Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Isu Miring Jeav Dan Jess


__ADS_3

Atmosfer ruangan berubah canggung. Tatapan Jeaven begitu dalam, membuat hati Jesslyn kembali meraung.


Entah pikiran apa yang tengah tersimpan di dalam kepala, sorot mata Jeaven sungguh sulit diterka. Salah tingkah, tengah dirasakan si wanita, karena sikap si pria tidak seperti biasa.


Hah! Sebenarnya suasana seperti apa ini? Kenapa cara Jeaven memandangku kali ini sangat berbeda? Apakah dia berniat membuatku kembali kecewa?


Hati Jesslyn berbisik frustrasi. Ingin rasanya ia berlari.


"Kenapa?" Jeaven langsung merangkai kalimat tanya saat Jesslyn memutuskan tautan matanya.


"Kau aneh dan aku tidak nyaman," cicit si wanita apa adanya.


Pria tampan itu akhirnya memilih melempar pandang ke sembarang arah seiring dengan helaan samar. Dia terkesan memikirkan sesuatu di mana hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Dan suasana kembali hening. Kedua anak manusia itu juga sama-sama bergeming. Jesslyn kian kikuk saat sentuhan pandangan Jeaven sempat bertemu dengan netranya yang bening. Entah mengapa dehidrasi tiba-tiba melanda membuat tenggorokan wanita itu terasa kering.


"Ini, minumlah." Seolah peka dengan gelagat Jesslyn, Jeaven membantu mengambilkan minum.


Baru sekali tegukan, Jesslyn tiba-tiba terbatuk karena tersedak. Bahkan air yang sempat diminum sampai muncrat ke muka Jeaven.


"Apa perlu aku ajari caranya minum air yang benar?" Sindir Jeaven seraya mengelap kesal wajahnya yang basah dengan tangan.


"Itu karena kau terus saja menatapku!" Jelas Jesslyn. Tidak terima jika kesalahan dilimpahkan ke dia sepenuhnya.


"Tidak ada yang salah dengan sikapku." Jeaven pun menyanggah. "Ini, lap bajumu yang basah," imbuhnya seraya meletakkan sebuah kotak tisu ke pangkuan Jesslyn.


Selang tidak lama daun pintu kamar perawatan terbuka, disusul Monica dan Verlin yang muncul dari sana. Raut wajah cemas mereka mengantar kaki untuk melangkah dengan segera.


Monica langsung berhamburan dan memeluk Jesslyn yang sudah duduk bersandar pada headboard ranjang. Ia benar-benar menumpahkan kecemasan yang sedari tadi menerjang.


Namun, sedetik kemudian ia mengurai pelukannya seiring dengan mimik kesal. Dipukul gemas lengan Jesslyn secara asal. Wanita itu seolah tidak peduli dengan rintihan kecil si sahabat yang sudah bersembunyi di balik bantal.

__ADS_1


"Di mana otakmu, hah?! Kenapa kau nekat sekali, Jesslyn! Coba kalau Jennis dan Jeaven telat sedikit saja saat menemukanmu, mungkin kau sudah menemani nenekku di akhirat!" Cerca Monica. Sungguh, emosinya saat ini karena dia sangat takut kehilangan sahabat kesayangannya itu.


"Mon, sakit ...! Justru pukulanmu ini yang bakal mengantarku ke akhirat dengan segera," gerutu Jesslyn seraya mengusap bekas pukulan Monica di lengannya.


"Itu karena aku sangat kesal kepadamu, Jess! Tapi Maaf deh, karena sudah memukulmu," ucap Monica dengan entengnya. Jessyn langsung mencebik.


Monica lalu sedikit bergeser saat Verlin mendekat. Memberi ruang kepada wanita itu untuk berucap kata.


"Jess, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku." Raut penuh sesal tergambar jelas di wajah Verlin saat ini.


"Aku tidak tahu, untuk apa kau meminta maaf sedangkan kau tidak berbuat salah, Verlin," sahut Jesslyn, dan dengan santainya ia meraih remot dari nakas lalu menghidupkan TV yang tersedia di kamar inapnya.


"Tetap saja, aku juga ambil andil dalam kesalah pahaman di antara kau dan Jeaven tadi." Verlin masih keukuh dengan pemikiran bahwa dia juga salah.


"Itu karena bos besarmu itu saja yang suka asal nuduh. Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi." Jesslyn tampak jengah. Lagian dia juga tidak pernah membenci Verlin. Hanya saja, dia memang sering dibuat cemburu dan tidak nyaman karena melihat kedekatan wanita itu terhadap Jeaven.


"Maaf, ya," ucap Verlin sekali lagi, dan Jesslyn tak lagi menyahut.


