Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Pengagum Rahasia Dambaan Hati


__ADS_3

"Kau masih punya muka untuk datang menemui Jesslyn rupanya." Monica berkata sinis, mengingat dari cerita Jeaven bahwa Bryan lah yang menyebabkan sahabat kesayangannya itu pingsan.


"Aku sangat menyesali perbuatanku." Bryan berkata serius saat menanggapi sengitan Monica. Ia lalu lebih mendekat dan menatap Jesslyn dengan rasa bersalah yang memenuhi rongga dada. "Maafkan aku. Aku terlalu marah saat ada orang lain mencelakaimu, tapi bukannya melindungi aku malah menyakitimu."


"Aku memang tidak menyangka kau bisa sekasar itu, Bryan. Tapi sudahlah, aku juga tidak akan marah kepadamu." Jesslyn mencoba memaklumi dan masih melihat sisi positif dari Bryan.


"Katakan kalau kau memaafkanku." Bryan memohon setengah memaksa.


"Dasar egois. Kau memaksa Jesslyn untuk memaafkanmu karena tidak ingin dirundung rasa bersalah terus-terusan. Sadar nggak sih kalau kau itu terkesan hanya memikirkan perasaanmu sendiri?" Monica langsung menyela.


"Mon, sudah. Jangan bikin keributan di rumah sakit." Jesslyn menuturi sahabatnya itu kemudian menggiring atensinya ke Bryan. "Aku sudah memaafkanmu. Tapi Bryan, terus terang aku nggak suka dengan sikapmu yang terlalu protektif. Aku tahu kau sangat peduli kepadaku tapi hal itu tentu memiliki batasan tertentu. Mengingat hubungan kita juga masih sekedar teman dan tidak lebih." Wanita itu memperingatkan dengan tegas.


"Terima kasih." Bryan mencium punggung tangan Jesslyn dan kembali memandangi Jesslyn. "Tapi aku mohon jangan larang aku mengespresikan perasaanku kepadamu sesuai dengan caraku ssendiri."


"Apa kau tidak dengar kalau Jesslyn tidak suka dengan sikapmu itu? Lebih baik kau jauhi Jesslyn sekarang," sengit Monica kembali. Emosinya selalu saja meluap jika berhadapan dengan Bryan.


Pria blonde itu tampak menghela napas guna menepis rasa jengkel akan sikap Monica yang terkesan sangat sensi terhadapnya. Sebisa mungkin stok kesabarannya tidak menguap begitu saja. Bryan tidak ingin amarah kembali merajai kepala. Dia sadar jika sekali saja tempramennya lepas kendali maka akan mericuhkan suasana. Dan Tentunya Jesslyn kian sulit menerima cintanya.


"Bisakah kita bicara sebentar?" Pinta Bryan kepada Monica. Dia sedikit geregetan karena wanita itu sedari tadi menyela percakapannya bersama Jesslyn.


"Maaf." Monica yang masih dalam mode jutek langsung menolak permintaan Bryan.


"Tapi kita memang harus bicara."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan."


Sekali lagi, Bryan tampak bersikeras meraup kesabaran di dalam dada. Sungguh, dia tidak ingin usahanya untuk menekan kelainan tempramentalnya selama ini berakhir sia-sia. Sudah cukup Jesslyn yang menjadi korban terakhirnya.

__ADS_1


"Jess, aku pinjam sahabatmu sebentar ya. Kami benar-benar harus berbicara. Tunggu di sini dulu, dan jangan kemana-mana. Aku akan mengantarmu pulang." Bryan masih sempat menuturi Jesslyn sekaligus meminta ijin sebelum menyeret Monica keluar ruangan.


"Jangan sentuh aku." Monica reflek menjauhkan tangannya kala Bryan hendak menariknya.


"Aku mohon. Kita harus berbicara, Monica," tekan Bryan kemudian kembali menyeret wanita itu keluar dari kamar perawatan. Meninggalkan Jesslyn sendiri yang tampak keheranan.


"Kenapa aku merasa mereka terkesan seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar?" Jesslyn bermonolog pada dirinya sendiri.


"Hah! Sudahlah." Dia bersikap masa bodoh lalu kembali berbaring dan mengambil posisi miring. Tubuhnya meringkuk dengan tangan memeluk calon anaknya di dalam perut.


Tidak terasa, bulir kristal tiba-tiba menggenangi bingkai mata. Hatinya kembali meremang lara karena mendambakan sebuah sentuhan nyaman dari seseorang yang tidak ingin ditemuinya.


