Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Pengidap IED


__ADS_3

"Pelan-pelan jalannya." Jeaven menuturi sembari mengimbangi langkah Jesslyn yang mengayun cepat keluar restauran.


Wajah Jesslyn masih merona jika mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Di saat ia terus menolak ajakan makan Jeaven situasi malah menyeretnya ke kubangan malu. Padahal dia ingin bersikap jual mahal tapi perutnya malah berbunyi sampai bertalu-talu. Ingin sekali ia menggetok kepala cacing-cacing di perutnya dengan palu.


Kejadian memalukan seperti ini sudah kedua kalinya. Untuk berkilah pun Jesslyn tak berkuasa. Jeaven seolah didukung oleh alam semesta. Bahkan janin yang di dalam perut terkesan berpihak kepada ayah biologisnya.


Hah! Dia serasa dicurangi dunia!


Dan lebih parahnya lidah Jesslyn tak mampu mengelak semua sajian lezat yang terhidang di atas meja. Semua makanan yang dipesan Jeaven sungguh menggugah cairan saliva. Pria itu seperti sangat tahu apa seleranya.


Dan anehnya, setelah rasa lapar terobati Jesslyn mendadak kembali sadar. Sadar kalau tingkahnya itu tidak wajar. Khususnya di depan Jeaven yang sedari tadi mengkawalnya dengan sabar.


Dasar!


Maunya jaga image tapi malah gatot, gagal total. Harusnya dia jaga gengsi tapi malah lepas kendali dan menyesal. Huah! Ingin sekali meneriakan protes kepada langit secara brutal. Tetapi ia masih manusia berakal, tidak mungkin bertindak di luar batas normal.


Hah! Kesal!


"Hm." Jesslyn hanya merespon singkat, menggunakan bahasa non verbal yang berupa dengungan lebah dan lirikan sekilas.


Jeaven tahu Jesslyn diam-diam sedang merutuki diri karena malu. Tetapi ia tak mengingkari bahwa reaksi wanita itu justru terkesan lucu, merangsang hasratnya untuk menyumbu.


Menggemaskan tahu! Tapi tunggu tunggu tunggu, harus tahan dulu. Jeaven wajib bersabar sampai tiba giliran untuk anu.


"Mau aku gendong lagi?" Tawaran Jeaven langsung dihadiahi delikan tajam Jesslyn.


"Nggak mau."


"Makanya jalan yang pelan."


"Hm."


"Kita pulang ya."


"Ya," jawab Jesslyn seiring dengan langkah yang kian memelan. Berjalan terlalu lama ternyata membuat kakinya pegal.


"Aku gendong ya." Tahu si pujaan hati mulai kelelahan Jeaven kembali menawarkan sesuatu yang tentu berkahir penolakan lagi.


"Apa'an sih! 'Kan aku udah bilang nggak mau!" Sungut Jesslyn. Jeaven tampak mengulum senyuman karena lagi-lagi merasa gemas.


Dia manis sekali. Aku bisa gila kalau tak segera **m**emilikinya.


Setibanya di apartemen ....

__ADS_1


Belum sampai lelah melenggang pergi. Belum juga suasana baik membalut hati. Jesslyn harus bersengut kesal kembali, karena keberadaan Monica dan Bryan kini. Sementara Jeaven memilih tak ikut bicara dan memilih mengamati.


"Jess, kita bicara sebentar ya?" Bujuk Monica dengan menaruh harapan besar bahwa sahabatnya itu masih bersedia membuka telinga untuk penjelasannya.


"Aku malas." Masih dirundung kecewa, Jesslyn menjawab ketus, berjalan melewati Monica dan Bryan begitu saja.


"Yaak! Kalau kau tidak mau mendengar penjelasanku berarti persahabatan kita putus!" Monica yang sejatinya bukan seorang penyabar seketika tersulut emosi.


Ayunan langkah Jesslyn sontak berhenti. Tubuhnya berbalik disusul tatapan benci. Lebih tepatnya benci pada diri sendiri. Ancaman sederhana Monica sungguh mengintimidasi. Hingga mau tidak mau ia harus menyisihkan gengsi.


Dengan wajah cemberut, Jesslyn berjalan balik dan melewati Monica, kemudian mengambil posisi duduk di sofa. Dilipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku tunggu penjelasan dari kalian."


Perasaan lega langsung tercetak jelas pada raut wajah Monica dan Bryan. Setidaknya Jesslyn masih bersedia memberi ruang kesempatan untuk menjelaskan.


