Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Mengaku


__ADS_3

Rasa malu karena menjadi perhatian beberapa orang membuat Jesslyn menyembunyikan wajahnya di dada Jeaven yang bidang. Digendong secara terang-terangan di ruang publik tentu merangsang banyak mata untuk memandang. Bahkan sebagian dari mereka ada yang mangangkat kamera ponselnya dan menangkap gambar secara gamblang.


Sosok Jeaven memang sedang menjadi trending topic pada berita dunia olah raga. Terutama di negara Swiss yang menjadi tuan rumah MotoGP laga perdana. Kemenangannya dalam meraih medali pertama pada grand prix sepeda motor tentu menarik perhatian mata dunia.


Masih dalam posisi berjalan sambil menggendong, Jeaven berusaha mengulum senyuman karena gemas dengan tingkah laku Jesslyn saat di dalam restauran. Baginya, sangat mudah membaca gelagat si wanita tanpa harus banyak kata yang dilontarkan.


"Kau sangat berbakat, Jesslyn." Perkataan ambigu Jeaven sukses menarik wajah Jesslyn untuk mendongak ke arahnya.


"Ee? Maksudnya?"


"Aktingnya."


"Siapa?"


"Kau. Siapa lagi? Hm?"


"Aku?" Jesslyn pura-pura bodoh, padahal dia sudah mulai dirundung malu.


"Kau tidak sedang sakit, tapi cemburu." Jeaven tidak sedang bertanya tapi sedang menekankan bahwa hati Jesslyn sedang terbakar karena keberadaan Monalisa.


"Siapa?" Kura-kura di dalam perahu, sekali lagi Jesslyn berpura-pura tidak tahu. Jujur, dia semakin malu. Tetapi hati kerasnya menyangkal untuk mengaku.


"Kau, Jesslyn."


"Jangan terlalu percaya diri. Justru aku berniat menolongmu. Aku tahu kau sangat risih dengan wanita plastik itu." Dan benar, Jesslyn membantah ucapan Jeaven.


Jeaven mendengus geli karena sangkalan Jesslyn yang terdengar menggemaskan baginya. "Terima kasih. Kau sangat peka." Ia pun mengakui bahwa tindakan wanita itu memang sudah sangat membantu dirinya lepas dari Monica tanpa harus membuang tenaga. "Kenapa kau menyebutnya wanita plastik?"


"Apa kau tidak bisa melihatnya? Hidung, mata, dagu, dan juga bibirnya itu semua imitasi. Dan jika memiliki anak dengannya sudah dipastikan kau akan syok." Jesslyn terus mengometari wajah Monalisa. Padahal dia sedang dirundung rasa kesal saja. Kesal karena cemburu yang saat ini sedang mengejeknya.


Jeaven menghentikan ayunan kaki saat sudah berada di pelataran depan restauran. Tetapi tubuh Jesslyn tak langsung diturunkan dari gendongan. Dipandangi wajah cantik si wanita yang juga sedang membalas tatapan.


"Kenapa kau berbicara sejauh itu?" Tatapan lekat Jeaven mengiringi pertanyaannya.


"Masalah?"


"Tentu saja?"


"Rupanya kau tidak terima aku mengomentari wajah plastik wanita itu?" Jesslyn terdengar sinis. Dan juga ... hatinya terasa teriris.

__ADS_1


"Bukan karena itu."


"Heleh! Kok berkilah," sungut Jesslyn. Mukanya kian cemberut.


"Sudah ada calon Jeaven kecil di perutmu. Jadi buat apa aku memiliki anak dengan Monalisa?" Jeaven mendekatkan bibir di telinga Jesslyn. Kali ini ia berbisik lembut hingga membuat tubuh wanita itu meremang. "Pertama kalinya aku melakukannya denganmu. Untuk kedua ketiga dan seterusnya tetap kau yang ku mau. Bukan wanita lain."


Buru-buru Jesslyn menutup bibir dengan tangan saat Jeaven hendak menciumnya. "Jangan harap kau bisa mencicipi bibirku lagi."


"Tidak boleh?"


"Hish! Masih nanya lagi!" Tangan masih menutup mulut, Ia menggeliat turun dari gendongan Jeaven dan langsung menuju mobil.


Di dalam mobil yang sudah melaju membelah jalan raya Jesslyn tampak mengobrak-abrik isi tasnya dan mengeluarkan sesuatu. "Sini tanganmu," titahnya kepada Jeaven.


"Mau menggigit lagi?" Celetuk si pria tapi tangan tetap diberikan ke Jesslyn.


