
Jangkar waktu terus berputar, memulangkan bulan berpendar dan menyambut mentari yang berpijar. Dinding langit pun tampak bersinar, menyapa hati para makhluk dunia yang masih bergetar.
Setelah semalam dilarikan ke rumah sakit, Jennis disarankan oleh dokter untuk dirawat inap sementara. Setidaknya sampai kondisi kesehatannya membaik seperti sedia kala.
"Mom, Dad, kalian pulanglah dulu untuk beristirahat," pinta Jennis seraya memandangi wajah kedua orang tuanya yang sudah terbingkai raut lelah. Sebagai seorang putra yang sangat menyayangi ia pun tak tega dan juga merasa bersalah.
Jennis sangat tahu bahwa kedua orang tuanya itu harus terjaga semalaman karena tubuhnya beberapa kali mengalami kejang. Ia juga mengalami gangguan halusinasi. Hal itu memang sudah sering ia alami semenjak kanker otak bersarang di kepalanya.
"Kami masih ingin di sini menemanimu," ucap Jenny. Kendati kecemasan merajai dada, tapi senyuman tak dibiarkan meninggalkan muka. Ia tidak ingin terus-terusan menampakkan gurat kesedihannya, tahu kalau putra bungsunya itu tidak akan suka.
Sama halnya dengan Jenny, Jennis pun berusaha menarik sedikit kedua sudut bibir, menutupi wajah pucatnya dengan senyuman. "Jennis baik-baik saja. Bukankah apa yang aku alami ini sudah biasa terjadi? Nanti aku juga bakal sehat dan bisa kembali beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Jadi, Mommy dan Daddy jangan mencemaskanku terlalu berlebihan. Itu malah membuatku tambah kepikiran." Pria yang berstatus sebagai pasien itu mencoba meyakinkan kedua orang tuanya.
"Baiklah, tapi tunggu sampai kakakmu datang baru kami akan pulang." Jeffrey turut menuturi.
"Kalian harus percaya kepadaku. Jennis berjanji untuk segera terbebas dari penyakit yang menggerogoti tubuhku ini. Aku pasti sembuh." Senyuman Jennis kian lebar seiring dengan keyakinan diri bahwa dia akan bisa hidup normal seperti orang-orang sehat di luar sana.
Dibelai sayang kepala si putra bungsunya itu, Jeffrey mencoba menghangatkan suasana dengan senyuman berbalut harapan. "Kau itu putraku, tentu Daddy percaya kepadamu."
"Mommy juga percaya kepadamu, Sayang." Jenny ikut menimpali.
"Aku akan terus menagih janjimu itu," sela Jeaven tiba-tiba, mengalihkan perhatian Jennis dan juga kedua orang tuanya.
"Apa kau lupa aku akan memberimu banyak keponakan kelak, jadi aku harus sembuh dan tidak ingin mati terlalu cepat," kelakar Jennis, mengesampingkan rasa tidak nyaman di tubuhnya.
Jeaven menanggapi ucapan Jennis hanya dengan senyuman tipis, lalu ia memutar leher ke arah Jeffrey dan Jenny. "Dad, Mom, kalian sebaiknya segera pulang untuk beristirahat. Jeaven yang akan menjaganya di sini."
"Baiklah, nanti kami akan segera kembali. Tolong jaga adikmu ya, Sayang," tutur Jenny.
Setelah sepasang suami istri itu berlalu, Jeaven langsung memusatkan perhatiannya kepada Jennis. "Aku baru saja kembali dari ruang dokter. Dia menjelaskan daya tahan tubuhmu kembali menurun karena kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Apa kau tidak bisa sedikit saja peka dengan kesehatanmu sendiri?"
Bukannya menciut dengan tatapan tegas sang kakak, Jennis malah tersenyum. Bukan bermaksud meremehkan, dia justru sedang merasa bangga memiliki kakak yang berjiwa pelindung seperti Jeaven. Meski cara yang dipakai sangat tegas dan tak jarang berkata pedas.
"Aku akan lebih memperhatikan kesehatanku. Kau tenang saja," ucap Jennis.
"Ada apa?" Jennis langsung melisankan tanya karena Jeaven tampak menatapnya dengan sorot mata sulit diartikan.
__ADS_1
"Kau tidak perlu memikirkannya terlalu keras." Jeaven seolah paham dengan apa yang tengah mengganggu pikiran si adik hingga kolaps.
"Lagi-lagi kau mampu membaca pikiranku dengan mudah. Aku seperti tidak punya privasi di depanmu." Jennis menggerutu.
