Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Kau Harus Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Kau meniduri Jesslyn tanpa mau bertanggung jawab! Sejak kapan kau berubah menjadi bajingan? Hah?!" Amarah sungguh terlihat di balik wajah pucat Jennis.


Beberapa waktu yang lalu, Jennis mencoba menghubungi Jeaven karena khawatir kakaknya itu sudah beberapa hari belum pulang. Sayangnya, ponsel yang dihubungi malah terlihat tergeletak di atas nakas yang berada di kamar Jeaven.


Ia melihat benda pipih milik Jeaven beberapa kali bergetar bersamaan dengan beberapa pesan yang masuk. Terdorong oleh rasa penasaran, jari-jarinya mencoba membuka pesan yang ternyata dari Monica.


Ada tiga pesan baru yang menghiasi layar. Dan semuanya berisikan tentang ungkapan kemarahan Monica akan perbuatan Jeaven terhadap Jesslyn. Dari situlah Jennis tahu dengan apa yang telah terjadi di antara kakak dan wanita pujaan hatinya itu.


Jeaven tak langsung menyahut. Dia akui pukulan Jennis memang pantas dijadikan ganjaran dari perbuatannya yang tak patut. Diakuinya juga bahwa dia adalah seorang pria pengecut, karena mencoba lari dari tanggung jawab yang menuntut.


"Kenapa kau lakukan itu?!" Jennis mendesak Jeaven untuk membuka mulut. Tangannya menggusar kasar rambut lalu memamerkan kembali wajahnya yang kusut. Sungguh, rasa kecewanya bergemuruh dahsyat bak angin ribut.


"Kau tahu bahwa aku tidak ingin melihat Jesslyn terus tersakiti olehmu, tapi kau malah kian menoreh luka di hatinya. Kau merenggut harga dirinya sebagai wanita!" cerca Jennis kembali dengan perasaan hancur.


"Maaf." Hanya sata kata maaf yang mampu terlepas dari ujung lidah Jeaven untuk saat ini.


Jennis kembali meraup tenaga untuk menyokong kaki membawa tubuhnya berdiri. Tiga langkah lemah berakhir dengan tangan mencengkeram kaos yang dikenakan Jeaven. Sepasang netra merah dan basah menatap tajam wajah dingin di depannya.


"Bukan kepadaku tapi kepada Jesslyn kau harusnya meminta maaf." Jennis kian menyelami mutiara hijau sang kakak. "Katakan kepadaku, kenapa kau lakukan itu? Tolong jelaskan." Nada bicaranya sedikit merendah di penghujung kalimatnya yang terkesan memberi kesempatan kepada Jeaven untuk membela diri. Semarah apapun itu, dia masih menaruh sepucuk harapan dan kepercayaan bahwa sang kakak tidaklah seburuk yang dipikirkan.


Apakah kau bisa membuat Jesslyn benar-benar melupakanmu, tapi tanpa dengan menyakitinya lagi? Sebelum mati aku ingin membuat diriku menjadi sosok beharga untuknya.


Selintas ingatan merayap di pikiran Jennis secara tiba-tiba. Ia kembali menatap lekat iris Jeaven dengan sebuah dugaan di balik tempurung kepalanya.


"Apakah kau melakukan ini untuk memenuhi permintaanku waktu itu? Yaitu membuat Jesslyn melupakanmu?"


"Tidak." Jeaven dengan cepat memangkas praduga Jennis yang seratus persen tidaklah benar.


"Lalu?"


Helaan panjang mengiringi perasaan resah Jeaven. Kali ini sepertinya dia harus berbicara sedikit banyak untuk memberi kejelasan. "Waktu itu aku berniat menolong Jesslyn yang sudah diberi obat perangsang oleh mantan kekasihnya. Sialnya, aku yang kebetulan sedang berada di bawah pengaruh alkohol justru lepas kendali dan kami melakukannya."


Ungkapan Jeaven bak hantaman angin yang melimbungkan pijakan kaki. Jennis kembali terduduk karena terlalu lelah untuk berdiri. Hatinya sakit bagaikan disayat belati.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau tidak mau bertanggung jawab? Dan kau malah menikah dengan Verlin. Kenapa kau menjadi bajingan seperti ini?"


"Itu hanya sebuah kesalahan kecil."


Jennis tiba-tiba tersenyum getir. "Kau jangan membohongi dirimu sendiri, Jeav. Kau hanya ingin menjaga perasaanku." Ucapan monohoknya sukses membungkam mulut sang kakak. "Bagaimananpun juga kau harus bertanggung jawab. Jangan sakitin Jesslyn lebih jauh lagi. Kalau begini ceritanya bagaimana bisa aku mati dengan tenang."


"Sebaiknya kau beristirahat sekarang." Jeaven malah mengalihkan topik. Jennis yang sudah semakin lemah pun juga memilih tak banyak berkata lagi.


