Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Di Penghujung Usia


__ADS_3

"Jeav, gimana? Apa kau sudah bertemu dengannnya?" Jennis langsung menghadang sang kakak yang baru saja tiba dengan pertanyaan menuntut akan jawaban.


Lidah seolah berat untuk hanya sekedar melepas sepatah dua patah kata. Jeaven memilih menjawab dengan sebuah gelengan kepala. Cukup membuat Jennis mengerti apa maksudnya. Bahwa sebuah kabar gembira belum ingin menemani realita.


"Apapun kondisinya itu dan entah kapan waktu itu, jika suatu saat Jesslyn kembali atau kau bertemu dengannya di suatu tempat jangan biarkan dia pergi lagi dari sisimu. Kau berhutang maaf atas kesalahanmu. Dan kau juga berhutang kebahagiaan untuknya." Mata sayu Jennis menunjukkan keseriusan saat berbicara.


Kali ini tutur kata Jennis sedikit mampu menarik Jeaven dari rasa gundahnya. Pria tampan bermata elang itu mencoba menyelami makna sesungguhnya dari raut muka si adik di depannya.


"Jangan berkata seperti itu, jika pada akhirnya kau menanggung perih di hati."


"Jangan sok tegar jika kau sendiri juga merasakan hal yang sama selama ini." Jennis malah balik menyerang Jeaven dengan perkataan menohok.


"Beristirahatlah." Jeaven tampak enggan menanggapi ucapan Jennis yang terkesan memojokkan. Selain itu, rona pias di wajah adiknya itu lebih menarik rasa khawatirnya sekarang.


"Kau mencintainya." Jennis rupanya belum bosan membuat Jeaven kembali kesulitan untuk bersuara. "Kau tinggal mengakuinya."


Jeaven segera menarik matanya dari tatapan mengintimidasi Jennis. "Kau yang mencintainya," kilahnya mengkambing hitamkan sebuah fakta yang ada. Yaitu, Jennis memang mencintai Jesslyn.


Jennis tersenyum miris atas dirinya yang tak berguna. Sudah sampai di titik situasi seperti ini Jeaven masih saja berusaha menjaga perasaannya, berusaha membuat ia bahagia. Sedangnya dia yang sebagai adik hanya bisa menjadi beban luka. Bahkan beban keluarga. Begitu pikirnya.


"Kau juga mencintainya. Kita mencintai wanita yang sama yaitu Jesslyn Seanie Willson." Jennis memberi penekanan di penghujung kalimatnya.


"Kau terlalu banyak berbicara."


"Kau yang terlalu irit berbicara," tukas Jennis tidak mau kalah. Namun, ia tiba-tiba sedikit limbung karena sensasi denyutan tajam di kepala.


Jeaven tak banyak berkata. Ia lebih memilih bertindak dengan membawa Jennis ke kamarnya.


Usai memastikan Jennis minum obat dan beristirahat Jeaven kembali ke kamarnya. Dilepas racing suit yang membungkusi badan dan dibiarkan terkapar di lantai begitu saja. Sentuhan denyutan tiba-tiba menyadarkannya bahwa ia memiliki sebuah luka kecil di lengannya. Sebuah memar kemerahan akibat terjatuh saat tadi ia berlatih bersama kuda besinya.


Jeaven hanya memberi perhatian sekilas pada lukanya yang dianggap tak berarti itu. Namun, sesaat ia membatu bersama ingatan yang tiba-tiba mengetuk pikiran.


"Bryan. Kenapa Jesslyn bisa pergi bersama pria itu?" Ia menghempas tubuh di bibir ranjang diikuti tangan menggusar kasar rambutnya yang legam. Desisan frustrasi terdengar pilu, mengusir pembawaan ciri khasnya yang tenang.


Beberapa hari kemudian.


"Sungguh kau tidak apa-apa?" Jeaven kembali bertanya untuk memastikan tentang kondisi Jennis. Ia tak hentinya menatap cemas wajah sang adik yang terlihat lebih pucat kali ini.


Andai Jennis tidak bersikeukuh dengan permintaannya agar bisa menaiki motor tempur milik Jeaven, tentu sepasang kakak beradik itu tidak berada di sini sekarang. Yaitu di sirkuit balap tempat yang biasa digunakan Jeaven untuk berlatih di atas motornya.

__ADS_1


Jennis masih tak bersuara, hanya menjawab pertanyaan Jeaven dengan sebuah senyuman terbaiknya disertai sebuah anggukan pelan.


Di sisi lain, Jeaven sebenarnya tengah menekan denyutan sesak di ulu hatinya diam-diam. Perasaan bertaut resah membumbung ketidak nyamanan yang teramat dalam. Itulah sebab, beberapa hari terakhir ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Jennis siang dan malam.


Hati seorang kakak seolah enggan berjauhan terlalu lama dengan adik yang sangat disayanginya. Dan hal itu, juga dirasakan Jennis sebagai adik yang selama ini selalu berlimpah perhatian dari sang kakak tercinta.


"Kau harus memakai helm."


"Tidak perlu, kepalaku tidak akan kuat menyanggahnya. Helm ini terlalu berat untuk aku yang lemah ini," tolak Jennis lengkap dengan alasannya. Dia masih setia dengan senyuman di bibirnya yang pucat.


