
Plak!
"Daddy tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seorang bajingan!" Jeffrey langsung melesatkan tamparan keras di wajah Jeaven karena murka. Perbuatan sang putra sudah mencorengkan tinta hitam di wajahnya. Terutama di depan Sean, sahabatnya.
"Almarhum adikmu, jauh lebih baik darimu!" Terdorong amarah Jeffrey mulai membandingkan Jeaven dengan Jennis yang sudah meninggal. Tanpa ia ketahui bahwa Jennis adalah salah satu alasan dari kesalahan yang sudah terjadi itu.
Sebagai seorang ayah, mencekoki sang darah daging dengan didikan tegas agar selalu menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita tentu sudah dilakoninya sejak dini. Kepercayaan besar juga sudah diwariskan dengan segenap hati. Tetapi Jeaven menghancurkannya dalam sekali kesalahan karena nafsu tak terkendali. Ditambah lagi sang putra juga lalai akan tanggung jawabnya sebagai lelaki. Malah dulu sempat berniat menikahi wanita lain yang tentu membuat Jesslyn kian tersakiti. Itulah kenapa saat ini Jeffrey benar-benar tersulut emosi.
Plak!
Suara satu tamparan kembali menggema menyisakan pilu di hati. Tidak ada sedikit perlawanan dari Jeaven untuk sekedar membela diri. Kedua tangannya memang sedang menggenggam kesalahan telak kini. Jadi ia memilih pasrah karena sudah sepantasnya menerima amukan cap lima jari sang daddy di pipi.
"Suamiku, tahan amarahmu." Jenny mencoba menenangkan Jeffrey. Meskipun ia juga sangat kecewa, tapi hati seorang ibu mana yang akan tega melihat putranya terluka.
Namun sayangnya Jeffrey masih urung mengelus dada agar emosinya reda. Pria tengah baya tapi masih sangat terlihat tampan itu malah mencengkeram kasar kerah sang putra.
"Paman, tolong hentikan!" Jesslyn langsung menyentuh tangan Jeffrey yang sudah melayang di udara, bersiap-siap mendaratkan kembali tamparan mautnya. "Jesslyn juga bersalah, Paman." Sejatinya, hati wanita itu juga tidak tega melihat Jeaven terus mendapat siksa tamparan terus-terusan.
Beberapa saat yang lalu, Jeaven membawa jiwa lelakinya menghadap di depan para orang tua. Dengan segenap keberanian ia mengakui semua kesalahannya. Kemantapan diri tak menyurutkan nyali akan resiko yang akan diterima. Jadi seperti inilah sekarang situasinya. Atmosfer yang menyelimut mendadak panas karena rundungan rasa murka.
Allesya tentu sangat kecewa begitu juga dengan kakak kembaran Jesslyn, Jaeden. Sementara Sean tampak duduk menahan gemuruh di dada yang naik turun.
Marah? Tentu saja karena dia juga seorang ayah. Tetapi bayangan masa lalu tiba-tiba berkecambah. Ia sempat tercenung dan mencerna situasi dengan hati mendessah.
__ADS_1
Sean mengaitkan apa yang terjadi dengan putrinya adalah sebuah hukum timbal balik atas kesalahannya terhadap Allesya di waktu itu. Dan Jeaven adalah potret dirinya di masa lalu.
*Ngomong-ngomong authornya ngarep banget nih ada pembaca yang penasaran tentang kisah romansa di antara Sean dan Allesya. Ayuk mampir di karya sebelah. Judulnya CINTAMU MENJADI CANDUKU. Banyak yang manis-manis juga di sana. Kayak authornya. Hahay!
Oke. Balik ke cerita!
Sesaat keheningan menguasai suasana. Jeffrey kembali duduk di atas sofa. Gejolak amarah seolah memakan habis energinya. Jenny mencoba menenangkan dengan memberi usapan lembut pada lengannya.
Allesya sudah menangis sesenggukan sampai tak mampu berucap kata. Tenggelam ke dalam dada Sean untuk menumpahkan kesedihannya. Sepasang suami itu tidak mampu membayangkan betapa terlukanya putri mereka.
Sama halnya dengan Jaeden, si kakak kembaran Jesslyn. Kekecewaan sudah menguasai hati. Bahkan aura kebencian sangat kentara di wajahnya yang tampan. Ia tidak terima atas perlakuan buruk yang diterima saudaranya itu.
Hingga perhatian semua insan di sana kembali berpusat kepada seonggok daging hidup yang kini sudah bersimpuh di depan para orang tua. Pandangan merendah sebentuk rasa sesal yang menyelubung jiwa. Jeaven tak butuh berpikir lama untuk menanggalkan segala gengsinya.
"Kalian memang harus segera menikah," sahut Sean dengan tatapan tegas. Allesya, Jeffrey dan Jenny tampak setuju meski hanya diungkapkan dengan bahasa mata. Sementara Jeaven tentu langsung merasa lega.
"Apa kalian tidak menganggapku di sini?" Sela Jesslyn yang kini berganti menjadi pusat perhatian. "Kalian memutuskan sesuatu tanpa meminta pendapatku. Padahal ini menyangkup kehidupanku."
"Sayang, kau sedang mengandung. Menikahkan kalian adalah keputusan yang benar. Jadi apa lagi yang harus kau pikirkan?" Allesya menuturi dan memberi pengertian.
"Negara kita sudah sangat tabu memiliki anak tanpa menikah."
"Apa maksudmu, Sayang?"
__ADS_1
"Jangan paksa aku menikah, Mom. Apa lagi dengan dia. Aku bisa mengurus anak dengan keringatku sendiri." Setelah mengutarakan keputusannya Jesslyn langsung berlalu membawa kecewa yang ternyata masih membekas di hati.
"Biarkan dia." Jaeden yang dari awal diam mulai mengambil peran dalam situasi. Ia langsung bergerak cepat menghalangi Jeaven yang hendak mengejar Jesslyn.
"Kami harus berbicara."
"Orang tuaku memang merestuimu untuk menikahi Jesslyn, tapi tidak dengan aku. Aku tidak akan rela adikku menikah dengan seorang bajingan sepertimu. Camkan itu!" Jaeden memberi dorongan kasar kepada Jeaven sebelum akhirnya menyusul Jesslyn di kamarnya.
Di dalam kamar Jesslyn langsung berhamburan di pelukan Jaeden. Bersama saudara kembarnya itu ia tanpa sungkan mengespresikan kerapuhannya.
"Kak, aku benar-benar tidak ingin menikah dengannya."
"Bukankah dia yang kau cintai selama ini?" Jaeden terus mengusap punggung Jesslyn yang terasa bergetar karena menangis.
"Tapi aku masih sangat kecewa dengannya. Lagian apa bagusnya pernikahan jika tidak saling mencintai. Jeaven tidak mencintaiku, Kak. Dia mau menikahiku karena ingin bertanggung jawab atas anak yang aku kandung saja." Tangisan Jesslyn kian pecah. Meninggalkan segala prasangka buruk yang belum tentu benar.
Berbeda dengan dulu saat Jesslyn masih gencar mengejar Jeaven. Ia selalu mendambakan sebuah pernikahan meski sang pria pujaan tak mencintainya. Namun, sekarang cara berpikirnya sudah berubah.
"Bagaimana kalau ternyata Jeaven juga mencintaimu?"
"Itu tidak mungkin. Sekalipun dia bilang cinta aku yakin itu hanya dusta."
Bersambung~~
__ADS_1