
Bismillah ... semoga masih ada readers yang mau baca ....
Sebongkah perasaan duka terpancar jelas pada sepasang jendela hati Jesslyn yang kini tampak berembun. Kabar kepergian Verlin yang untuk selamanya tentu membuat ia tertegun.
Seolah berat untuk percaya. Verlin yang selama ini dikenal sebagai sosok baik dan ramah ternyata sudah tiada. Rasa sesal pun mulai menyesakkan dada. Andai tahu waktu dulu di gereja adalah pertemuan terakhirnya bersama mendiang tentu ia akan bersikap lebih baik tanpa menyisakan rasa kecewa.
Masih berada di dalam gendongan Jeaven, Jesslyn membalas tatapan pria itu dengan sekeping rasa pilu. "Kapan?" Ia berucap lirih.
"Seminggu setelah kami tidak jadi menikah kondisi kesehatannya kritis karena penyakit yang ia derita," jawab Jeaven yang mampu membaca ke mana arah pertanyaan Jesslyn.
"Jadi selama ini dia sakit?"
"Iya."
Jesslyn, maaf. Pada akhirnya aku menjadi tokoh jahat di kehidupanmu.
Karena aku sudah menusukmu dari belakang. Merebut Jeaven darimu.
Sederet ucapan kalimat terakhir Verlin tetiba mengambang di ingatan Jesslyn. Dia juga teringat akan rona pucat di wajah mendiang. Ah! Kenapa dulu ia bisa abai dengan ekspresi menyedihkan itu? Seketika ia merasa telah menjadi manusia paling jahat.
"Kenapa di akhir hidupnya begitu memilukan?"
"Sudah takdirnya." Jeaven berniat mengecup pelipis Jesslyn tapi wanita itu buru-buru memalingkan muka. Hingga cita-citanya itu harus terjeda.
Mahkluk cantik bermutiara hazel itu tiba-tiba mendengus karena kesal. Dipukul kasar dada Jeaven dengan lima jari yang mengepal.
"Kenapa?" Jeaven tentu keheranan dengan sikap random Jesslyn.
"Kau itu memang bajingan, Jeav! Kau sudah membawa Verlin berdiri di depan pendeta tapi ujung-ujungnya tidak jadi dinikahi. Apa kau tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Verlin waktu itu? Hatinya kau buat hancur hingga berkeping-keping! Apa kau tidak berpikir sampai ke sana?!"
"Iya aku memang bajingan." Jeaven mengakui, meski sebenarnya juga tengah keheranan dengan jalan pikiran Jesslyn. Bukannya merasa lega wanita itu justru marah karena dia tidak jadi menikahi Verlin.
"Kau harusnya berpikir sebelum berkeputusan dan mendalami perasaanmu sebelum bertindak. Ya Tuhan ... aku sungguh mengasihani Verlin. Kau jahat, Jeav." Jesslyn sedikit menurunkan pandangannya yang kembali sendu.
__ADS_1
Hati menghangat, itu yang dirasakan Jeaven saat melihat reaksi Jesslyn. Dari dulu ia tahu bahwa permata hatinya itu memang memiliki sisi kelembutan bak bentangan kain sutera. Wanita itu masih sempat mengasihani orang lain padahal hatinya sendiri tengah terluka.
"Itulah alasannya aku tidak jadi menikahinya."
"Alasan apa? Hah?"
"Seperti yang kau katakan barusan."
"Maksudnya?" Otak cerdas Jesslyn mendadak kentang. Padahal dia yang berkomentar tapi dia juga yang kebingungan.
Ekspresi kesal Jesslyn yang tiba-tiba berubah kebingungan membuat Jeaven merasa gemas hingga hati merasa geli. Mata bulatnya tampak melebar diikuti alis yang terangkat membuat ia terlihat seperti anak kelinci.
Kalau boleh Jeaven ingin membawa pulang si wanita dan memeluknya sepanjang hari. Tetapi ia harus bersabar hingga sukses menyeret makhluk penuh pesona itu ke dalam ikatan janji suci.
"Aku tidak bisa menikah kecuali denganmu."
"Tapi aku tidak mau menikah denganmu." Jesslyn menjawab cepat tanpa berpikir lama. Ia masih keukuh dengan penolakannya. Bahkan ucapan Jeaven yang terdengar manis pun tak mampu menyentuh dinding relung jiwa. "Lagian tidak akan ada kehangatan cinta sekalipun kita menikah. Dan pernikahan seperti itu akan jauh dari kata bahagia."
Jesslyn menggeliat agar bisa turun dari gendongan Jeaven. Namun Ia mulai kesal karena pria itu masih enggan menurunkannya.