"Mimpi tadi rasanya seperti nyata. Tapi kenapa juga aku memimpikan pria brengsek itu. Aku benar-benar membencinya. Benci sekali." Wanita itu sesenggukan dalam diam. Sebisa mungkin kesedihannya itu tidak tertangkap mata orang lain.


"Di saat seperti ini aku jadi kepingin makan pancake kentang dengan banyak taburan keju di atasnya dan juga cordon bleu renyah isi daging." Jesslyn tampak menelan salivanya saat membayangkan makanan lezat itu bersemayam di dalam mulutnya.


Jesslyn terhenyak diikuti gerakan ujung jemari menyeka bingkai matanya yang basah. Suara pintu terbuka menarik rasa gundah gulana yang sempat membuncah. Perlahan ia memutar badan hingga mata melihat sosok seorang suster yang tersenyum ramah.


"Ini apa?" Jesslyn yang sudah dalam posisi duduk tampak bertanya-tanya.


"Tadi ada seseorang yang menitipkan barang ini di resepsionis rumah sakit untuk diberikan kepada anda," terang suster itu.


"Terima kasih," ucap Jesslyn.


"Baik, kalau begitu saya permisi."


Tidak ingin dibuat mati oleh rasa penarasan, ditambah lagi aroma lezat yang menguar memancing penciuman, Jesslyn langsung meraup paper bag itu dengan cekatan.

__ADS_1


Sepasang netranya seketika berbinar. Sesuatu yang terpampang di depannya kian merangsang rasa lapar.


Pancake kentang dan cordon bleu yang sempat diangan beberapa saat yang lalu kini tersaji di depan mata. Tidak hanya itu saja. Sebuah kotak kecil berisi gelang emas putih beraksen dreamcatcher mini dengan berlian biru di tengahnya kian membuat ia terkesima. Suasana hati Jesslyn pun berubah bahagia. Awan kelabu tak lagi menyelimuti muka.


"Kali ini aku sangat yakin, bahwa pengirim barang ini adalah orang yang sama saat berada di London. Aku bisa merasakannya karena hatiku selalu memberi sinyal yang berbeda." Tiba-tiba wanita itu berdecak kesal. "Dasar pengecut. Lagi-lagi dia tidak berani menemui aku. Tapi ngomong-ngomong, dari mana dia tahu aku berada di sini sekarang? Hah! Sudahlah."


Gelengan kasar menepis geliat pikiran yang memenuhi pikiran di kepala. Jesslyn memilih memenuhi hasrat untuk melahap makanan di depannya yang sudah melambai manja. Lagian janin di dalam perut sepertinya sudah tak sabar juga.


Tanpa menunda lama ia langsung memakai gelang itu lanjut menyantap makanan dengan perasaan sumringah. Sesaat ia benar-benar lupa akan rasa lara yang beberapa bulan ini terus menjajah.


"Jika dia ada di depanku saat ini, aku akan membuka hati untuknya. Dia sangat pintar membuatku senang. Meski kadang menjengkelkan juga sih. Tapi aku merasa dia adalah pengagum rahasia dambaan hatiku."


Sementara di sebuah taman yang terletak di belakang rumah sakit. Udara dinginnya malam membelai nakal permukaan kulit. Langit muram hanya berhias bulan sabit. Taburan bintang pun tampak sedikit.


Di bawah temaram lampu taman, dua anak manusia saling berpagut pandang dengan rasanya masing-masing.


"Maafkan aku, Monica." Sepasang manik biru Bryan tak lepas dari wajah kecil Monica bak boneka barbie.


"Enak sekali aku harus memaafkanmu setelah membunuh satu nyawa," sengit Monica.


Bersambung~~


Wuuuaah! Telat sekale upnya.


Oya bagi para sebagian author, maaf jika Nofi belum bisa kasih feedback. Nggak bermaksud sombong, tapi mang di sini Nofi sangat kesulitan membagi waktu. Maklum, Nofi ngetik sambil nyuri-nyuri waktu di sela pekerjaan.


Dan untuk para pembaca kesayangan, maaf jika lama balas komen kalian. Nofi masih sempet baca doang. Percayalah, Nofi seneng banget baca komenan kalian.

__ADS_1


Terima kasih ya atas dukungan kalian. Nofi bilang benar-benar dari hati. Dukungan kalian itu bagaikan nyawa jari-jariku untuk terus menulis.


Lop you😘


__ADS_2