
Termangu dalam gundah, Jennis tampak duduk di sebelah ranjang tempat Jesslyn terbaring lemah. Ia beberapa kali menghela kesah, karena cemas yang masih menjajah.
Sesekali diusap punggung tangan Jesslyn dengan lembut, sebagai bentuk dari perhatiannya. Dipandang hangat wajah cantik itu yang masih memejamkan mata, seiring dengan bisikan doa agar dia segera baik-baik saja.
Namun, pria itu juga sempat bertanya-tanya di dalam hati. Dan sesekali berdecak kesal meski tak sampai emosi.
Sebenarnya ada apa denganmu? Sudah tahu kau tidak bisa keluar sendirian saat turun salju tapi malah menyetir mobil tanpa ada seseorang yang menemani. Bodoh!
Jennis terhenyak dari lamunan saat seseorang memakaikan jaket di tubuhnya dari belakang. Diputar leher agar mata lebih mudah menjangkau pandang, mencari tahu siapa yang baru saja datang.
"Jeav, kau datang? Jesslyn belum juga sadar." Jennis masih menunjukkan kecemasan pada wajah pucatnya.
"Jesslyn saat ini butuh istirahat cukup saja. Dokter baru saja memberinya obat penenang agar sindrom chionophobia pada dirinya tak kembali menyerang. Setelah sadar dia bisa langsung dibawa pulang," jelas Jeaven.
*Chinophobia merupakan rasa takut berlebih terhadap salju.
"Syukurlah." Jennis menghela napas lega. Bersamaan dengan itu ia memamdangi muka Jeaven. "Apa terjadi sesuatu di antara kalian sebelumnya?" Tanyanya menyelidik. Instingnya mengatakan bahwa kecerobohan Jesslyn kali ini ada sangkut pautnya dengan kakaknya itu.
"Iya. Kami sempat bertengkar sebelumnya. Dan di sini aku pihak yang salah," aku Jeaven. Meski nada suaranya terkesan dingin, tapi gurat-gurat sesal di wajahnya begitu mudah dibaca.
"Jeav, aku mohon. Jika kau tidak menyukainya minimal jangan sakiti perasaannya." Sorot mata Jennis seolah menggambarkan sebuah makna yang begitu dalam.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu terucap dari ujung lidah Jeaven. Tapi percayalah, satu kata itu merupakan bentuk ketulusan dari perasaan sesalnya.
Jennis mengalihkan perhatiannya ke wajah pucat Jesslyn yang tampak damai dalam lelap. "Minta maaflah kepada Jesslyn. Itu yang benar," tuturnya.
"Aku tahu."
Jeaven melirik ke arah arloji yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah waktunya minum obat. Kau harus segera pulang sekarang. Aku sudah memanggil seorang supir untuk menjemputmu. Dia ada di depan."
"Aku tidak akan kemana-mana."
"Pulang," titah Jeaven.
"Jangan paksa aku, Jeav." Rupanya Jennis berniat membangkang padahal dia tahu kalau si kakak tidak suka dibantah.
"Setidaknya pikirkan perasaan Mommy. Sedari tadi ia menelepon karena mengkhawatirkanmu."
Jennis akhirnya pasrah. Kalau sosok sang mommy sudah disebut ia tak mampu lagi mengelak dari perintah Jeaven.
"Jangan sakitin Jesslyn lagi. Kalau tidak ingin berhadapan langsung denganku." Jennis memberi peringatan tegas lengkap dengan sebuah kepalan tangan yang terangkat di depan muka.
__ADS_1
"Iya."
"Aku pergi."
"Hati-hati."
"Awas!" Jennis kembali memperingati sebelum benar-benar keluar. Jeaven hanya membawa ekspresi datar dan dinginnya mengangguk samar.
Selepas menghilangnya tubuh Jennis di balik pintu, Jeaven langsung disadarkan oleh suara pergerakan lemah dari atas ranjang tempat Jesslyn terbaring. Pria itu tak menunjukkan banyak reaksi. Ia hanya segera duduk tanpa bersuara, mengamati si wanita yang tampak beradaptasi saat membuka kelopak mata karena silau cahaya lampu ruangan.
Perlahan Jesslyn mengedarkan pandangan lemahnya ke sekeliling, mencoba meraup kembali kuasa pada tubuh dan mencerna keadaan. "Ck! Lagi-lagi aku di rumah sakit." Ia berdecak miris dalam lirih.
"Beristirahatlah dulu," tutur Jeaven yang langsung menarik perhatian penghuni ranjang rumah sakit itu.
Denyutan pilu di rongga dada tiba-tiba kembali menyapa. Jesslyn sontak memasang mimik kecewa. Teringat akan sikap Jeaven di restauran tadi membuat ia malas untuk bertatap muka.
Diputar tubuhnya hingga memunggungi si pria. "Pergilah, aku sedang ingin sendiri," ketus Jesslyn. Sungguh, ia ingin menyembunyikan raut wajah lemahnya.
Dalam tenang Jeaven tak menyangka. Baru kali ini Jesslyn bersikap dingin di depannya. Entah mengapa, rasanya sangat berbeda. Apakah karena belum terbiasa? Mungkin saja.
Namun, gegas ia coba untuk memaklumi. "Aku akan tetap di sini, menjagamu."
"Terserah kau saja. Lagian Aku tidak akan berkuasa mengusirmu yang tidak suka dibantah."
"Maaf. Aku telah salah kepadamu."
