
Bayangan sebuah bingkisan dreamcatcher dan sebuket bunga mawar merah terbias jelas pada netra cantik yang sedang memandang. Ujung jemari bergerak membentuk sebuah usapan lembut pada aksen bulu dreamcatcher yang berwarna merah terang. Jesslyn tampak sibuk dengan pikirannya yang bersarang. Lebih tepatnya, wanita itu sedang tercengang.
Selama dua bulan berada di Swiss, Jesslyn kembali menerima kiriman bingkisan yang diyakini dari pengagum rahasianya. Namun, dia merasa aneh saja. Apa yang dirasakan saat ini sungguh berbeda. Bahkan sederet pertanyaan sudah bergumul di dalam kepala.
"Lagi-lagi aku mendapat kiriman darinya. Dari mana dia tahu kalau aku berada di Swiss sekarang? Sebenarnya dia siapa sih? Wah! Dia benar-benar penguntit yang handal. Yakin banget, bahkan jika aku berada di lubang semut sekalipun dia tetap bisa menemukanku." Jesslyn sontak mendekap tubuhnya sendiri guna mengusir sensasi bergidik yang tiba-tiba menyapa.
Lama-lama ia dihinggapi rasa was-was kala pikiran membayangkan bahwa pengirim bingkisan itu memang benar-benar seorang penguntit yang selama ini mengincarnya. Walaupun seperti itu, tetap saja ia masih diserang rasa penasaran dan ingin berjumpa.
"Dan tidak seperti biasanya dia memberiku dreamcatcher bewarna terang begini. Warna merah lagi. Aku kan nggak suka warna mencolok." Jesslyn memindai beberapa benda serupa yang tergantung di salah satu sudut kamar, yang diterimanya waktu di London.
"Apa seleranya sudah berubah? Kiriman yang dulu dengan yang sekarang sedikit berbeda. Dan aku lebih menyukai kirimannya yang dulu. Warna monokrom seperti hitam, putih, atau abu-abu," Wanita itu berceloteh lagi menyerupai sebuah protesan.
Ia lanjut menggapai sepucuk kartu ucapan yang terselip di antara bunga-bunga. Hingga barisan untaian manis langsung terbaca kala lembaran kecil itu dibuka.
Kamu selalu menjadi yang pertama dan terakhir di hatiku. Ke mana pun aku pergi, atau apa yang aku lakukan, aku akan selalu memikirkanmu.
Malam ini mari kita bertemu dan menikmati makan malam yang manis. Bersiaplah, aku akan menjemputmu.
^^^Dari pengagummu.^^^
Jesslyn seketika terkesima usai membaca isi kartu ucapan itu. "Perasaan waktu di London dia tidak pernah menulis kalimat gombal seperti ini." Ia kembali membandingkan. "Baiklah, mari kita bertemu. Aku juga sudah lama menantikan saat-saat bisa melihat mukamu," putusnya.
Tubuh Jesslyn terjingkat kecil kala suara bel pintu apartemen tiba-tiba menyeruak ke dalam indera pendengarnya. Ia berjalan mendekati daun pintu dan mencari tahu siapa yang datang melalui camera monitor.
Gegas dibuka daun pintu dengan perasaan senang kala tahu yang ditunggu-tunggu sudah datang. "Monica!" Jesslyn mengulas senyuman mengembang sempurna diikuti kedua tangan merentang ke sebelah sisinya.
Namun, wajah cerahnya harus berubah cemberut karena sambutannya justru dibalas dengan raut masam Monica. Bahkan si sahabat menolak mentah-mentah pelukannya dan melipir masuk ke dalam apartemen dengan sengaja.
"Hei! Aku belum mempersilahkanmu untuk masuk," protes Jesslyn sembari mengekori Monica yang terkesan acuh dan memilih memperhatikan seluruh isi ruang apartemen.
"Apa kau tidak merindukanku? Kita sudah dua bulan tidak bertemu!" sungut wanita cantik berlensa hazel itu, Jesslyn.
Tungkai dibawa memutar diikuti lipatan tangan di depan dada, Monica menatap sinis Jesslyn diakhiri dengusan kasar dari hidungnya. "Dari pada merindukanmu aku lebih membencimu, Jesslyn. Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu? Pergi tanpa memberi tahuku. Kau tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi. Keluargamu juga sedang mencemaskanmu sekarang. Kau kemanakan otakmu itu?" Ia langsung menyemburkan segala unek-unek kekesalannya yang selama ini ditahan dengan tangan bergerak memukul gemas lengan Jeaslyn.
"Aw! Jangan pukul aku, kau bisa menyakiti calon anakku nanti!"
__ADS_1
Gerakan tangan Monica yang semula masih memukul seketika diberhentikan oleh rasa terkejut. Kedongkolannya pun tak lagi berlanjut. Bahkan mimik mukanya berubah lembut seiring dengan kening yang berkerut.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau hamil?" Monica masih melontarkan tanya untuk meyakinkan apa yang di dengar memang benar adanya.
"Kau tidak tuli, Mon. Apa yang kamu dengar itu benar." Jesslyn berjalan melewati Monica yang masih membatu. "Kamu mau minum apa?" Tawar si calon mama itu sembari melangkah menuju dapur mini yang di mana posisinya bisa terjangkau mata jika dilihat dari ruang tamu karena tidak ada sekat dinding penghalang.
