Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Benar-Benar Pergi


__ADS_3

Hampir semua mata pengunjung menyoroti tubuh gagah berbalut baju jirah pembalap yang berjalan memasuki lobi bandara. Namun, yang menjadi titik pusat sorotan seolah tak peduli dan sibuk membawa lensa matanya berkelana ke penjuru area.


Dia adalah Jeaven Allison sang pembalap MotoGP terkemuka. Di balik kaca helm fullface yang masih menutupi pahatan tampan di wajahnya, mimik keresahan tersiar tak terkira.


Kaki jenjangnya mengayun memasuki area check-in. Sepasang netra tajamnya menabur harapan di setiap pencarian sosok Jesslyn. Namun, yang diharapkan tak jua melegakan batin.


Pengejarannya kali tak lagi berlandaskan demi kebahagiaan Jennis lagi. Namun, demi menyelamatkan hatinya sendiri. Ia tidak pernah mengira jika Jesslyn benar-benar memilih pergi. Dan hal itu menggoyangkan akar kegigihan yang sudah ia tanam sejak dini.


Kegigihan untuk membantah rasa yang tak diperbolehkan ada. Demi menjaga hati seorang adik yang disayanginya. Saudara sedarah yang harus dibuat bahagia sebelum menutup mata. Meski hatinya pun terluka.


Bagaimana kalau ternyata dia hamil dan aku tidak berada di sisinya?


Jeaven ditundung risau kini. Ternyata hantaman rasa yang menerpanya saat ini melampau ekspetasi. Dipikir ia akan mampu melewati, tapi ternyata ia kalah melawan kemauan hati.


Sementara di sudut area lain, Jesslyn bersiap memasuki boarding lounge setelah dua jam menunggu karena jadwal penerbangannya sempat mengalami delay.


Bruk!


Jalannya yang tergesa membuat ia kurang memperhatikan sekitar hingga tanpa sengaja menabrak seorang pria bertubuh besar. Tubuhnya limbung dan hampir bernasib sama dengan barang bawaannya yang terjatuh di lantai andai pria itu tidak sigap menangkapnya.


"Jesslyn?"


"Bryan?"


"Apa kau terluka?" Bryan langsung menarik diri dari rasa terkesimanya.


"Ah, tidak. Aku baik-baik saja." Jesslyn kembali menggerakkan tubuhnya agar segera terbebas dari rengkuhan Bryan, tapi pria itu terlalu erat melilitkan tangannya. "Bisakah kita sudahi saja posisi kita seperti ini? Aku tidak nyaman," pintanya dengan sopan.


"Maaf." Bryan langsung melepas lilitan tangannya dari pinggang Jesslyn.


"Aku yang harusnya meminta maaf karena sudah menabrakmu." Wanita itu juga tidak mau ketinggalan dalam menunjukkan etika kesopanan.


"Aku tadi juga kurang berhati-hati," timpal Bryan.

__ADS_1


"Berarti kita impas ya." Jesslyn menunjukkan senyuman termanisnya, membuat Bryan enggan segera mengalihkan tautan pandangan darinya.


"Hei, berhenti menatapku seperti itu. Apa kau kembali jatuh cinta kepadaku seperti waktu kuliah dulu?" Celetuk Jesslyn yang menyadari gelagat Bryan. Wanita itu tak segan menuding pria di depannya tanpa basa-basi.


Malu karena kepergok langsung di depan mata, Bryan reflek mengusap tengkuk lehernya. Sepasang sudut bibirnya mencetak senyuman mengembang sempurna. Pria itu memang tidak berniat membatah kalau saat ini sedang merasakan getaran cinta.


"Aku bukannya kembali jatuh cinta, tapi dari dulu aku memang masih cinta walaupun dulu kau menolakku," aku Bryan penuh percaya diri. Ibarat kata dia sudah tertangkap basah, jadi tidak mungkin dia akan mempermalukan dirinya sendiri dengan berbohong.


"Ini adalah pertemuan pertama kita setelah bertahun-tahun tidak saling bertatap muka, dan kau terlalu berani mengungkapkan cinta." Jesslyn menjatuhkan jemari lentiknya di atas bibir, menyembunyikan senyuman yang tersemai manis.


"Itu karena kau terlalu berterus terang memojokkanku." Bryan membela diri di sela tawa kecilnya. "Apa kau tidak bisa berpura-pura tidak tahu saja sebelum aku sendiri yang mengatakannya? Kau membuatku terlihat buruk sebagai pria," protesnya.


"Maaf, aku sengaja."


"Kau masih saja seperti dulu. Usil." Bryan merasa gemas. Ia bahkan sama sekali tidak menyimpan kecewa kepada wanita yang dulu pernah menolak cintanya itu.


"Jesslyn!"


