
Masih sangat pagi, laju roda mobil berhenti di depan gerbang kokoh keluarga Willson. Jeaven akhirnya memutuskan mengantar Jesslyn pulang setelah wanita itu merengek seperti anak kecil.
Lagian jalan menuju ke tempat tinggal mereka memiliki arah yang sama. Lebih tepatnya, mansion keluarga Jeaven dan Jesslyn terletak bersebelahan. Iya, kedua anak manusia saling bertetangga.
"Mommy?!" Jesslyn langsung disambut tatapan sanksi Allesya saat baru saja keluar dari mobil.
Rupanya, wanita berusia kepala empat yang masih memancarkan pesona kecantikan itu sudah menunggu kepulangan Jesslyn di depan gerbang rumah semenjak satu jam yang lalu. Dilihat dari mimik mukanya, seolah siap memuntahkan serentetan omelan kepada sang putri semata wayangnya.
Mengetahui hal itu, Jeaven juga turut keluar dari kendaraan, berniat memberi penjelasan. Ia berharap tidak akan ada sebuah kesalah pahaman.
"Tante, Jeaven bisa menjelaskannya. Semalam kami-" Ucapan Jeaven terputus karena Jesslyn tiba-tiba menyela.
"Mommy, semalam kami tidur bersama di apartemennya. Kami bahkan tidur di ranjang yang sama," ucap Jesslyn terang-terangan.
"APA?!" Allesya langsung menunjukkan ekapresi terkejut.
Sementara Jeaven memilih pasrah. Mencoba menguatkan mentalq karena sepertinya Jesslyn akan kembali berulah. Hah! Ya sudahlah!
Mending kita lihat dulu, rencana dadakan apa yang tersimpan di balik tempurung kepala wanita itu.
"Iya, Mom. Maka dari itu, kau harus menikahkan kami."
Dan benar kawan! Inilah rencana wanita yang memiliki seribu akal tapi selalu rawan gagal itu. Ia kembali bermodus ria, memanfaatkan kesempatan dari tragedi semalam.
__ADS_1
"Aw! Ahk! Sakit Mom! Kenapa malah memukulku?!" protes Jesslyn saat sang mommy beberapa kali menghadiahi pukulan di lengannya.
"Berani-beraninya kau bermodus. Dari pada denganmu, Mommy lebih mempercayai Jeaven. Coba katakan, ulah apa lagi yang kau lakukan semalam?!" omel Allesya. Ia seolah sudah sangat hafal dengan segala tindak tanduk si putri yang selalu membuat Jeaven-anak sahabatnya itu kerepotan hingga kewalahan.
"Mommy, anakmu itu Jesslyn atau Jeaven sih?! Pokoknya aku harus menikah dengannya, karena kami sudah tidur bersama!" sungut Jesslyn, sesaat kemudian ia menoleh ke arah Jeaven lalu menggelayut manja pada lengan pria itu.
"Ayo kita menikah. Ya ya ya? Kalau sudah menikah kita bahkan bisa mencetak selusin bayi. Atau mungkin dua lusin, aku sanggup, serius!" bujuk Jesslyn pantang menyerah, sementara Jeaven hanya tampak menghela napas berat karena ucapan asal wanita yang selalu mengejarnya semenjak masih berusia 5 tahun itu.
"JESSLYN ...!" seru Allesya, geram bercampur gemas.
Jesslyn langsung lari ngacir masuk ke dalam mansion saat sang mommy berniat kembali memukulnya.
"Aku tidak peduli, pokoknya Jeaven harus menjadi suamiku! Pagi Daddy!" Jesslyn masih sempat berceloteh di sela berlarinya. Bahkan ia juga sempat menyapa dan mencium Sean yang kebetulan akan berangkat kerja.
Menggelengkan kepala seiring dengan dengusan jengkel, Allesya mencoba mati-matian meraup kesabaran dalam menghadapi segala tingkah absurd putrinya itu.
Tidak langsung menjawab, lidah seakan terasa berat untuk mengadukan perbuatan gila Jesslyn semalam. Jeaven tampak diam sesaat, tentunya tanpa menanggalkan ekspresi dingin dan datarnya yang memang sudah menjadi ciri khasnya dari bawaan lahir.
Untung ganteng. Meski sedang buang hajat sekalipun pasti wajahnya tetap berkarisma. Ahay!
"Ada apa, Allesya? Putri kita berulah lagi?" sela Sean menghampiri.
Berbeda dengan si istri yang masih bertekuk muka, pria paruh baya berparas tampan itu justru tampak santai. Sesaat ia melempar senyuman hangat ke Jeaven. Sean memang tidak pernah terlalu mempermasalahkan setiap tingkah putri.
"Tante, Om, kalau begitu aku ijin kembali ke rumah," pamit Jeaven, tapi niatnya terurungkan karena Allesya mencegah dan masih menuntut kejelasan.
__ADS_1
"Sayang, semalam apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Apa benar yang dikatakan Jesslyn tadi?" Nyonya Willson itu kembali bertanya dengan perasaan harap-harap cemas.
Bagaimanapun juga ia sangat peduli dan menyayangi putrinya. Sebagai seorang ibu, tentu tidak ingin darah dagingnya kenapa-kenapa.
Merasa didesak, akhirnya mau tidak mau Jeaven menceritakan semuanya. Sehingga Allesya dibuat syok seketika. Sedangkan Sean malah tertawa.
"Kalau begitu aku akan kembali ke rumah, Om, Tante," pamit Jeaven untuk kedua kalinya.
"Iya, Sayang. Sekali-kali mainlah ke rumah mumpung kau sedang cuti musim MotoGP. Tante akan memasakan makanan kesukaanmu," tutur Allesya.
"Iya," jawab Jeaven sembari tersenyum tipis, setipis gaji authornya di akhir bulan.
Jyaah! Malah curhat. Haha!
"Sudahlah, Allesya. Biarkan putri kita mengejar cintanya dengan caranya sendiri. Ada kalanya kita perlu memberi kepercayaan kepada anak-anak. Jangan terlalu membelenggunya dengan kekangan yang membunuh ruang geraknya," tutur Sean.
"Putri kita itu sudah berusia 25 tahun, tapi tingkahnya masih seperti anak kecil. Dan setidaknya dia harus menjaga harga diri sebagai wanita."
Sean tertawa kecil. "Jesslyn adalah potret masa mudamu, Allesya. Gigih dan pantang menyerah, mengejar satu pria yang dia cinta. Dan akhirnya kau berhasil membuat hati pria itu bertekuk lutut. Pria itu adalah aku." Ia melabuhkan ciuman di bibir istrinya.
"Mungkin kita bisa bermain satu ronde lagi sebelum aku benar-benar berangkat kerja," imbuh Sean setelah melepaskan pagutan bibirnya.
"Main saja sendiri pakai sabun!"
Bersambung~~
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya ... Vote dan Gift juga boleh dong disumbangin untuk Jeaven dan Jesslyn🥰
Terima kasieeeehh... lop you🙏😘