Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Sarapan Yang Panas


__ADS_3

Jessyln mengayunkan kaki mendekati meja makan. Menjauhkan jarak dari Jeaven yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Ekspresi cemberut seketika memuai tergantikan binar senang. Hidangan yang tersaji di depan mata sukses merubah suasana hatinya.


Semenjak bangun tidur Jesslyn memang merasakan ngidam. Dan semua makanan lezat itu begitu cocok mengobati desakan keinginannya itu.


"Bryan, duduklah. Kita sarapan bersama." Mengabaikan keberadaan Jeaven, Jesslyn memilih memberi perhatian kepada Bryan. "Mon, kamu juga. Ayo duduk. Sarapan." Ia juga tidak melupakan keberadaan sang sahabat kesayangan.


"Perutku sudah kenyang, Jess. Kamu saja yang makan." Bryan menolak secara halus, tapi tetap mendaratkan badan di kursi sebelah Jesslyn. "Kau ingin makan yang mana? Biar aku ambilkan," tawarnya sebagai bentuk perhatian. Kendati ia merasa tidak nyaman dengan tatapan tak bersahabat Jeaven.


Sementara Monica terlihat ikut bergabung di meja makan tanpa banyak kata. Sebisa mungkin bersikap biasa meski keberadaan Bryan begitu menyesakkan dada. Suasana hatinya sungguh tidak baik-baik saja.


Hati memang tidak mahir untuk membohongi diri. Melihat tatapan penuh kekaguman Bryan terhadap Jesslyn dada merasa nyeri. Selain itu dia juga tidak rela jika sahabatnya itu menjalin cinta kepada pria yang memiliki kelainan emosi.


Sebenarnya ada apa dengan Bryan? Bukankah selama ini dia memiliki karakter yang ramah dan hangat. Lantas apakah pantas jika pria itu dikatakan memiliki kelainan emosi?


Entahlah. Hanya waktu yang bisa menjawab.


"Semua makanan ini terlihat lezat. Sepertinya aku bisa memakan semuanya." Jesslyn terdengar antusias bahkan sudah tidak sabar ingin segera menyantap hidangan di atas meja.


Senyuman hangat mengulas wajah Bryan. "Sebaiknya dimulai dari sereal oat dulu. Makanan sehat ini sangat sangat baik dikonsumsi ibu hamil sepertimu karena mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan." Dengan penuh perhatian ia mengsisi mangkuk kosong milik Jesslyn dengan makanan itu.


"Terima kasih," ucap Jesslyn dan langsung menyantap sarapannya.


Berbeda dengan Jesslyn dan Bryan yang terlihat asyik sendiri, Monica menyempatkan lidahnya untuk menegur Jeaven yang sedari tadi masih berdiri dengan pembawaan dingin dan sorot mata sulit dibaca.


"Sampai kapan kau akan tetap berdiri kayak patung di sana, Jeav? Kemarilah, bergabung dengan kami." Suara Monica memecahkan suasana. Perlahan hatinya memang mulai berpihak ke Jeaven. Malah, dia sedikit gedek dengan sikap Jesslyn saat ini.


Jeaven memang sudah menceritakan semuanya ke Monica. Itupun karena wanita berparas imut itu terus mendesak agar ia mau bercerita. Dari sana sedikit demi sedikit kebenaran mulai unjuk diri di depan muka. Meskipun seperti itu tapi tetap kesalahan Jeaven harus ditebus dalam sebentuk perjuangan nyata. Bukan hanya sekedar perkataan saja. Bagaimanpun juga Jesslyn sudah banyak terluka. Terluka karena perbuatannya.


Tak ada sahutan untuk menanggapi ucapan Monica. Dengan mulut masih terkatup rapat Jeaven berjalan untuk bergabung dengan yang lainnya. Atmosfer di meja makan pun berubah seketika.


Jeaven masih enggan bersuara dan manatap lurus ke arah hidangan yang tentu menggugah seleranya. Begitu saja sudah mampu membuat ketiga wajah di sana ikut terdiam dan menatapnya dengan ekspresi yang sama. Yaitu ekspresi penuh tanda tanya.


Apa yang akan dilakukan Jeaven setelah ini? Apa dia akan berbuat ulah dan memperkeruh suasana? Apa acara sarapan kali ini bakal berakhir dengan perang mulut atau saling lempar makanan, piring, dan garpu? Semacam itulah deret pertanyaan yang mengapung di kepala mereka.

__ADS_1


Sementara itu selain berusaha menekan rasa cemburunya Jeaven juga sedang menahan keinginan menggebu untuk menyantap semua sajian yang tentu menggugah seleranya. Kadang ia sempat bertanya-tanya. Jesslyn yang hamil tapi kenapa dia seperti merasakan ngidam juga?


"Makanlah yang banyak." Itulah sebaris kalimat yang terdengar kala Jeaven kembali membunyikan suara. Tentunya sebuah wujud sederhana dari perhatiannya kepada Jesslyn yang dicinta.


Sikap Jeaven yang ternyata melenceng jauh dari prasangka membuat Jesslyn merasa lumayan lega. Sedangkan Monica tentu merasakan hal yang sama.