Senyuman Jennis kian mengembang menyadari ekspresi cemas Jeaven. "Kau cukup melaju sedikit pelan. Anggap saja kau sedang membonceng bocah kecil. Aku hanya ingin naik motor bersamamu. Itu saja aku sudah senang." Ia meyakinkan sang kakak.


"Aku bantu kau naik," ucap Jeaven, menuntun dengan hati-hati tubuh rapuh Jennis menuju motor besarnya lalu membantu si adik naik di jok belakang.


"Oya, tunggu sebentar." Jennis tiba-tiba mengeluarkan sebuah amplop surat dari saku lalu disodorkan ke Jeaven. "Tolong sampaikan surat ini kepada Jesslyn jika kau bertemu dengannya."


Garis kerutan seketika tercetak di antara alis tebal Jeaven. Sikap Jennis kian menumbuhkan gelenyar tidak nyaman di dada. "Kau bisa memberikan surat itu dari tanganmu sendiri."


"Aku tidak akan berkesempatan."


Sekali lagi Jeaven menerima denyutan pilu yang membuat perasaannya lemah. Ucapan Jennis tak henti menabuh resah.


"Aku tidak suka mendengar jawabanmu itu." Jeaven masih berusaha terlihat tegar. Dia menerima amplop surat titipan Jennis lalu lalu menaiki motornya.


"Berpegangan." Jeaven menarik kedua tangan Jennis untuk melingkari perutnya.


"Iya."


Dengan hati-hati Jeaven mulai menghidupkan mesin motor lalu membawanya terjun ke atas lintasan sirkuit balap. Motor melaju dengan kecepatan sedang dan tanpa melepas pengawasannya dari Jennis yang duduk di belakang.


"Sudah lama sekali aku memimpikan hal ini. Menaiki motor balapmu." Jennis kembali memulai percakapan seraya menikmati hembusan angin yang menabrak wajah pucatnya.


"Kau senang?" Jeaven sedikit menoleh ke samping agar suaranya mudah dijangkau pendengaran Jennis.


"Sangat."


"Tetap berpegangan." Jeaven kembali mengingatkan.


"Jeav."

__ADS_1


"Apa?"


"Berjanjilah untuk bertanggung jawab kepada Jesslyn agar aku bisa tenang di alam sana."


"Baiklah," ucap Jeaven yang masih setia dengan denyutan pilu di dada.


"Jeav."


"Hm?"


"Aku bermimpi bisa hidup bahagia bersama Jesslyn. Lalu mencetak senyuman kebahagiaan di bibir mommy dan daddy dengan memberi mereka banyak cucu. Dan juga membuatmu bangga memiliki adik sepertiku. Tapi nyatanya, mimpi hanyalah mimpi. Tidak akan pernah berubah menjadi kenyataan."


"Apa yang kau katakan? Kau sudah membuatku bangga." Jeaven melirik ke arah kaca spion dan senyuman Jennis terbias di sana.


"Jeav."


"Ya?"


"Wujudkan impianku itu, ya? Karena aku tidak mampu mewujudkannya sendiri."


"Baiklah." Jeaven menjawab pasrah. Lidahnya saat ini sudah terlalu berat untuk berkata banyak.


"Jeav, maafkan aku yang selama ini egois. Aku sudah lama tahu tentang perasaanmu ke Jesslyn, tapi aku dengan teganya berlagak buta." Suara Jennis terdengar melemah.


"Aku mohon, jangan katakan apapun lagi. Aku akan marah." Suara Jeaven bergetar. Gemuruh di dada kian menyesakkan dan siap meledak kapan saja.


"Sebenarnya aku lah yang paling jahat di sini. Aku sudah menjadi tembok penghalang di antara kau dan Jesslyn." Ucapan Jennis sedikit tersendat karena tarikan napasnya yang kian melemah. "Jeav, aku sangat menyayangimu. Terima kasih ... karena kau sudah banyak berkorban untukku. Sampai mati kau tetap menjadi pembalap motor idolaku." Bulir air mata mulai mengiringi setiap lisannya. "Se ... lamat ... tinggal."


Lidah Jeaven sudah tak sanggup lagi melepaskan kata. Ia hanya mampu mendengar setiap pesan Jennis dan merekam kuat ke dalam memori ingatannya. Ia juga merasakan beban tubuh sang adik yang sudah bersandar lemah di punggungnya.


Hingga ... lingkaran tangan Jennis di perutnya kian mengurai dan terkulai lemah. Jeaven segera menghentikan laju motornya dengan perasaan gundah. Diraup tangan dingin sang adik lalu memberi tepukan resah.


Menguncang tubuhnya agar Jennis kembali membuka mata. Namun, takdir sudah menunjukkan kuasanya. Dengan kasih sayang Tuhan pemuda yang selalu menebar senyum itu berpulang ke pangkuan-Nya.


"Jennis!"


Tak lagi kuat menahan kesedihan di dada. Jeaven langsung melepaskan air mata di sela isakan luka. Sungguh, ia belum siap kehilangan sang adik semata wayangnya.


Selamat tinggal Jennis. Tersenyumlah, surga adalah tempat terindah untukmu. Kami semua menyayangimu.

__ADS_1


Bersambung~~


Terus terang, Nofi nangis pas ngetik😭


__ADS_2