"Apa itu anak Jeaven?" Monica lagi-lagi berlisan tanya untuk mengobati rasa ingin tahunya.
"Iya," jawab Jesslyn seperlunya yang tampak sibuk mencampur seduhan teh dan karamelnya. Sekilas jika dipandang mata, sebagai seseorang yang tengah menanggung beban batin wanita cantik itu terkesan baik-baik saja.
Tapi, para pembaca pasti tahu bukan apa yang ada di dalam hatinya?
Monica berjalan mendekat dan langsung memeluk Jesslyn dengan perasaan nyeri di hati. Dia sangat tahu jika sahabatnya itu berusaha menyembunyikan segala goresan luka di balik pembawaan tegar pada diri.
"Ada aku, tapi kenapa kau tanggung sendiri?" Monica tak mampu menahan bendungan kesedihan dan melepaskan genangan air matanya.
Jesslyn masih berusaha untuk tersenyum seraya membalas pelukan Monica. "Aku takut kau akan mengomeliku tanpa henti. Kau itu seperti nenek-nenek pikun kalau udah marah," kelakarnya hingga ia sedikit tersentak kala Monica merenggangkan pelukan lalu menyentil telinganya dengan gemas.
"Kau masih bisa bersikap seperti ini di saat aku sedang melow! Kondisimu ini tak layak dijadikan bahan candaan tahu nggak, Jesslyn!"
"Apa Jeaven sudah tahu?"
"Aku tidak berniat memberi tahunya."
"Tapi dia berhak tahu."
"Memang dia siapa?" Jesslyn berjalan menuju ruang tamu untuk mengusir rasa pegal di kaki dengan duduk di sofa. Tangannya beberapa kali terlihat mengusap perut sebagai bentuk kasih sayang terhadap janin yang dia kandung.
Monica mengambil beberapa ayunan kaki dan bergabung duduk di sofa yang sama dengan Jesslyn. Ditatap serius wajah di depannya itu. "Jeaven adalah ayah dari anak yang kau kandung sekarang. Jangan berlagak amnesia atau pura-pura tidak tahu. Itu terkesan menggelikan."
Jesslyn tersenyum getir menanggapi ucapan Monica. "Kalau boleh request sama Tuhan, aku ingin amnesia saja untuk sesaat."
"Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan konyolmu itu. Karena kabur dari kenyataan tidak diperuntukkan wanita kuat sepertimu," tutur Monica. "Jadi pikirkan lagi ucapanku perihal Jeaven yang berhak tahu tentang kehamilanmu."
"Bagaimana tanggapan orang-orang jika aku tiba-tiba menemui seorang pria yang sudah beristri dalam keadaan hamil dan menuntut pertanggung jawabannya? Aku tidak ingin disebut sebagai pelakor. Itu bisa merusak imageku juga."
__ADS_1
Monica seketika terbungkam oleh ucapan Jesslyn yang ada benarnya juga. Ia sempat meragukan dengan ucapannya sendiri meski hal itu tidak berlangsung lama.
"Kamu harus tahu, setelah Jeaven dan Verlin dikabarkan menikah mereka tidak lagi terlihat bersama. Keberadaan Verlin juga bagaikan hilang di telan bumi." Monica meminum teh karamel miliknya yang tak lagi panas itu dan diakhiri helaan napas kasar. "Kenapa pria kutub itu sangat tertutup?! Padahal aku ini temannya sedari kecil. Dia bahkan enggan menjawab ketika aku bertanya saat aku tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah toko souvenir," gerutunya yang mulai terlihat kesal jika mengingat sikap dingin Jeaven.
"Toko souvenir?" Jesslyn pun tak mampu menutupi raut wajah penasarannya.
"Iya, toko souvenir yang sering kau datangi." Monica menjawab tanpa menyadari perubahan mimik muka Jesslyn.
"Untuk apa?"
"Mana aku tahu? Orang dia mendadak bisu jika aku tanya. Kenapa kau masih bertanya juga? Kan aku baru saja bilang kalau dia nggak mau menjawab jika aku tanya," sembur Monica.
"Ck! Kau sangat menyebalkan," cebik Jesslyn seraya mengusap perutnya. "Aku harap sifat menyebalkanmu itu tidak menular ke anakku setelah lahir."
Monica tergelak kecut. "Kau meledekku?"
"Sudah tahu masih nanya."
Bersambung~~
Maaf ya akhir-akhir ini upnya sering bolong🙏
Terima kasih para readers kesayangan masih setia mengawal kisah Jeaven dan Jesslyn ini🥺🙏🥰😊
Terus terang, kalau bukan karena aku sayang sama para tokoh yang aku ciptakan dan kalau bukan karena kalian para readers kesayangan, ini novel dah gk lanjut.
Karena Mang Atun atau En Te sering banget buat aku kecewa.
Masak sih tulisanku jelek banget sampai Mang Atun dan En Te nggak mau berbaik hati promoin karyaku? Padahal setiap karya kontrak itu pasti punya hak promo tp karyaku direnggut haknya.
Apa tulisanku ini jelek banget?
Mana masukan pendapatan dalam sehari itu nggak bisa buat beli gorengan sebiji🤦♀️ Miris.
Makasih ya dah mau baca ocehanku yang gk berfaedah ini🙇♀️
__ADS_1