
Usai ritual makan malam, Jesslyn dan Bryan tidak langsung pulang. Mereka berniat mengunjungi beberapa spot menarik untuk menikmati penghujung weekend.
"Kau ingin ke mana lagi sekarang? Atau pulang saja?" Bryan kembali bertanya kepada Jesslyn setelah keluar dari bangunan mall. Perhatian pria itu tidak dibiarkan beralih terlalu lama dari si wanita untuk memantau kondisinya yang sedang hamil muda.
Jesslyn melihat ke penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya. "Sekarang masih pukul tujuh. Masih sore." Ia membawa otak untuk berpikir sejenak. "Hmm, biasanya di malam weekend seperti ini akan banyak atraksi seniman jalanan di taman kota. Aku ingin melihatnya."
"Apa kau tidak lelah? Karena di sana kau akan lebih banyak berjalan dan berdiri. Di waktu seperti ini akan banyak pengunjung yang memadati taman kota, dan itu berarti akan susah mencari tempat duduk." Bryan mengingatkan dengan penuh perhatian.
"Aku masih memiliki cukup tenaga untuk berdiri selama beberapa jam, bahkan aku juga masih kuat berjalan sampai beberapa kilo meter lagi." Jesslyn tiba-tiba menatap sanksi ke pria berambut blonde itu. "Jangan-jangan kau yang sudah kelelahan?" tudingnya dengan tatapan meledek.
Ledekan Jesslyn langsung disambut oleh gelak tawa Bryan. "Aku bahkan masih bisa berjalan keliling kota sambil menggendongmu," sanggahnya.
"Masa' sih?" Jesslyn tak langsung percaya.
Bryan mengangguk mantap. "Tentu saja, kau mau mencobanya?"
"Tidak, terima kasih," tolak Jesslyn mentah-mentah dan langsung membawa diri memasuki mobil.
Selang beberapa menit keduanya sudah menjejaki bibir taman kota. Mereka langsung di sambut oleh keramaian para pengunjung yang ada di sana. Di beberapa sudut juga terlihat para musisi jalanan berantusias memerkan kebolehannya.
Mungkin karena bawaan si janin yang berada di dalam perutnya, suasana hati Jesslyn berubah girang seketika. Binar cerah pun kian menghiasi wajah cantiknya. Tidak terlihat selayaknya orang yang sedang menanggung beban perasaan gundah gulana, wanita itu benar-benar terlihat bersuka cita.
Di antara para penonton lainnya, ia bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi setelah satu lagu usai dipersembahkan. Diletakkan selembar uang Franc Swiss bewarna ungu di dalam kotak sebelum keluar dari kerumunan. Bryan yang sedari menemani pun masih terus mengikutinya ke mana wanita itu berjalan.
__ADS_1
"Ahk!" Jalan santai Jesslyn harus terganggu kala seseorang tiba-tiba menabrak hingga tubuhnya terhuyun mundur. Beruntung Bryan segera menangkapnya dengan sigap sebelum wanita itu berakhir terjatuh di atas tanah.
"Hei! Apa kau tidak punya mata?!" Hardik Bryan kepada seorang pemuda yang tidak sengaja menabrak Jesslyn saat melaju bersama skateboard kesayangannya.
Pemuda pria itu beberapa kali menunduk seraya membungkukkan badan diiringi ungkapan rasa sesalnya. "Maaf Tuan, maaf Nona saya benar-benar tidak sengaja. Apa kau terluka?"
"Aku tid--"
"Apa kau tidak tahu, kecerobohanmu itu bisa membahayakan dia?!" Seru Bryan kembali kepada pemuda itu dan memangkas begitu saja perkatan Jesslyn.
"Maaf, Tuan." Pemuda itu masih berusaha sadar diri akan posisinya yang memang bersalah.
"Mati saja kau, Sampah!" Maki Bryan yang masih terbuai dalam emosi. Sikap posesifnya kepada Jesslyn membuat ia lepas kendali.
Layaknya ungkapan yang sering kita dengar di kehidupan sehari-hari, yaitu sabar ada batasnya. Dan ungkapan itu pun kini berlaku untuk si pemuda. Ucapan sarkas Bryan ternyata sukses memancing emosinya.
Sementara Jesslyn ia seketika sibuk dengan rasa tidak percayanya. Ucapan sarkas yang baru saja terdengar sukses menepis sebagian persepsi positifnya tentang sosok Bryan. Wanita itu tidak menyangka, orang seramah Bryan memiliki sisi kasar yang tak terduga.
Dan menurut Jesslyn, sikap Bryan kali ini sangat berlebihan.
"Hei! Tuan. Sedikit sopanlah saat berucap," tegur pemuda itu yang masih berusaha menahan amarah yang siap meledak sewaktu-waktu.
"Sekali sampah tetaplah sampah!"
__ADS_1
"Hanya orang sampah yang berkata sampah, Tuan!"
Amarah Bryan kian meluap. Perdebatan sengit di antara keduanya pun tak terelakkan. Hingga berlanjut ke aksi adu otot.
Jesslyn seketika panik. Tidak ingin suasana semakin runyam ia mencoba melerai. Namun na'as, Bryan yang sudah gelap mata seakan tak terkendali. Hempasan kuat pria itu mengakibatkan Jesslyn tersungkur ke tanah.
"Ahk! Sakit ...!"
Amarah yang sudah menjalar ke seliruh desiran darah, membuat Bryan tidak menyadari akan kondisi Jesslyn yang tampak merintih kesakitan dan pingsan.
Hingga dua orang pengunjung yang berada di sana mencoba memisahkan mereka untuk meredam kerusuhan. Bryan seketika sadar dan mengingat akan sosok Jesslyn yang sempat terabaikan.
Diputar tubuhnya untuk memeriksa keadaan si wanita. Akan tetapi, ternyata sosok yang dicari sudah tidak berada di sana. Pria itu pun bingung di saat itu juga. Kecemasan turut menggelayut di rongga dada.
"Apa kau melihat wanita yang bersamaku tadi?" Tanya Bryan kepada seseorang yang diyakininya sudah berada di sana sejak kerusuhan dimulai.
"Wanita bersamamu tadi terjatuh dan pingsan karena kau mendorongnya saat bertengkar tadi. Lalu ada seorang pemuda tampan yang langsung membawanya pergi," terang orang tersebut. Dan Bryan seketika digerogoti rasa bersalah akan perbuatan dirinya yang ceroboh.
"Apa kau tahu ke mana perginya?" Bryan masih terus bertanya.
"Sepertinya pemuda itu membawanya ke rumah sakit."
Setelah mendapat keterangan dari lawan bicaranya, Bryan langsung berlalu dengan langkah kaki lebar. Di dalam hati, ia terus merutuki perbuatannya yang sangat ceroboh.
__ADS_1
Jesslyn, maafkan aku.
Bersambung~~