Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Tragedi Handuk


__ADS_3


Derap langkah semangat membawa Jesslyn memasuki sebuah halaman luas berhias taman. Hati sudah tidak sabar ingin kembali bertemu dengan si pria pujaan.


"Pagi, Aunty Jenny," sapa Jesslyn kepada nyoyah Allison setelah tanpa permisi menjejakkan kakinya ke dalam kediaman Jeaven.


Jesslyn memang sudah terbiasa bebas keluar masuk ke mansion milik keluarga Allison dengan sesuka hati. Ia juga sering kali makan dan tidur di kediaman sahabat orang tuanya itu seperti di rumahnya sendiri.


Apalagi sang tuan rumah juga selalu membuka lebar pintu, menyambut dengan senyuman, membentang lebar kedua tangan, dan bahkan sudah menganggapnya selayaknya putri sendiri. Jadi wajar jika wanita itu tak lagi memiliki rasa segan.


"Pagi, Jesslyn sayang. Jeaven masih berada di kamarnya." Jenny memang sudah sangat hafal dengan tujuan utama kedatangan putri sahabatnya itu.


"Iya, Aunty." Jawabnya lalu kian menambah kecepatan langkah kaki.


"Sekalian ajak dia turun untuk sarapan ya," pinta Jenny setengah berteriak karena Jesslyn sudah menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua.


"Baik, Aunty," jawabnya dengan setengah berteriak juga, sambil melanjutkan langkah kaki antusias.


Sementara itu ....


Harum aroma khas sabun mandi menguar ke seluruh ruangan kala Jeaven keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggang. Rambut hitam yang masih basah tampak menutupi sebagian wajah tampannya.


Ia berjalan menuju ke walk in closet. Namun, niatnya terjeda saat daun pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar tanpa permisi. Dan bersamaan dengan itu pekikan kecil terdengar dari bibir Jesslyn.


"Kyaak! Kenapa kau tidak berpakaian?!" Jesslyn sontak menutup wajah menggunakan jari-jari lentiknya, tapi kaki masih membawa diri untuk masuk ke kamar lebih jauh. Dan masih sempat mengintip dengan perasaan mendamba dari cela jemarinya.


Dia malu sebenarnya, tapi juga tidak ingin menyia-nyiakan pemandangan eksotis di depan mata. Terlalu sayang jika dibiarkan begitu saja. Harus diabadikan di dalam otaknya, biar terkenang di sepanjang masa. Haha!


Berdecak kesal, Jeaven menggiring raut dinginnya ke arah si wanita yang bertingkah sok malu-malu kucing itu. "Ketuk dulu pintunya jika ingin masuk, Jesslyn."


Berjalan mendekat, pria itu menarik tangan Jesslyn yang masih menutupi muka. Sehingga dada telanjang nan bidangnya memenuhi ruang mata si wanita. Terlihat jelas makhluk cantik itu tengah canggung di atas pijakan kakinya.


"Dan ini kamarku, terserah aku mau berpakaian atau tidak. Kau tidak berhak protes. Mau apa lagi kau datang?" ucapnya mempertegas, diakhiri kalimat tanya.


Jesslyn berdehem untuk mengurangi kegugupannya sebelum bersuara lagi. "Aku menuntut penjelasanmu tentang ini," makhluk cantik itu menoleh ke samping, memperlihatkan beberapa tanda merah di lehernya. "Ini pasti perbuatanmu, kan?" Tudingnya dengan sangat penuh percaya diri. "Di dadaku juga ada banyak, tapi aku tidak mungkin menunjukkannya kepadamu," imbuhnya sedikit menurunkan pandangan, air mukanya tampak tersipu malu, kedua pipi juga memerah bak buah ceri di musim semi.

__ADS_1


Diam-diam Jeaven menelan saliva, saat ini dia bagaikan kucing yang tertangkap basah mencuri ikan tetangga. Pria itu memang tak berniat mengelak atas perbuatannya.


Aku tidak menyangka bisa sampai semerah itu, betapa bodohnya aku!


Batinnya berbisik, merutuki dengan apa yang sudah diperbuatnya tadi malam.


Melepas cengkeramannya dari tangan kecil Jesslyn, Jeaven lantas menatap lurus ke arah wajah wanita yang sarat akan tuntutan jawaban darinya. "Itu karena kau yang memulainya," jawabnya dengan pembawaan tenang. Padahal, ia tengah menutupi rasa canggung yang menggerayangi hati.