Dan apa yang dipikirkan oleh Bryan? Pria itu masih sibuk dengan kepekaan hati bahwa Jeaven sangat tidak menyukai keberadaanya di sekitar Jesslyn. Dia masih sangat ingat dulu Jeaven menjadikannya bulan-bulanan demi membalas sakit hati Monica dan terutama untuk melindungi Jesslyn.


Hah ... di dalam hati Bryan kembali dirundung sesal atas kesalahannya di masa lalu.


"Iya, aku tahu. Masakan Monica sangat lezat jadi sayang jika tidak ku makan." Meski bernada ketus Jesslyn masih mau menanggapi ucapan Jeaven.


"Bryan coba kau cicipi bola keju goreng ini, enak sekali dan bayiku sepertinya juga sangat suka." Jesslyn menyodorkan makanan berbentuk bulat yang tertancap di ujung garpu itu ke mulut Bryan.


"Aku sudah kenyang, Jess. Kau saja yang makan." Bryan menolak.


"Ayolah. Anggap saja ini permintaan bayiku," desak Jesslyn tanpa ia sadari sepasang tangan Jeaven yang berada di atas meja tampak mengepal kuat karena menahan rasa panas di dada.


Jesslyn sungguh-sungguh sedang menguji kesabaran Jeaven kali ini. Namun, ia berusaha tidak keluar dari lingkar kesabaran diri. Padahal rasa cemburu sudah membakar di setiap bilik hati.


"Ahk! Maaf. Biar aku bersihkan dulu." Jesslyn memekik ringan saat bola keju goreng itu jatuh dan mengotori pakaian Bryan. Namun, tangan yang hendak meraih tisu tiba-tiba dihalau Jeaven. Ia sontak melempar pandangan tidak suka pada pria itu.


"Kau ini kenapa sih?!" Sungut Jesslyn.


"Dia bisa melakukannya sendiri," ucap Jeaven dengan nada datar tapi Jesslyn sudah merasa terintimidasi.


"Tapi aku sudah mengotori pakaiannya," sahut Jesslyn yang memang merasa tidak enak kepada Bryan. Namun, perkataannya tak jua membuat Jeaven kembali melepas cengkeraman dari tangannya.


"Dia benar, aku bisa membersihkannya sendiri." Bryan pun ikut berbicara untuk menengahi. Ia kemudian beranjak menuju wastafel dapur untuk membersihkan noda keju cair yang menempel di pakaiannya yang kebetulan bewarna putih.


"Kau sangat menyebalkan!" Sungut Jesslyn kepada Jeaven. Meskipun merasa kesal tak berarti menanggalkan selera makannya dan kembali melahap sarapannya. "Cepat isi perutmu lalu segera pergi dari sini," ucapnya di saat mulut masih penuh oleh makanan.


"Telan dulu makanannya baru berbicara. Kau bisa tersedak," tutur Jeaven seraya mengambil potongan roti telur untuk dimakan.

__ADS_1


"Jangan ngantur-ngatur." Jesslyn berbicara sembari mengunyah. Ia tak berniat mendengarkan tuturan Jeaven yang di anggap hembusan angin belaka.


"Kau bisa tersedak, Jesslyn."


Brak!


"Aku sudah selesai."


Jeaven dan Jesslyn terhenyak pelan saat Monica tiba-tiba berdiri dengan gebrakan di meja. Kedua anak manusia itu sampai dibuat bertanya-tanya.


"Apa yang dikatakan Jeaven itu benar. Kau bisa tersedak." Monica mengingatkan Jesslyn lalu mengangkat piring kotornya untuk dibawa ke dapur. Rupanya ia kembali teringat kejadian beberapa saat yang lalu saat Bryan menciumnya.


Andai tidak ada insiden tersedak mungkin adegan ciuman itu tidak akan terjadi. Begitu pikirnya.


Sesampainya di dapur, Monica menghunus tatapan sinis ke arah Bryan yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Ada apa? Aku salah lagi?" Tanya Bryan keheranan dengan gelagat Monica. "Aarrg!" Pria blonde itu harus merintih kesakitan karena si wanita tiba-tiba menendang kuat kakinya.


"Dia sebenarnya kenapa lagi?" Gerutu Bryan dengan pandangan tidak lepas dari punggung Monica yang kian menjauh.


Setelah tubuh wanita itu benar-benar menghilang dari pelupuk mata Bryan menggiring pandangan ke arah piring kotor milik Monica yang diberikan kepadanya dengan kasar sebelum wanita itu pergi.


Tingkah absurd Monica justru merangsang kedua sudut bibir Bryan tertarik ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan senyuman. "Dia lucu sekali."


Bersambung~~


Alhamdulilah bisa up.


Terima kasih ya masih setia mantai kisah Jeaven dan Jesslyn. Nofi juga mau ngingetin, jangan lupa tinggalkan jejak dukungan teman2 berupa like dan komen.


Kiriman Gift dan Vote juga Nofi tunggu-tunggu🥰😁


Lop lop you sekebon terong😘❤

__ADS_1


__ADS_2