Semua penghuni ruangan sudah saling duduk berhadapan. Bryan lah yang kini bergantian mengambil peran. Butuh beberapa saat baginya untuk menyiapkan keberanian.


"Dulu aku adalah mengidap IED. Namun, aku tersadar setelah melakukan kesalahan besar terhadap Monica dan mulai berinisiatif mengunjungi dokter psikoterapi untuk mendapatkan pengobatan."


Jesslyn tampak terkejut, tidak percaya kalau orang seramah Bryan memiliki riwayat penyakit mental seperti seperti itu. Sementara Jeaven dan Monica terkesan tidak kaget karena memang sudah tahu.


*IED (Intermittent Explosive Disorder) merupakan sebuah gangguan saat seseorang mengalami kegagalan dalam mengontrol rasa marahnya dan memiliki dorongan-dorongan untuk bertindak secara kasar. Saat ada masalah, bahkan masalah kecil sekalipun, amarahnya dapat meledak-ledak.


Prank!


"Kyaak! Apa kau gila?!"


Sreek!


Prank!


"Aahk! Bunuh saja aku! Bunuh!"


"Kau memang istri tidak berguna! Hanya menjadi beban hidupku!"


"Kalau begitu ceraikan saja aku!"


"Jangan mimpi!"


Plak!


"Ahk! Lelaki bajingan! Beraninya kau menamparku!"

__ADS_1


Di dalam kamar seorang pemuda sekali lagi harus mendengar dan menyaksikan pertikaian kedua orang tuanya. Gemertak giginya menandakan kobaran amarah tengah membakar rongga dada. Tangan mengepal kuat, mata memerah, deru napas naik turun seolah siap melahap apa saja yang ada di depan mata.


Dia adalah Bryan yang sudah berpenampilan rapi dan bersiap menghadiri pesta kelulusan. Bayangan sosok Jesslyn juga terus terngiang di angan-angan. Namun, belum sampai keluar rumah untuk mendapatkan kesenangan, ia harus dihadapkan lagi dengan situasi pertikaian. Pertikaian di antara kedua orang tuanya yang di mana sudah menjadi makanan keseharian.


Brak!


Bryan terhenyak kala sang ayah membuka pintu kamarnya dengan sekali bantingan kasar. Di saat itu pula ia harus menyiapkan diri untuk menjadi tempat pelampian amarah yang berkobar.


Seperti itulah kehidupan Bryan. Ketika emosi kedua orang tuanya saling bergesek dia akan menjadi korban. Mentalnya dibuat berguncang setiap kali menerima kekerasan. Hingga berdampak pada tempramen yang terpusat pada kemarahan.


"Sini kau anak sampah!"


Plak!


Plak!


Dua tamparan mendarat bebas pada kedua pipi Bryan. Ia tak melawan, tapi sorot matanya yang tajam sarat akan kebencian.


Seolah tiada lagi sisa rasa hormat kepada pria yang disebut ayah itu. Yang ada justru sebuah keinginan untuk membunuh agar siksaan tak lagi membelenggu.


Dan yang paling menyedihkan, di saat seperti ini sang ibu malah berlagak buta dan tuli. Wanita itu memilih pergi demi diri keselamatan dirinya sendiri. Mungkin sekalipun putranya mati dia tidak akan peduli.


Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung ternyata hanyalah sarang bencana murka. Rumah yang terlihat bak istana nyatanya tak lebih baik dari neraka.


"Brrengsek! Harusnya kau mati saja! Ayah sampah sepertimu lebih baik ke neraka!" Bryan akhirnya melawan karena tidak tahan lagi. Didorong tubuh besar sang ayah hingga tersungkur di lantai.


Bug! Bug! Bug!


Serangan tinjuan tak tanggung-tanggung melesat kuat ke wajah ayahnya.


"Arrgg ...!"


Ia bahkan sempat meraih tongkat bisbol untuk dijadikan senjata. Tetapi urung dilakukan dan milih berlalu dengan membawa kobaran emosi di dada.


"Arrg! Anak jahanam! Kau berani melawanku! Pergilah dan tidak usah kembali!"


Roda mobil melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota. Gelapnya langit malam seakan tak sebanding dengan perasaan Bryan yang kini sedang gelap mata. Sirap hati tengah gencar mengacaukan jiwa.


"Arrrg!" Bryan menggerang marah, diikuti tangan memukul kasar setir mobil. Dia butuh tempat pengalihan emosi sekarang. Tidak! Yang benar dia butuh seseorang sebagai tempat pelampiasan.


"Jesslyn, aku butuh dia sekarang."


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2