Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Senyuman Licik Jesslyn


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju restauran Jesslyn masih setia menekuk muka. Kedongkolan masih merogoh hati kala ingat kelakuan nakal Jeaven yang tak pernah diduga.


"Jangan marah." Jeaven merayu seraya mengamati Jesslyn yang sedari tadi melempar muka ke arah luar jendela mobil. Tetapi wanita itu tak menyahut.


Si supir yang sedang fokus mengemudi bahkan sampai melirik sekilas ke arah mereka melalui spion depan karena ikut merasakan aura dingin di dalam mobil.


"Kemarilah." Jeaven masih berusaha memecahkan suasana tapi Jesslyn sama sekali tak menanggapi.


Wanita itu bahkan memilih bergerak beringsut ke tepian mobil agar lebih menjauh. Ia kian menyembunyikan mukanya karena air mata yang hampir saja jatuh.


Bukan lagi hanya karena sekedar kekesalan yang buat hati keruh. Namun, ada gejolak perasaan yang mulai bertabuh. Kini terjangan dilema mulai bergemuruh. Keberadaan Jeaven memang sangat ia butuh. Akan tetapi luka hatinya belumlah sembuh.


Kebencian di dalam dada masih sangat melekat sempurna. Tetapi hati kecilnya seolah sedang menodongkan sebuah tombak untuk membunuh perasaan itu.


"Jangan jauh-jauh," pinta Jeaven sekali lagi. Dan kali ini Jesslyn menanggapi. Sayangnya tak lebih dari decakan lidah karena risi.


Mengikuti dorongan hati Jeaven mulai mengambil inisiatif dengan menggeser posisi duduknya agar lebih mendekat dengan Jesslyn. Ditarik tubuh makhluk yang masih mengacuhkan dirinya itu ke dalam pelukan. Gerakan berontak pun langsung terjadi tapi itu tak bertahan lama saat pria itu berbisik.


"Maaf, aku memang salah. Jika kau kesal lampiaskan saja kepadaku. Itu lebih baik dari pada kau diam saja." Jeaven sangat paham. Selain masih sangat kecewa dengannya, Jesslyn saat ini sedang mengalami emosi yang tidak stabil karena pengaruh hormon kehamilan.


"Apa kau ingin menggigit sesuatu?" Jeaven melontarkan pertanyaan yang tidak biasa, tapi kembali ditanggapi Jesslyn meski masih ketus.


"Iya, aku ingin menggigitmu hingga berdarah."


Tanpa berpikir panjang Jeaven langsung membuka kancing kemeja pada pergelangan tangannya lalu menggulung ke atas hingga memamerkan tangan berototnya.


"Lakukanlah sampai kau puas."


Setelah beberapa saat mobil yang membawa Jeaven dan jesslyn berhenti di sebuah pelataran restauran. Keduanya tampak berjalan beiringan tanpa saling menggamit tangan. Lagian kalau diminta si wanita pasti akan kembali melempar penolakan.


"Maaf kami terlambat." Jeaven langsung mengutarakan rasa tidak enak hati kepada tuan Tyler.


"Bukan masalah, aku juga baru saja tiba," jawab Tyler dengan ramah. Pria itu menggiring pandangan ke arah sosok cantik yang berdiri di sebelah Jeaven. "Sepertinya aku mengenal siapa yang datang bersamamu, Tuan Jeav."


Jeaven memberi isyarat kepada Jesslyn dengan lirikan ujung matanya dan langsung di mengerti.


Wanita itu mengulurkan tangan dan Tyler menyambutnya dengan senyuman hangat. "Saya Jesslyn Seanie Willson. Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan Tyler."

__ADS_1


"Aku juga senang bisa bertemu dengan putri dari keluarga Willson, Nona Jesslyn. Oya kalian jangan berdiri terus. Duduklah."


"Terima kasih," ucap Jesslyn.


Sementara Jeaven hanya tersenyum tipis dengan mengangguk kecil. Setelah itu ia tampak membukakan kursi untuk Jesslyn.


"Oya, aku juga tidak sendiri. Istri dan putriku sedang ke toilet. Sebentar lagi mereka pasti keluar." Belum lama Tryler berkata orang-orang yang dimaksud pun sudah terlihat berjalan mendekat untuk bergabung.


"Nak Jeav, apa kabarmu?" Nyonya Tyler bertanya seraya menampilkan senyuman khas keibuannya.


"Baik. Anda sendiri?"


"Seperti yang kau lihat sekarang. Wajahku sudah dipenuhi keriput tapi putriku belum juga menikah."


Sang suami langsung tertawa. Berbeda dengan putrinya yang tampak cemberut karena menjadi bahan bercanda. Sementara Jeaven dan Jesslyn juga tersenyum tapi penuh etika.


Keberadaan Jesslyn tentu juga menarik perhatian Nyonya Tyler. Sama halnya dengan si suami dia juga tahu siapa Jesslyn itu. Sebagai orang-orang yang berkecimpung pada lingkup bisnis yang sama tentu banyak tahu tentang siapa saja anggota keturunan kerajaan bisnis fashion Willson Corp. Termasuk Jesslyn.


