Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Salah Paham


__ADS_3

Musim turnamen balap MotoGP terus digelar sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Setelah Swiss, Perancis, Jerman, dan Italia kini bergilir Autria yang berikutnya menjadi tuan rumah perhelatan.


Deru mesin motor terdengar menggema di langit-langit sirkuit balapan. Pertarungan sengit terus berlangsung guna menggasak kejuaraan. Para peserta turnamen saling unjuk kekuatan di atas medan lintasan, melesat dengan kecepatan tinggi bak peluru senapan.


Sorak sorai dan gemuruh tepuk tangan para penonton menyambut antusias pemegang garis finish di lap terakhir. Kali ini sang pembalap Ice Gun J.J kembali menyabet podium pertama yang tentu kian membumbung namanya di lingkar karir.


Seperti yang sudah menjadi ciri khasnya, Jeaven tidak pernah menunjukkan luapan ekspresi meski meraih kemenangan. Pembawaannya stay cool dan sedikit diam dengan senyuman super tipis tapi tetap tampan.


Usai sesi serah terima medali penghargaan dan konferensi pers Jeaven segera berjalan menuju basecamp tim tanpa menunggu yang lainya. Bayangan si pujaan hati terus saja terngiang-ngiang di kepala. Naluri sudah didesak oleh titian kerinduan akan pesona wanita yang dicinta.


Gegas diraih ponselnya untuk mendengarkan suara lembut istrinya. Untuk saat ini hanya dengan cara itu rindunya bisa terobati. Kendati kepuasan tak sepenuhnya tercukupi.


Namun, keinginannya itu harus terjeda karena seseorang menyapa. Dia seketika menoleh ke arah wajah cantik yang sedang tersenyum kepadanya.


"Jeav, selamat ya. Kau luar biasa. Ini untukmu. Kau pasti haus." Callena datang memberi selamat lalu menyodorkan sebuah botol minuman. Ia juga langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Jeaven tanpa ada rasa sungkan.


"Terima kasih." Jeaven langsung berdiri dan berpindah ke sudut lain hingga mengundang ekspresi cemberut di muka Callena. Bahkan ia menolak minuman yang sudah tersodor di depan muka. Sikap dingin pria itu beberapa hari ini cukup membuat wanita itu harus berkali-kali mengelus dada.


Kenapa pria ini sangat sulit didekati? Aku seperti sedang berhadapan dengan manusia balok es saja. Callena menggerutu di dalam hati.


Di musim balap MotoGP tahun ini Callena diambil khusus dari perusahaan yang mensponsori Jeaven untuk menjadi umbrella girl pribadi. Tugasnya tidak sekedar mendampingi dan memayungi sang pembalap saat kompetisi akan dimulai, tetapi ia juga menjadi sarana iklan merek produk perusahaan.


Namun sayang, Callena tidak bisa menjalani tugas dengan semestinya. Jasanya pun tak lagi berguna. Jeaven yang sedari dulu terkenal tidak pernah bersedia memakai umbrella girl tentu langsung menolak tanpa banyak kata.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau selalu menolak minuman pemberianku? Aku tersinggung karena sikapmu itu." Callena mulai berani mengajukan protes setelah beberapa hari ini memilih menyimpan perasaan tidak senangnya itu di dalam hati.


"Aku sudah punya sendiri," jawabnya lalu kembali menyisir sedikit jauh sembari menempelkan ponsel di telinga, menunggu permintaan panggilannya tersambung. Dia benar-benar berniat mengabaikan keberadaan Callena.


Sementara Callena lagi-lagi harus meneguk kecewa. Akhirnya dia memilih duduk bersandar di pojokan sembari memejamkan mata. Sebenarnya ia tengah menahan rasa tidak nyaman di perutnya. Bahkan rona pasi mulai tampak membingkai mukanya.


"Halo." Jeaven langsung menyahut kala suara Jesslyn terdengar dari balik telepon.


"Ada apa kau menelepon?" Nada bicara Jesslyn yang masih terkesan ketus membuat Jeaven harus meraup kembali banyak kesabaran. Semenjak keberangkatannya sikap si istri kian sensitif seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.


"Kenapa masih bertanya?"


"Dan kenapa kau malah balik bertanya?" Jesslyn kian ketus.


"Aku sedang hamil. Dan kau di sana malah bersama wanita cantik dan seksi mentang-mentang tubuhku tak lagi indah seperti dulu." Akhirnya Jesslyn meluapkan perasaan yang beberapa hari ini mengganjal di hatinya.


Sedikit tertunduk Jeaven rupanya diam-diam mengulum senyum karena menyadari bahwa Jesslyn sedang dirundung rasa cemburu. Sumpah demi apapun dia menyukai sikap manja istrinya itu. "Dengarkan aku dulu."


"Jangan mencoba berkilah. Aku selalu melihat siaran langsung pertandinganmu dan wanita itu selalu ada di sekitarmu," potong Jesslyn dengan cepat.


"Kau tidak mempercayaiku?"


"Tentu saja. Kau selalu saja dikelilingi wanita cantik. Bagaimana aku bisa percaya kepadamu?" Jesslyn kian mengomel kesal.

__ADS_1


"Bagiku tidak ada satu pun dari mereka yang cantik."


"Bohong! Aku tidak percaya."


"Percayalah. Karena hanya kau yang--"


"Aduuh ...! Jeav. Ahk!" Kalimat Jeaven terpangkas begitu saja karena Callena tiba-tiba mengaduh kesakitan. Wanita itu tampak meringis seraya meremas perutnya hingga hampir pingsan.


Jeaven terkejut dan mendekat, tapi masih menyisakan jarak penyekat. Tangan tak langsung menyentuh Callena kendati degub simpati sudah berhasrat. Tubuh lemah di depannya harus segera diangkat, tapi hati terasa berat.


Sementara di sisi lain, kejadian apa yang terjadi di depan mata ternyata tertangkap berbeda oleh indera pendengaran Jesslyn. Suara rintihan Callena justru terdengar seperti rayuan wanita yang ingin bermain.


Di saat itu pula denyutan perih mendentum dada. Detak jantung tak berirama menggores luka. Sebuah kesalah pahaman telah merajai ruang pikirannya. Jesslyn langsung memutuskan panggilan secara sepihak tanpa bertanya terlebih dahulu kepada suaminya.


Sial!


Umpat Jeaven di dalam hati, menyalahkan keadaan yang selalu saja merusak situasi. Setelah ini sudah dipastikan ia harus lebih bekerja keras untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.


Bersambung~~


Terima kasih ya masih setia mengawal kisah Jeaven dan Jesslyn yang hampir mendekati tamat ini🥰


Lop you😘

__ADS_1


__ADS_2