"Jadi kau mengakuinya?" Jesslyn masih tampak tak percaya. Padahal dia sudah menyiapkan kuda-kuda maut jika Jeaven mencoba berkilah.


"Iya."


Jesslyn kian tercengang, ekspresi datar Jeaven seolah menunjukkan bahwa apa yang terjadi di antara mereka semalam adalah hal biasa.


Meski, wanita cantik itu belum seutuhnya mengingat apa yang telah terjadi, tapi dengan adanya kissmark dan juga pengakuan Jeaven barusan semakin membuat ia yakin bahwa sesuatu sempat terjadi.


Mungkin bagi kebanyakan orang yang menjadi warga di negara yang menganut paham liberalisme, ciuman atau bahkan bermain panas di atas ranjang secara bebas tanpa ikatan status jelas dipandang tabuh. Namun, itu tidak berlaku untuk Jesslyn. Di usia yang sudah menginjak angka 25, wanita itu masih sangat menjaga kehormatannya.


Ayolah kawan! Jesslyn memang cinta gila kepada Jeaven, tapi bukan berarti ia akan melupakan segala nasehat dari kedua orang tuanya. Yaitu, 'Kesucian wanita harus tetap dijaga sampai berada dalam ikatan janji suci di depan Tuhan, biarkan seorang pria yang disebut suami yang mendapatkan kehormatannya'


"Apa ini cukup membuatmu ingat?" Jeaven menunjuk ke arah sobekan kecil pada bibir bawahnya. "Ini ulahmu."


Sejenak Jesslyn membatu, memaksa otak untuk bekerja lebih keras, mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang sempat terlupakan. Dan ia seketika syok saat sudah mengingat semuanya. Mulut menganga lebar dengan suara tercekat di tenggorokan.


Jesslyn yang semalam berubah menjadi wanita agresif. Dia menggoda Jeaven seperti wanita nakal, mencium bibir dan menyentuh batang si pria dengan liar. Sungguh sulit dipercaya.


"Tidak mungkin itu aku." Ia ingin mengelak kenyataan tapi itu juga tidak mungkin. Dipandangi sebelah tangannya yang semalam dibuat menyentuh milik Jeaven. "Tapi aku tidak bisa mengingat bagaimana rasanya. Aw! Sakit!"


"Berhenti membayangkan!" Sentak Jeaven setelah menyentil geram kening Jesslyn.


Bisa-bisanya wanita itu seolah tidak terkesan malu, padahal si pria diam-diam sudah menahan hasrat yang kembali merayap ke dalam darah. Setiap mengingat kejadian semalam, entah mengapa tubuhnya langsung bergairah.


"Kau dan Jaeden itu sama saja, suka sekali menjitak keningku," protes Jesslyn.


"Keluarlah! Jangan merusak mood pagiku," usir Jeaven, lalu berniat masuk ke walk in closet untuk berpakaian.

__ADS_1


"Kau harus menikahiku."


Langkah Jeaven kembali terjeda. "Berhentilah bermimpi, Jesslyn. Menikahlah dengan pria lain saja."


"Meski kita tidak sampai melakukan hubungan badan, tapi kau sudah menyentuhku."


Kali ini, Jeaven sedikit melunakkan gurat-gurat di wajahnya, bahkan sorot matanya mulai melembut. Terus terang, rasa sesal jelas ada di hati Jeaven. Mengingat perbuatannya semalam hampir saja melecehkan Jesslyn. "Maaf, aku memang salah, tapi untuk menikahimu aku tidak bisa."


Jeaven malangkah lebar masuk ke walk in closet, berniat menyudahi interaksinya dengan Jesslyn. Namun, wanita itu ternyata masih enggan untuk menyerah dan mengikutinya masuk ke dalam.


"Ahk!"


Kedebug!


Kurang berhati-hati saat melangkah, Jesslyn terjatuh karena kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja menarik handuk yang meliliti tubuh Jeaven.


"Kyaaaakk!" Wanita itu langsung menjerit histeris saat melihat kondisi Jeaven yang sudah tak berbungkus kain.


"JESSLYN ...! KELUAR!"


Bersambung~~


...Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian ya kawan....


...Follow akun...


...Tap tanda Favorite...


...Tampol ganas like di setiap bab...


...Kasih komen positif di setiap bab...


...Gift dan Vote juga boleh...


...Terima Kasih ya ... kehadiran kalian adalah pengemangat Nofi. Jadi kalian pasti tahu betapa beharganya sentuhan dukungan kalian di hati ini. Meski karya ini masih sepi..Hihihi😁...

__ADS_1


__ADS_2