Pria itu tidak suka saja dengan sikap Verlin yang berlebihan saat meminta maaf kepada Jesslyn, padahal dialah yang salah. Kenapa wanita itu yang harus meminta maaf?


Melihat sikap Jeaven yang terkesan membela Verlin, Jesslyn sontak tersenyum kecut. "Kalian sangat cocok sekali. Seperti pasangan kekasih yang saling melindungi satu sama lain. Dan tahukah kalian? Sikap kalian ini malah menyudutkanku, membuat posisiku di sini terkesan yang paling buruk. Sungguh menyebalkan." Sindir Jesslyn seraya menahan tekanan perih di dada.


"Kau salah paham." Jeaven menyanggah, tapi Jesslyn memangkas cepat.


"Terserah."


Jeaven akhirnya tak lanjut bersuara. Dia tidak ingin memperpanjang perdebatan saja. Pria itu sangat hafal dengan karakter Jesslyn yang kaya akan frasa. Dalam satu kali tarikan napas, ratusan kata bisa tercetus tanpa koma.


Di sisi lain, Verlin memilih sedikit menggeser posisi saat ponselnya berdering. Tidak ingin menunda, ia langsung menerima panggilan dan mulai mendengar. Usai dengan percakapan singkat melalui telepon, ia gegas membawa jari membuka salah satu pesan singkat yang disematkan sebuah link berita. Netra diajak memindai secara seksama setiap deretan kata yang menghiasi layar ponsel. Hingga helaan kecemasan terdengar mengudara dari bibirnya.


"Gerak kerja para paparazzi memang sangat lincah. Baru beberapa jam saja beritanya sudah menyebar luas di media sosial," ucap Verlin, lalu menyerahkan ponselnya kepada Jeaven agar pria itu membacanya sendiri apa isi beritanya.

__ADS_1


"Ada apa sih?" Monica yang mulai penasaran lalu mendekati Jeaven guna mencari tahu.


Sementara Jesslyn hanya bisa menunggu dengan sabar sampai orang-orang bersedia bercerita. Sekilas ia tidak sengaja menangkap wajah Verlin yang menurutnya terlihat sedikit pucat tak seperti biasa.


Apa dia sedang sakit? Batinnya bertanya-tanya.


Kembali ke orang-orang. Sepasang mata Monica membulat seketika, seiring dengan mulut yang menganga. Berbeda dengan Jeaven yang berusaha untuk tenang dan tak banyak berkomentar.


"Owh! Sejak kapan kau menyandang label 'Sang Pemburu Pria' , Jess?"


"Katakan yang jelas, Mon," desak Jesslyn yang memang sangat tidak suka dibuat penasaran terlalu lama.


"Ini bacalah sendiri." Monica mengulurkan ponsel di tangannya dan langsung diterima antusias Jesslyn.


Pembalap MotoGP kelas dunia, Jeaven Allison, diisukan sedang menjalin kasih bersama Jesslyn Seanie Willson yang merupakan putri pemilik Willson Corp, perusahan fashion terbesar di Eropa. Kemesraan mereka juga sempat tertangkap kamera paparazzi.


Mencuatnya berita ini juga menarik asumsi negatif para netizen, karena jesslyn yang dikabarkan sebagai wanita yang hobi berselingkuh dan memiliki banyak kekasih.


Banyak nitizen menyayangkan keputusan Jeaven sang pembalap idola yang bersedia menjalin hubungan bersama Jesslyn seorang wanita yang sudah mendapatkan label 'Sang Pemburu Pria'


Tidak lama, Jesslyn pun tampak menghela napas kasar setelah selesai membaca deretan kalimat di layar ponsel. Berita miring yang melibatkan dia dan Jeaven ternyata sedang menjadi trending topic di lintas sosial media.


Wanita itu masih sempat mengamati beberapa tangkapan fotonya bersama Jeaven yang tersemat di dalam berita media sosial. Bahkan foto di saat Jeaven mencium Jesslyn yang bertujuan untuk memberi napas buatan pun tertera juga.


"Yang benar saja, aku bahkan masih virgin, jadi apa pantas mendapat sebutan yang menggelikan itu?" Protes Jesslyn yang tidak terima dengan berita miring tersebut.


"Kau tenang saja, Jess. Berita ini akan segera mendingin. Aku akan bergerak cepat untuk hal ini." Verlin mencoba menenangkan Jesslyn. Lagian ini adalah tanggung jawabnya sebagai manajer Jeaven. Bersedia memasang badan kapanpun dibutuhkan.


"Bolehkah, aku percaya kepadamu?" Pertanyaan Jesslyn seolah syarat akan harapan.


"Tentu saja."

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2