"Kau pikir aku hewan buas yang suka menggigit?! Aku merasa kau lebih banyak bicara sekarang. Pasti otakmu sedikit kegeser ke samping." Jesslyn terus berkicau seraya mengobati luka di tangan Jeaven menggunakan obat yang memang selalu ia bawa.


"Terima kasih," ucap Jeaven setelah wanita itu selesai mengobatinya.


Jesslyn tak langsung menanggapi. Setelah memasukan peralatannya ke dalam tas ia memilih menepi dan menjadikan pemandangan luar jendela sebagai obyek pandangan. Namun, sedetik kemudian ia terdengar mengeluarkan suara.


"Maaf karena sudah melukaimu." Jesslyn mengutarakan rasa sesalnya tanpa melihat ke arah Jeaven.


"Lukaku ini tidak sebanding dengan lukamu karena perbuatanku."


Jesslyn memindah atensinya kepada Jeaven. Lirikan sinis kembali mengawali ucapannya. Rasa melow yang semula menyelubung hati seketika bertransisi menjadi kesal karena teringat oleh luka hatinya. "Ck! Kau itu memang bajingan, Jeav."


"Iya aku tahu."


"Jangan katakan maaf lagi. Aku bosan mendengarnya." Jesslyn menyela cepat tapi Jeaven tak mengindahkan ucapannya.


"Maaf."


"Haish! Kau sangat menyebalkan."


"Maaf."


"Kau ini ya. Apa tidak mengerti bahasa manusia?"

__ADS_1


"Maaf."


"Bodoh!"


"Ma--"


Jesslyn langsung membekap mulut Jeaven. "Kau membuatku kesal."


Roda mobil sudah berhenti di depan lobi gedung apartemen. Jeaven tidak langsung pulang ke hotel tempat ia menginap. Pria itu harus memastikan kalau Jesslyn benar-benar kembali dengan selamat.


"Mom-my?" Jesslyn langsung mengalami spot jantung saat membuka pintu apartemen sosok Allesya menyambutnya dengan tatapan sanksi. Sean juga terlihat berdiri di belakang bersama sang kakak kembarannya, Jaeden. Tidak hanya mereka saja, Jeffrey dan Jenny juga ikut datang bersama.


Sementara Monica hanya bisa berdiri pasrah membiarkan sahabatnya itu menerima nasib. Beberapa saat yang lalu dia sudah kenyang terkena omelan karena jelas-jelas sudah tahu akan keberadaan Jesslyn tapi tidak berniat memberi kabar kepada mereka.


"Ka-kalian, ada di sini? Kenapa?" Jesslyn yang gugup malah melempar pertanyaan yang terkesan tidak pada tempatnya. Yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya.


Keberadaan para orang tua memang tak perlu dipertanyakan lagi. Sudah jelas apa alasan mereka ada di sana saat ini.


Namun, mengingat kondisinya yang sedang berbadan dua membuat Jesslyn belum memiliki cukup nyali untuk bertemu dengan mereka sekarang. Dia juga belum punya kesiapan matang.


Jeaven pun sebenarnya tidak mengira bahwa para orang tua akan datang secepat itu. Baru tadi siang ia menghubungi mereka dan malamnya sudah di depan mata.


"Dua bulan lebih kau menghilang tanpa kabar dan masih bisa bertanya kenapa? Apa kau ingin membuat Mommymu ini mati karena sangat mencemaskanmu?" Meski sebenarnya sudah sangat merindukan si putri kesayangan, tapi Allesya seolah tidak akan puas jika belum meluapkan kekesalan. Bahkan lengan Jesslyn sudah menjadi sasaran pukulan.


"Aw! Sakit, Mom." Jesslyn mengaduh kesakitan tapi kali ini ia tak berniat menghindar karena sadar akan posisinya yang memang salah.


Namun, Allesya harus menghentikan aksinya saat Jeaven menarik tubuh Jesslyn ke dalam pelukan. Pria itu berniat memberi perlindungan. Lagian rasanya ia tidak rela melihat wanitanya kesakitan.


"Jesslyn pergi karena kesalahanku."


Tidak hanya Allesya saja. Semua orang kecuali Monica langsung bertanya-tanya. Mimik mereka sudah menuntut sebuah kejelasan dengan segera.


"Apa maksudmu, Sayang?" Pertanyaan Allesya ke Jeaven mewakili semuanya.


"Jesslyn sedang mengandung anakku."


"APA?!"


Bersambung~~

__ADS_1


Nah loh! syok, kan? Biarkan para orang tua syok sampai besok. Mudah-mudahan jantung mereka tetap aman dan nggak sampai turun mesin.


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian ya. Terima kasih..🥰


__ADS_2