadi pada tubuh ibu hamil. Selain itu tekanan darah pasien juga rendah hingga membuatnya mudah lelah dan pingsan. Setelah sadar pasien bisa langsung dibawa pulang untuk beristirahat di rumah," terang sang dokter dengan sangat ramah.


"Dan ini beberapa resep obat yang dibutuhkan pasien." Dokter mengulurkan selembar kertas dan langsung diterima Jeaven.


"Terima kasih," ucap pria itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Niat hati ingin langsung melenggang pergi, tapi sebuah keinginan tiba-tiba menarik diri. Dokter wanita itu kembali berhadapan dengan Jeaven dengan keraguan di hati. "Maaf sebelumnya."


Jeaven yang semula sudah memberikan atensi seutuhnya kepada Jesslyn harus kembali memutar tubuh. "Iya?" Sahut keheranan.


"Bolehkah saya mengambil foto anda dan meminta tanda tangan? Maaf ini pasti sangat memalukan, tapi setelah ini belum tentu saya akan memiliki kesempatan yang sama lagi. Saya adalah salah satu fans anda." Dokter wanita itu akhirnya memberanikan diri.


Jeaven menerbitkan senyuman tipis, tapi cukup membuat dokter tersebut berbunga-bunga. "Silahkan," jawabnya yang menandakan tidak ada rasa keberatan.


Seketika senyuman tercetak sempurna pada paras dokter itu. Dengan senang ia mengeluarkan ponsel untuk mengambil beberapa jepretan gambar. "Tolong tanda tangan di sini, terima kasih."

__ADS_1


Sesaat Jeaven tampak mengernyit penuh tanya saat dokter itu memintanya memberi tanda tangan pada sebuah miniatur mobil mini.


"Terima kasih. Dan saya akan sangat senang sekali jika anda bersedia meluangkan waktu berharga anda untuk berkunjung di kamar perawatan nomor 72 di rumah sakit ini. Tapi tenang saja, saya tidak akan memaksa." Kini sebuah harapan besar tampak membingkai wajah dokter tersebut.


"Iya."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi."


Jeaven kembali menggiring perhatiannya kepada Jesslyn yang masih terbaring di ranjang. Sudah hampir 30 menit tapi wanita itu masih setia dalam lelapnya yang tenang. Diraih jemari lentik Jesslyn lalu dikecupnya dengan sayang.


Wajahnya yang semula sedikit berjarak dibawa mendekat ke telinga si wanita. Dan dia mulai membisikkan kata. "Maafkan aku. Aku sangat merindukanmu."


Usai melepaskan suara hati, Jeaven menghadiahi kecupan di dahi lalu membawa bibirnya bermuara di bibir Jesslyn. Satu ciuman lembut sebagai bentuk luapan rasa yang selama ini dipendam sendiri. "Maafkan aku," sesalnya dan memberi kecupan sekali lagi.


"Ehem!"


Deheman seseorang sontak mengurai suasana sunyi di dalam ruang. Jeaven menarik tubuhnya tanpa menanggalkan bawaan tenang. Diputar lehernya hingga mata dapat menjangkau sosok Monica yang sudah memasang muka tak senang.


Pria itu bahkan tidak menunjukkan ekspresi terkejut meski tindakannya baru saja dipergok Monica. Rasa canggung dan gugup pun tak tampak menyapu muka. Monica sampai mendesis kesal karena sikap santainya.


"Dasar pengecut. Kalau cinta harusnya kau bilang bukan malah menyisakan luka di hatinya. Kau ingin menjadi hero untuk adikmu tapi di sisi lain kau menjadi bajingan di kehidupan Jesslyn. Menjauhlah! Beraninya kau mencuri ciuman di saat ia tidak sadar! Apa kau lupa kau juga sudah beristri?!" Cibir Monica lalu berjalan mendekati Jesslyn.


"Bagaimana keadaannya? Dan bagaimana ceritanya dia bisa bersamamu?" Imbuh Monica lagi dengan menggencarkan beberapa kalimat pertanyaan. Mimik kecemasan membingkai jelas di wajahnya.


"Kau sangat berisik."


Sesaat Monica sempat merutuki mulutnya. Kembali ingat bahwa di saat ini ia sedang berada di rumah sakit. "Maaf."


"Kata dokter Jesslyn mengalami syok karena terjatuh." Jeaven pun mulai menceritakan semuanya, bagaimana awal dia bisa bertemu kembali Jesslyn dan tidak lupa memberi tahu bahwa Bryan mengambil andil dalam penyebab pingsannya wanita itu.


"Aku masih sangat membenci pria itu," ungkap Monica berterus terang.


"Aku dan dia tidak beda jauh," sahut Jeaven.


"Iya, sama-sama bajingan," sengit Monica.

__ADS_1


"Iya." Jeaven tak sedikitpun berniat membela diri.


Monica tiba-tiba harus menahan kepiluan kala ingatan masa lalu kembali merayapi pikiran. "Aku ralat ucapanku tadi. Kau dan dia sangat berbeda. Dulu jika tidak ada kau entah apa saat ini aku masih bisa berdiri di sini." Wanita cantik bermata almond itu melepas pandangannya dari Jeaven.


"Jangan ungkit hal itu jika bisa mengorek kembali luka lamamu."


"Kau benar."


"Sebaiknya aku pergi dulu sebelum dia sadar," ucap Jeaven yang sudah bersiap meninggalkan ruangan.


"Kau tidak menunggu dia sadar?"


"Jangan dulu bercerita tentang keberadaanku kepadanya," pinta Jeaven.


"Kenapa?"


"Aku orang yang dia benci."


Ucapan Jeaven menuntut Monica untuk berpikir lebih keras. Bukankah harusnya pria itu tetap tinggal di sana hingga Jesslyn sadar lalu meminta meminta maaf atas kesalahannya? Setidaknya, pria itu harus berjuang untuk meruntuhkan kebencian Jesslyn terhadapnya bukan?


"Apa kau akan terus menghindar?" Tuduh Monica terkesan meledek.


"Tidak," jawab Jeaven singkat tapi tegas dan sukses meruntuhkan persepsi buruk Monica.


"Tolong jaga dia dan juga ... calon anakku. Nanti aku akan menebus obatnya dan kuberikan kepadamu." Jeaven pun berlalu begitu saja.


"Dari mana dia tahu kalau Jesslyn sedang mengandung anaknya?" Lirih Monica bertanya-tanya setelah kepergian Jeaven.


Selang tidak lama Monica menyadari pergerakan kecil Jesslyn. "Kau sudah sadar? Apa kau baik-baik saja?"


"Jesslyn, bagaimana keadaanmu?" Belum sampai mendengar jawaban dari Jesslyn, dada Monica harus kembali bergemuruh diiringi oleh denyutan pilu karena sosok Bryan yang tiba-tiba datang.


Bersambung~~


Yuhuu ... Nofi mau mengingatkan nih. Nggak kerasa sekarang sudah hari senin lagi. Bolehlah vote gratis mingguannya dihibahkan ke karya yang masih sangat sangat sangat sepi ini🥰

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan dukungan like, komen, dan giftnya juga ya. Terima kasih..


Wo Ai Nimen. Xie Xie Ni..😍❤


__ADS_2