Jesslyn terhenyak, meski badan gagah yang berjalan mendekatinya itu masih terbungkus rapat oleh baju jirah pembalap, tapi dia tahu bahwa orang itu adalah Jeaven.


Bryan melirik ke lengan besarnya yang sudah berhias gamitan tangan si wanita. Keningnya reflek mengernyit terpaut oleh rasa penuh tanya. Sedetik kemudian ia mulai beranggapan bahwa sosok cinta pertamanya itu sedang tidak baik-baik saja. Lalu sebuah inisiatif pun tergiring oleh naluri kelelakiannya. Ia menggenggam tangan Jesslyn berniat menyalurkan rasa tenang di hatinya.


Jeaven melepas helmnya dalam satu tarikan, memamerkan parasnya yang tampan. Seketika keberadaannya menjadi sorotan. Sementara Bryan tampak membatu di dalam keterkejutan. Dia sangat tahu siapa Jeaven yang baginya tidak mungkin terlupakan.


"Kau mau ke mana?" Sebuah pertanyaan langsung terlisan saat Jeaven sudah berdiri di depan Jesslyn. Sekilas, mata tajamnya melirik ke arah tangan si wanita yang tengah menggamit Bryan.


"Bukan urusanmu." Jesslyn masih menunjukkan sifat ketidak sukaannya terhadap Jeaven.


Jeaven mengulurkan tangannya yang masih terbungkus sarung tangan balap itu ke arah Jessllyn. "Kita harus berbicara."


Alih-alih menyambut uluran tangan Jeaven, Jesslyn justru kian mengeratkan gamitan tangannya pada lengan Bryan. "Maaf, aku tidak bisa," tolaknya mentah-mentah.


"Jess, menurutlah. Kita perlu berbicara," desak Jeaven meminta dengan kesungguhan hati.

__ADS_1


Sesaat Jesslyn hampir saja terkesima. Ekspresi dingin Jeaven saat ini tak tertangkap mata. Bahkan pria itu lebih menunjukkan sisi kalem yang tak pernah didapati sebelumnya. Namun meskipun begitu, wanita itu tidak akan goyah begitu saja. Hatinya sudah mantap sempurna. Ia benar-benar ingin melepas cintanya.


"Maaf, Tuan Allison. Saya tidak bisa memenuhi permintaan anda." Jesslyn melihat ke penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya. "Sebentar lagi jadwal penerbangan saya tiba," ujarnya lagi.


"Kau mau ke mana?" Jeaven mencoba mengorek informasi meski saat ini ia sangat tidak nyaman dengan cara bicara Jesslyn yang terkesan formal.


"Itu privasi saya." Sekali lagi, jawaban Jesslyn tak membuat Jeaven puas.


"Jess--"


"Permisi, anda sang pembalap Ice Gun J.J, kan? Wah ...! Bisakah kita berfoto bersama?"


Namun sayang, usaha Jeaven untuk meyakinkan Jesslyn agar bersedia ikut bersamanya harus terhenti karena segerombolan orang tiba-tiba datang mengerumuninya. Sebagai seorang public figure tentu hal seperti ini sudah terbiasa terjadi jika ia terang-terang mengumbar keberadaannya.


"Tuan, bolehkan aku meminta tanda tanganmu?"


Jeaven terpaksa harus meladeni para penggemarnya yang memang tidak mungkin dibuat patah hati. Dan pada akhirnya ia harus menuai kecewa karena ternyata sosok Jesslyn sudah tidak berada di tempat.


Kaki diajak berjalan keluar kerumunan dengan perasaan putus asa. Ia sempat mencoba melewati gate tapi dihadang oleh petugas yang berjaga. Ingin sekali menerobos paksa, tapi itu tidak mungkin dilakukannya.


"Kenapa pria itu bisa bersama Jesslyn?" Jeaven tiba-tiba teringat sosok Bryan. Ia kian menggerang frustrasi kala tak ada jawaban yang bisa digapai.


Jesslyn, dari dulu kau selalu sukses membuatku gila!


Bersambung~~


Nofi mau cerita.


Kalian bisa bayangin nggak, di saat lagi asyik ngetik bab ternyata pasien covid yang di sebelahku mengalami sakaratul maut? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri karena kamar kami tidak dibatasi sekat. Bahkan ranjang kami hanya berjarak 2 meter.


Dan kejadian itu tidak membuatku berhenti ngetik bab. Bukan karena aku tidak memiliki sisi simpati ataupun mencoba menghormati. Aku hanya mencoba mengalihkan perhatianku agar tetap berpikir positif. Lagian orang taiwan sini juga tidak akan suka jika privasi mereka menjadi sorotan mata orang lain.


Sungguh, ini pengalaman menulisku yang tak terlupakan.

__ADS_1


__ADS_2