"Nak Jeav, kali ini kau datang bersama putri dari keluarga Willson, ya." Nyonya Tyler melihat ke arah Jesslyn. "Senang bertemu denganmu."


"Apa kalian berdua berpacaran?" Pertanyaan Nyonya Tyler mulai merambah ke topik sensitif.


"Kami berteman." Jesslyn buru-buru menyela mendahului Jeaven yang hampir membuka mulut untuk menjawab.


"Sayang sekali. Padahal kalian berdua terlihat cocok saat duduk bersama seperti ini."


Nyonya Tyler terus berceloteh tanpa menyadari perubahan mimik pada wajah putrinya. Awalnya dia merasa lega mendengar jawaban Jesslyn, tapi celetukan sang ibu seketika mencetak mimik tidak suka.


Setelah memesan menu makanan semua penghuni meja makan kembali melakukan obrolan ringan. Jesslyn sangat pandai membawa diri hingga interaksi yang tercipta lebih berkesan. Tuan Tyler bahkan dengan sendirinya memberi tawaran kerja sama yang tentunya sangat menjanjikan. Perbincangan mereka pun harus terjeda saat dua orang pelayan datang membawa hidangan.


Selama ritual santap menyantap makanan rupanya putri Tuan Tyler bernama Monalisa semakin terpesona dengan Jeaven yang memang penuh daya tarik. Ia mulai menunjukkan sikap mencari perhatiannya hingga membuat suara hati Jesslyn mencebik.


Monalisa terus saja mencoba menghalau perhatian Jeaven yang ditujukan ke Jesslyn. Wanita itu bahkan beberapa kali melirik sinis sebagai bentuk tidak suka.


"Jeav, mau kah kau membantu memotong stik daging ini untukku?" Monalisa yang kebetulan duduk di sebelah Jeaven menggeser sedikit piringnya.


Tanpa banyak bicara Jeaven langsung menuruti permintaan Monalisa. Memotong kecil-kecil daging stik itu lalu memberikan kembali kepada si pemiliknya.

__ADS_1


"Terima kasih, ya." Mona memamerkan senyuman termanisnya, berharap Jeaven lambat laun 'kan terpesona.


"Iya."


Monalisa melahap makanannya dengan perasaan senang. Di sela makannya ia terus mengajak Jeaven berbincang. Tidak peduli akan keberadaan Jesslyn yang mulai berang.


"Jeav, kau sedang terluka ya?" Monalisa tiba-tiba terkejut saat melihat luka di pergelangan tangan Jeaven. Tanpa sopan ia menarik kain lengan pria itu sedikit ke atas hingga luka lebih terlihat.


Tuan Tyler dan istrinya seketika mengalihkan atensinya Jeaven terutama pada luka yang bertengger di pergelangan tangannya itu.


"Ini sepertinya seseorang baru saja menggigitmu. Siapa yang tega melakukan itu? Apa dia tidak mikir pakek otak kalau tangan adalah aset beharga bagi seorang pembalap sepertimu?" Putri dari Tuan Tyler itu terus berkomentar kesal.


Sementara Jeaven tampak beberapa kali memperhatikan Jesslyn yang sudah berhenti menyentuh makanan karena sudah kehilangan selera. Wanita itu tiba-tiba didera rasa bersalah karena luka itu hasil dari perbuatannya.


"Aku obati, ya. Kebetulan aku selalu menyimpan obat luka di tasku."


"Tidak perlu." Jeaven menolak.


"Jangan sungkan. Aku hanya ingin mengobati saja." Monalisa terus memaksa. Bahkan ia tidak segan-segan meletakkan tangan Jeaven di atas paha mulusnya yang tidak tertutup karena mengenakan mini dress. Tetapi Jeaven langsung menarik cepat tangannya dari sana karena tidak suka.


"Permisi, saya pergi ke toilet sebentar." Suara Jesslyn tiba-tiba menyela. Namun, ketika ia berdiri tiba-tiba tubuhnya sedikit limbung dan terjatuh ke pangkuan Jeaven.


"Kau kenapa? Sakit?" Jeaven langsung menunjukkan kekhawatirannya dengan kedua tangan merengkuh posesif tubuh Jesslyn yang sedang duduk di atasnya.


"Kepalaku tiba-tiba pusing," lirih Jesslyn mengeluh.


"Kita pulang sekarang." Jeaven lanjut memindah perhatian kepaa Tuan Tyler dan istrinya. "Maaf, Tuan Tyler dan Nyonya. Saya sepertinya harus undur diri lebih cepat."


"Iya tidak apa-apa. Segera bawa dia ke dokter. Lain kali kita bisa makan malam bersama lagi," jawab Nyonya Tyler seraya tersenyum maklum.


"Terima kasih," ucap Jeaven lalu ganti mengalihkan perhatian ke Jesslyn. "Apa kau bisa berjalan?"


"Tidak bisa." Jeaven langsung menggendong Jesslyn dan membawanya pergi tanpa menghiraukan keberadaan Monalisa.


Sementara Monalisa harus menahan amarah saat melihat Jesslyn sempat tersenyum licik ke arahnya.


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2