"Jess."
"Turunkan aku."
"Aku mencintaimu, Jesslyn."
Deg!
"Sangat mencintaimu."
Deg!
Jesslyn membisu karena lidah enggan memungkiri. Betapa manis ucapan Jeaven hingga mampu mengundang getaran syahdu di relung hati. Laksana sukma melayang ke awang bersama alunan merdu sebuah diksi. Indah memang bagi insan yang dulu pernah mendekap asa teramat tinggi.
__ADS_1
Namun, itu hanyalah kilasan rasa yang kini kembali terkukung oleh ego manusiawi. Pikirannya melesat cepat, menepis bisikan batin yang tengah merayu emosi. Kegigihannya tak akan dibiarkan terlanda erosi.
Lebih tepatnya Jesslyn yang sekarang lebih menitik beratkan sebuah akurasi akan perasaan hati. Masih terngiang di kepala tentang rasa yang kala dirinya kepayahan mengobati luka karena tersakiti. Ia tidak ingin rasa kelam itu kembali menaungi. Inilah alasan ia masih takut untuk menaruh harapan tinggi. Apalagi kepada seorang pria yang beberapa bulan trakhir ini berusaha ia hapus dari memori.
"Sudah aku katakan berpikirlah sebelum berkeputusan. Termasuk memutuskan kalimat apa yang akan kau biarkan meluncur dari lidahmu itu." Jesslyn menekankan. Sorot matanya teramat ketara akan seberkas ketidak percayaan. Pengakuan Jeaven seolah hanyalah sederet bualan.
Gendongan Jeaven perlahan mengendur bersamaan tubuh Jesslyn yang beringsut turun menapaki bumi. Tetapi sebelah tangannya masih dibiarkan melingkari pinggang ramping si wanita dengan keposesifan yang disokong oleh naluri lelaki.
"Kau tahu bagaimana aku saat berkata, Jesslyn. Setiap kalimat yang ku ucap pasti sudah kupikirkan terlebih dahulu."
"Ya tentu saja aku tahu. Itulah sebabnya aku juga masih memegang semua perkataanmu dulu. Yang di mana kau menegaskan bahwa tidak mencintaiku. Sebuah kalimat yang telah kau pikirkan sebelum disampaikan kepadaku. Lalu aku harus apa? Harus percaya dengan bualanmu barusan? Maaf, terlalu sulit bagiku." Kalimat menohok Jesslyn berhasil membuat hati seorang Jeaven tercubit nyeri. Pria itu bagaikan terkena bomerang yang dilemparnya sendiri.
Jesslyn mengambil satu langkah ke belakang agar menjauh, tapi sia-sia. Disokong oleh keposesifan Jeaven kembali menarik tubuhnya. Hingga keduanya berada ke dalam pelukan yang sama.
Sepasang mata bulat Jesslyn mengerjap pelan kala Jeaven menuntun jemari untuk bermuara di pipinya. Jarak wajah mereka yang dekat mengantar hembusan napas untuk saling menyapa. Sepasang jendela hati pun tak menolak untuk saling bertukar pandangan penuh akan sejuta makna.
"Nggak apa-apa. Berpikirlah tentangku senyaman hatimu." Jeaven tersenyum maklum dan mencoba untuk bersabar dalam menghadapi keras hati Jesslyn.
"Bisakah kau bersikap seperti dulu saja? Ketimbang sekarang, nyatanya aku lebih nyaman dengan sikapmu yang selalu keras dan dingin kepadaku. Lebih tepatnya aku sudah terbiasa."
"Kenapa harus begitu? Aku tidak bisa."
"Sikapmu yang seperti ini malah menyusahkanku." Jesslyn membebaskan diri dari lilitan tangan Jeaven, berbalik badan lalu berjalan pergi menyusuri trotoar. Entah ke mana ia akan menuju yang jelas berada lama-lama di dekat pria tampan yang penuh pesona itu bisa menjadi petaka hati baginya. Dan dia tidak ingin itu terjadi.
Sembari memandangi punggung Jesslyn, Jeaven kembali mengulas senyum meski harus berakhir dengan helaan napas berat. "Jadi begini yang dirasakan Jesslyn dulu saat berkali-kali aku tolak."
Bersambung~~
Halo para readeras kesayangan. Nofi balik lagi nih🥰 Maaf ya baru aku tinggal main ninja warior di dunia nyata😁
Maklumin aja ya, namanya juga babu orang china jadi ya harus radak sok sok sibuk dong. Hehe.. bercanda.
Makasih ya masih bersedia mampir baca dan memberi dukungan kepada karyaku ini.
__ADS_1
LoVe yOu😘