"Naiklah," titah Jeaven yang sudah berjongkok membelakangi Jennis.


"Berjanjilah, Jeav. Kau harus bertanggung jawab," pinta Jennis yang sudah berada di dalam gendongan Jeaven.


"Jangan katakan apapun lagi."



Sebuket mawar putih menghiasi ruang pandang Jesslyn saat ini. Lembut dirasa kala kelopaknya menyentuh ujung jemari. Diantara bunga-bunga terlihat sebuah kartu ucapan yang bersembunyi. Wanita itu pun mengambil dan membacanya di dalam hati.


Maaf karena selama ini aku hanya berani mencintai tapi terlalu pengecut untuk mengungkapkan jati diri.


Sungguh, kerinduan ini teramat berat ku jalani.


Namun, akan tetap ku nikmati setiap keluhku di dalam hati.


Sekali lagi, maafkan aku yang pengecut ini.


"Iya, kau memang pengecut. Kamarku sudah seperti outlet dreamcatcher karena perbuatanmu, tapi kau masih saja bersembunyi di balik kartu-kartu ucapan seperti ini," cebik Jesslyn kepada selembar kartu ucapan di tangannya, seolah sedang berbicara langsung kepada sosok pengagum rahasianya selama ini.


"Dan kau meminta maaf seolah baru saja berbuat kesalahan besar kepadaku." Jesslyn melempar buket bunga beserta kartu ucapan itu di atas ranjangnya. Entah mengapa ia tiba-tiba saja merasa kesal kepada sosok yang selama ini membuatnya menggantungkan tanda tanya besar di kepala.


Kali ini sebuah kotak bewarna pink pastel ganti menarik perhatian makhluk cantik itu. Dibukanya dengan malas dan sesekali menggerutu. Namun, ia seketika terkejut sekaligus terkesima dalam satu waktu.


Sebuah album foto yang berisikan tentang dirinya. Bahkan foto masa remajanya saat bermain di pantai juga ada.

__ADS_1


"Dari cara pengambilan foto sepertinya ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Apakah dia itu pengutit?" Jesslyn seketika terhenyak kala pikiran-pikiran negatif mulai menggerayangi otaknya.


Disilangkan kedua tangan di depan dada, mata diajak memindai ke seluruh sudut kamarnya. Curiga saja barangkali orang yang dimaksud mungkin sedang mengintainya.


"Bodoh! Bisa-bisanya aku mendadak parno duluan." Jesslyn tiba-tiba merutuki dirinya sendiri karena baru saja bereaksi berlebihan.


Ia lanjut mengambil satu kotak kecil bewarna merah yang hampir saja tidak disadari keberadaanya. Sepasang mutiara hazelnya langsung berbinar saat benda berkilau memenuhi ruang mata.


"Cincin ini terlihat sangat cantik. Tapi bukankah ini berlebihan?" Wajah cantiknya mendadak sendu, teringat kembali akan lara yang sempat tersisihkan beberapa saat. "Dulu aku selalu mengharapkan Jeaven menyelip sebuah cincin di jariku, tapi nyatanya malah jari wanita lain yang menerima cincin darinya."


Ia tersenyum miris, menekan kecewa yang mengiris hati dengan sinis. "Aku yang berjuang tapi wanita lain yang menerima cintanya. Aku yang kehilangan kehormatan tapi wanita lain yang dia nikahi." Lagi-lagi Jesslyn tak mampu menahan diri. Ia kembali hanyut ke dalam kesedihan hati. Air matanya tak terasa sudah membasahi pipi.


Jesslyn menyeka kasar bingkai matanya yang basah, tidak ingin terlalu lama tenggelam ke dalam kesedihan. Ia menuruni ranjang lalu berjalan cepat keluar kamar.


"Mom," lirih Jesslyn kala wajah sang mommy menyembul dari balik daun pintu.


"Sayang, ada apa malam begini kau mengetuk pintu?" Allesya tampak keheranan.


"Kenapa kau masih bertanya, Allesya sayang?" Sela Sean yang ternyata ikut menyambut Jesslyn. Tangan besarnya langsung merangkul tubuh si putri dan menariknya ke dalam. "Dia pasti rindu tidur bersama kita," imbuhnya lagi.


Terharu bercampur senang, Jesslyn kian mengeratkan pelukannya. "Daddy memang cinta pertamaku yang paling pengertian."


"Tentu saja."


"Daddy, aku menyayangimu."


"Jadi sama Mommy tidak sayang?" Celetuk Allesya.


Jesslyn berganti memeluk sang mommy. "Mana mungkin tidak sayang." Ia sedikit mengurai pelukannya dan melihat ke arah Sean. "Dad, Jesslyn ingin resign dari perusahaan."


"Kenapa tiba-tiba sekali?" Sean tampak terkejut begitu juga dengan Allesya.


"Jesslyn ingin pergi berlibur hingga jangka watu yang tidak bisa ditetapkan."

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2