Jesslyn bergeming, tak langsung merespon ucapan Jeaven yang sangat ia tahu tujuannya. Samar-samar wanita itu terdengar menghela napas berat untuk melepas ganjalan perasaan di dada. Ia memutar kembali tubuh dan langsung disambut tatapan hangat pria yang masih bertahta di hatinya.
Kedua insan itu kembali tak bersuara, hanya bahasa mata yang saling berbicara. Iringan detak jantung terdengar menggema di jiwa. Mereka seolah tengah saling menyelami apa yang dirasa.
Sungguh, Jesslyn terlena dengan tatapan hangat Jeaven yang menurutnya sangat langka. Namun, hati kecilnya sudah bertekat untuk lebih menjaga harga dirinya sebagai wanita. Ia sadar, semakin keras seseorang mengejar sesuatu, maka apa yang dikejar justru semakin menjauh.
Sepasang netra cantik Jesslyn reflek mengerjap saat jemari besar Jeaven menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian mukanya. Sedetik kemudian, pria itu menempelkan telapak tangan di dahi si wanita untuk memeriksa suhu badannya.
"Panasmu, sudah turun." Jeaven berniat menarik kembali tangannya yang masih menempel di kening Jesslyn, tapi urung terlaksanakan karena wanita itu meraih tangannya.
"Apa kau tidak memiliki sedikit saja perasaan untukku?" Jesslyn menatap lekat ke arah Jeaven yang juga balas menatapnya.
"Kenapa masih bertanya?" Jeaven berkata ambigu, tapi bisa langsung ditangkap maknanya oleh si lawan bicara.
Jesslyn langsung melepaskan kembali tangan Jeaven, disusul senyuman miris dan siap bersuara. "Jangan memberiku perhatian seperti tadi jika sedikit perasaan pun tidak kau miliki. Itu bisa menyulitkanku."
__ADS_1
"Kau tidak seharusnya banyak bicara untuk saat ini, Jesslyn. Beristirahatlah beberapa jam lagi. Setelah itu aku akan mengatarmu pulang." Jeaven memilih mengalihkan topik.
"Apa keluargaku sudah tahu tentang kondisiku?" Seolah masa bodoh dengan sebentuk perhatian Jeaven, Jesslyn juga memilih mengalihkan topik.
"Belum," jawab singkat Jeaven. Sangking mencemaskan Jesslyn ia sampai tidak kepikiran untuk menghubungi keluarga wanita itu.
"Bagus, mereka tidak perlu tahu. Lagian aku sudah baikan sekarang." Jesslyn mencoba bangkit dari posisi terbaring dan Jeaven tampak berusaha ingin membantu. Namun, wanita itu mencegahnya dengan sebelah tangan mengibas lemah di depan muka.
Untuk kesekian kali, netra cantik Jesslyn kembali menatap lekat netra tajam Jeaven yang juga membalasnya. "Sekali lagi aku bertanya, apa kau mencintaiku?"
Beberapa saat pria itu tak langsung menjawab. Seperti ada yang dipikirkan.
"Tidak." Berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Jeaven menjawabnya dengan tegas dan jelas. Tentunya langsung dimengerti si lawan bicara.
Dan terulang lagi, senyuman miris kembali menghiasi wajah cantik Jesslyn. "Kalau begitu, kau tidak perlu bersikap sok perhatian seperti ini. Aku sudah katakan tadi kalau itu bisa menyulitkanku."
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil."
"Aku hanya mencoba menyelamatkan hatiku agar tidak kembali patah karena terlalu berharap kepadamu," sela Jesslyn dengan cepat.
Tatapan tegas Jesslyn mencerminkan ketekatan hati. Bukan bermaksud berhenti mencintai, hanya ingin berbenah diri. Lagian tidak mudah menghapus rasa istimewa hanya sekali kedipan mata atau sekali jentikan jari.
Seperti yang sudah tertulis sebelumnya, memang tidak mudah itu nyata. Meski wanita itu tengah mati-matian menahan gejolak rasa, tapi buktinya sia-sia. Cairan kecewa mulai membingkai mata dan siap-siap tumpah kapan saja.
Selama ini, Jesslyn sudah terlalu tangguh mengejar cintanya dalam waktu yang lama. Namun, bukan berarti dia tidak menyimpan lara di sela perjuangannya. Di balik kegigihan, senyuman, dan sikap ceria, ia juga terluka.
Ibarat kata, kepingan fuzzle luka hati yang diterima dari dulu kini sudah terkumpul sempurna. Hingga menciptakan sebuah lingkaran kecewa yang tak lagi bercela.
Jeaven tertegun saat pandangannya menyelami sorot mata Jesslyn yang sarat akan luka. Selama mengenal Jesslyn, baru kali ini ia melihat langsung raut serius yang tak seperti biasa.
"Jangan nangis," pinta Jeaven yang tak hanya sekedar formalitas basa-basi dalam menghadapi orang bersedih, melainkan benar-benar tulus dari hati.
"Jangan larang aku untuk tidak menangis, sementara kaulah penyebabnya." Jesslyn mendessah berat. "Apa kau tahu? Ratusan kali kau menolakku dan ratusan kali juga hatiku patah. Itu yang membuatku menangis, meratapi kebodohanku."
"Aku sudah katakan dari dulu untuk menyerah dengan perasaanmu."
"Iya." Jesslyn hanya mampu menjawab singkat, karena desiran pilu di hati seolah membekukan lidah.
"Kau berhak bahagia dengan pria lain, Jess."
"Baiklah, aku akan mencari kebahagiaanku itu."
__ADS_1
Deg!
Bersambung~~