Jeaven menghela napas panjang di sela pembawaannya yang tenang. "Berhentilah memikirkan sesuatu yang bisa membebani pikiranmu. Hal itu sangat berpengaruh pada kesehatanmu."
"Wanita yang aku cintai justru mencintai kakakku sendiri. Bagaimana bisa hatiku berkata baik-baik saja?" Jennis tersenyum getir, merasa miris dengan kisah cintanya.
"Lambat laun dia akan menyerah dengan perasaannya."
"Kenapa kau sangat yakin sekali?"
"Karena cintanya bertepuk sebelah tangan."
"Kau benar-benar tidak mencintainya?"
"Iya." Jeaven mencoba meyakinkan Jennis dengan jawab tegas dan raut muka serius.
Namun, nyatanya hal itu tak semerta-merta membuat Jennis lega. "Harusnya aku senang mendengarnya. Tapi aku juga tak rela melihat Jesslyn terluka. Andai jika akhirnya kau juga mencintainya aku tidak apa-apa. Yang penting dia bahagia."
"Caranya?"
"Menjadi pria sehat dan kuat. Agar kau bisa melindunginya."
"Baiklah." Jennis diam sejenak setelah menjawab. "Aku sangat merindukannya."
"Dia akan datang."
"Apa kau yang memberitahunya? Aku malu menghadapinya dengan kondisi lemah seperti ini."
"Mommy yang memintanya datang agar menjengukmu," jelas Jeaven dengan cepat. Awalnya memang Jeaven sendirilah yang berusaha menghubungi Jesslyn, tapi tak ada tanggapan. Lebih tepatnya, wanita itu terang-terangan menolak panggilannya.
Suara knock pintu yang terbuka sontak mencuri perhatian sepasang kakak beradik itu secara bersamaan. Sedetik kemudian sosok cantik muncul dengan mimik kecemasan.
Jesslyn berjalan masuk mendekati ranjang tempat Jennis berada. Ia bahkan melewati Jeaven begitu saja. Seakan pria itu dianggap makhluk tak kasat mata.
__ADS_1
"Jesslyn kau datang sendirian? Di luar sedang turun salju." Sebagai seseorang yang harus lebih dicemaskan kesehatannya, Jennis masih sempat mencemaskan orang lain.
"Aku diantar sopir. Apa sangat sakit?" Jesslyn balik bertanya setelah menjawab.
"Sedikit, tapi bukan masalah. Ini sudah biasa terjadi bukan?"
Jesslyn menghela napas ringan. "Kau membuatku khawatir."
"Maafkan aku."
Tiba-tiba wanita berambut blonde itu memasang muka mencebik. "Kau sangat buruk. Kau bilang ingin menjadi obat untukku, tapi malah berada di sini sekarang."
Ucapan Jesslyn mengundang tawa kecil Jennis. Pada akhirnya kedua anak manusia itu terus bercengkrama ringan, tanpa menyadari keberadaan Jeaven yang sudah meninggalkan ruangan.
Di balik pintu, Jeaven bersandar kepada dinding dengan perasaan tak menentu. Namun, hal itu tidak dibiarkan berlama-lama mengganggu. Ditarik napas lalu dibuang kasar disusul gerak kaki untuk berlalu.
Langkah jenjangnya tiba-tiba melambat dan akhirnya berhenti saat berpapasan dengan seseorang yang ia kenal baru saja keluar dari ruang dokter.
"Sedang apa kau di sini?" Tanpa menunda, Jeaven langsung melempar tanya.
"A-aku baru saja memeriksa lukaku," jawab Verlin sedikit tergagap seperti seseorang yang baru saja ketahuan menyembunyikan sesuatu.
Sekilas Jeaven melirik ke pintu yang di belakangi Verlin. Di sana terpasang sebuah papan nama dokter penyakit dalam. Hal itu tentu membuat pria itu tidak bisa langsung percaya.
"Berikan itu padaku?" Jeaven menunjuk ke arah amplop putih yang masih digenggam Verlin.
"Ini bukan apa-apa," ucap Verlin yang langsung menyembunyikan benda incaran Jeaven itu di balik punggungnya.
Tak mengindahkan ekspresi keberatan si wanita Jeaven langsung menyabet paksa amplop tersebut dan langsung membacanya. Hingga kerutan di dahi tercetak seketika.
"Kau, sakit?"
Bersambung~~
Siap-siap untuk bab-bab selanjutnya memasukki konflik ya guys..
__ADS_1
Karyaku masih sepi saja ya. Kayak kuburan. Sepertinya mang banyak yang harus Nofi perbaiki.😌