
Dua pekan di rumah sakit telah dilalui. Pihak keluarga Allison akhirnya membawa Jennis untuk menjalani perawatan paliatif yang dilakukan di rumah. Bagi mereka perawatan di rumah lebih dapat meningkatkan kualitas psikis dan memberikan kenyamanan yang lebih baik. Sehingga membantu sang putra untuk berani dan lebih bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari.
Dari arah arah pintu mansion, Jesslyn tampak berjalan memapah Jennis yang memang menolak mengenakan kursi roda. Selain itu Jeffrey dan Jenny yang berjalan di belakang mereka.
Selama masa perawatan di rumah sakit Jesslyn lah yang lebih sering menemani Jennis. Wanita itu tak bosan memberi support dan terus bersikap manis. Tentu saja hal itu bertujuan agar Jennis tak bersikap spesimis.
"Sayang, segera beri tahu kami jika kau kembali merasa tidak nyaman, ya?" Tutur Jenny yang tampak duduk di bibir ranjang tempat Jennis beristirahat. Wanita yang menyandang status sebagai seorang ibu itu tak henti mengusap lembut punggung tangan sang putra tenang ke Jenny, meski usahanya itu tiada guna.
Jennis membawa sepasang mutiara hijaunya menyisiri ruang kamat yang terlihat berbeda. "Kamarnya--"
"Iya. Kami melakukan sedikit perubahan pada kamarmu agar memiliki suasana baru," sela Jeffrey karena tahu apa yang ingin ditanyakan Jennis.
"Sayang, apa kau suka?" Jenny pun ikut andil dalam bertanya. Wajah keibuan merona cerah, tak menunjukkan garis-garis duka, seolah dia baik-baik saja. Wanita itu tidak ingin menciptakan aura negatif yang bisa mempengaruhi kesehatan putra bungsunya.
Jeffrey dan Jenny memang sengaja mengubah penataan interior kamar hingga terkesan lebih nyaman dan aman. Termasuk dalam penataan furnitur dan fasilitas pendukungnya. Itu semua dilakukan untuk mendorong kesembuhan Jennis. Kendati hal itu memiliki angka persentasi kemungkinan yang sangat tipis, tapi bukankah wajib untuk percaya akan kuasa Tuhan?
"Terima kasih untuk semua ini," ucap Jennis seraya melempar senyuman teduh pada kedua orang tuanya dan juga Jesslyn.
Suara langkah kaki yang baru saja memasuki kamar menarik perhatian seluruh penghuni ruangan di saat itu juga. Sadar keberadaan Jeaven mengundang kembali denyutan kecewa, Jesslyn berniat pergi tanpa berkata. Namun, genggaman tangan Jennis menghalaunya. Hingga, mau tidak mau ia meletakkan kembali pantat yang sempat terangkat dari duduknya.
"Jangan tanyakan bagaimana dengan keadaanku. Aku sudah bosan menjawabnya," sela Jennis duluan yang memang sudah sangat hafal dengan buruknya tingkat kreatifitas sang kakak dalam bertanya.
"Hm," respon Jeaven yang hanya menyerupai dengungan lebah.
Sesaat Jeaven melirik ke arah Jesslyn yang sedari tadi tampak membuang pandangan dingin ke sudut lain. Sikap si wanita yang seperti ini sudah ia rasakan semenjak setelah kejadian malam panas di antara mereka.
"Mom, Dad, ada yang ingin Jeaven bicarakan kepada kalian," ucap Jeaven setelah melepas pagutan mata dari wajah cantik Jesslyn.
"Katakan saja," kata Jeffrey.
Jeaven kembali melirik ke arah wanita yang sedari tadi enggan melihatnya, tapi kali ini hanya bersifat sekilas saja. Ia lantas menaruh kembali atensinya kepada kedua orang tuanya. "Tidak di sini."
__ADS_1
Permintaan halus sang putra langsung dimengerti Jeffrey. Tanpa bertanya pimpinan tertinggi Allison Corp itu melangkah keluar kamar dan juga diikuti Jenny, sang istri.
"Kau pulanglah untuk beristirahat," tutur Jeaven yang ditujukan kepada Jesslyn sebagai bentuk kepeduliannya. Ia mampu menangkap rona lelah di muka si wanita. Bagaimana mungkin dia bisa berlagak buta.
"Jennis, apa kau membutuhkan sesuatu? Katakanlah, aku akan membantumu." Jesslyn rupanya memilih mengacuhkan tuturan perhatian Jeaven dengan cara balik memberi perhatian kepada Jennis.
"Bisakah kau temani aku sebentar di sini?" pinta Jennis, mengabaikan suasana dingin di antara Jeaven dan Jesslyn.
"Tentu saja." Wanita mengulas senyuman penuh perhatian.
Sementara di sisi lain Jeaven segera berlalu, membawa kelapangan dada untuk sifat tak bersahabat Jesslyn.
Ini memang sudah resiko dari perbuatan bejatku.
Kesah pria itu tampan berparas dingin itu di dalam hati.
…
"Putraku, apa kau sudah memikirkan dengan matang tentang keputusanmu ini?" Dari mimik wajahnya, Jenny belum bisa semerta-merta memberi restu akan keputasan yang dipilih si putra sulungnya itu.
"Jeaven serius."
"Apa alasanmu di balik keputusanmu ini?" Jeffrey memasang ekspresi curiga.
"Maaf, tolong jangan paksa Jeaven untuk menjawab."
"Putraku, tidak bisakah kau percaya kepada kami sebagai orang tuamu? Mommy mohon, sedikit terbukalah. Dan berbagilah keluh kesahmu kepada kami." Jenny membawa sepasang tangan lembutnya menangkup wajah Jeaven, menatap lekat pahatan tampan itu yang selalu sukar dibaca oleh siapapun.
"Mom, bukankah selama ini kau mempercayaiku?" Jeaven menekankan dengan melempar balik lisan tanyanya.
Pasrah sudah, sifat keras kepala sang putra rupanya membuat kedua orang tua itu tak lagi berdaya untuk memaksa. Setiap perkataan Jeaven selalu bersifat telak. Tidak ada satupun yang bisa membantah.
__ADS_1
"Jeaven memohon restu kalian."
Masih dalam posisi duduk dengan pembawaan berwibawa, Jeffrey menatap lurus ke arah si putra kebanggaannya itu. "Baiklah. Daddy mempercayaimu."
"Terima kasih," ucap Jeaven. Tidak lama ia pun berlalu.
Jenny langsung berhamburan ke dada bidang sang suami. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi. "Kenapa dia selalu memanggul beban hidupnya sendirian? Sedari masih kecil dia selalu menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku sebagai ibunya merasa tidak berguna."
"Sudah, berdoa saja semoga keputusannya kali ini tidak membawa dia terjebak oleh perasaan."
"Semoga saja."
Bersambung~~
Oya Nofi ingin memberitahukan, bahwa bab yang kemarin belum juga lolos review karena alasannya sebagai berikut👇👇👇
Dan untuk bab per hari ini, Nofi juga nggak bisa janji bisa lolos review hari ini atau mungkin besok. Karena Nofi tidak berkuasa. Maaf ya🙏
Jujur, hal seperti ini sangat merugikan karya kontrak seperti milikku ini. Sudah karya sepi semakin sepi. Viewer merosot, eh yang unfavorite juga banyak lagi. Cuma bs nerima nasib.
Btw ini Nofi kasih bonus visual ya ....🥰
JEAVEN ALLISON
JESSLYN SEANIE WILLSON
__ADS_1
JENNIS ALLISON