
"Kau tidak capek?" tanya Jeaven kepada Jesslyn dengan sebagian fokusnya tertuju pada omelete di dalam teflon.
"Capek sih." Kendati bibir berkata seperti itu nyatanya tak membuat Jesslyn melepas pelukan. Bahkan tangannya kian memperkuat eratan. Pesona punggung gagah Jeaven bak magnet yang menarik hasrat untuk merengkuh kehangatan. Serasa ingin menempel sepanjang hari sembari menghirup aroma maskulin yang menyandukan.
"Duduklah dulu."
Alih-alih mendengarkan, Jesslyn malah berpindah di depan Jeaven dan kembali memeluk. "Apa kau masih lama?"
Tangan Jeaven langsung bergerak reflek menjauhkan tubuh Jesslyn yang hampir menyentuh kompor. "Ceroboh. Kau bisa terluka, Jesslyn," tegurnya berliput cemas.
Suara Jeaven yang spontan sedikit meninggi seketika mengundang mimik cemberut di wajah cantik Jesslyn. "Kau marah?"
Helaan napas terdengar pelan seiring dengan rasa sesal di hati. Bisa-bisanya ia membentak sang istri. "Aku bisa susah jika kau terluka, Jesslyn." Suaranya melembut.
Jesslyn mendongak hingga terpampang sepasang netra yang mulai tergenang air mata. Terus terang hatinya sangat sensitif saat Jeaven meninggikan suara. "Tapi kau marah tadi."
"Tidak, Jesslyn. Aku tidak marah." Jeaven berusaha meyakinkan si istri agar berhenti bersedih.
"Tapi kau juga meninggikan suaramu tadi. Kau membentakku." Kedua sudut Jesslyn tampak melengkung ke bawah bersiap-siap untuk menangis.
"Itu karena aku terkejut. Punggungmu hampir menyentuh kompor yang masih menyala." Jeaven mengecup singkat bibir Jesslyn lalu kembali berkata lembut. "Sudah aku katakan tadi, jika kau terluka aku bisa susah."
"Maaf, ya," sesal Jesslyn kian menenggelamkan tubuhnya di dada Jeaven. Tindakan Jeaven kembali membuatnya tenang dan nyaman. Bahkan isak tangis yang hampir menguar dari mulut kembali tertelan.
"Aku juga minta maaf," ucap Jeaven seraya membalas pelukan Jesslyn. Kecupan sayang di ujung kepala si istri pun tak ketinggalan.
"Iya."
Sepasang suami istri itu tenggelam ke dalam suasana romantika cinta. Hanya sebuah interaksi sederhana. Tanpa adegan mendramatis atau perkataan puitis bak pujangga. Namun, sukses menciptakan keharmonisan dalam berumah tangga.
"Jeav, apa omeletenya baik-baik saja?" tanya Jesslyn tiba-tiba mencium aroma yang sangat ia kenal.
Jeaven pun langsung teringat akan masakannya yang sempat terlupakan. Tangan langsung mematikan api kompor karena melihat bentuk rupa omelete yang sudah tak layak makan. "Mengenaskan," jawabnya.
Mendengar perkataan Jeaven, Jesslyn mengernyit lalu memutar badan untuk memastikan. Hingga sebuah omelete gosong mengisi pemandangan. Anehnya, wanita itu malah mengembangkan senyuman. Sepasang manik hazelnya kian berbinar sembari menelan cairan saliva yang mulai bercucuran.
"Dibuang saja."
"Jangan!" cegah Jesslyn dengan cepat.
"Ini tidak bisa dimakan, Jesslyn."
"Siapa bilang? Omelete gosongnya terlihat enak. Aku akan memakannya."
__ADS_1
"Tidak boleh," tolak Jeaven yang mana mungkin tega melihat istrinya memakan makanan yang terlihat tidak sehat.
"Hmm! Jeav, aku menginginkannya ...," rengek Jesslyn.
"Jess--"
"Sepertinya ini karena kemauan anakmu juga. Apa kau ingin anak kita ileran pas lahir?" Jesslyn kembali merengek seraya mengusap sayang perutnya.
Pendirian Jeaven seketika runtuh kala menyadari bahwa sang istri ternyata tengah mengidam. "Benar kau bisa memakannya?" Namun, ia masih bertanya sebelum mengiyakan. Dia sendiri bahkan tidak yakin bisa memakan omelete gosong itu apalagi Jesslyn.
"Iya." Jesslyn mengangguk mantap. "Aku tunggu di sana ya. Cepetan, aku sudah laper." Wanita itu melepas pelukannya dan berjalan menuju meja makan.
"Ada-ada saja," gumam Jeaven sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Jeaven menyiapkan beberapa menu sarapan. Suasana hangat ikut menyelimuti di sela ritual pengisian perut. Jesslyn bersungguh-sungguh dengan perkataannya tadi, menyantap omelete gosong dengan lahap dan tanpa sisa. Ia bahkan sampai minta dibuatkan lagi.
"Kenyang?" Jeaven membersihkan bibir Jesslyn dari bekas sisa makanan yang menempel.
"Hm, iya. Seperti biasa, masakanmu selalu enak," puji Jesslyn, mengundang senyuman bangga di bibir Jeaven.
"Aku harap ngidammu yang seperti ini cukup sekali saja." Sebagai seorang suami sungguh tak tega melihat Jesslyn menyantap omelete gosong.
"Aku tidak janji. Lagian ini juga kemauan anakmu, bukan aku."
"Hish! Kalau tidak percaya kau saja yang hamil biar tahu rasanya orang ngidam."
"Aku tidak perlu hamil untuk merasakan ngidam."
Jesslyn seketika memasang muka bertanya-tanya. Perkataan Jeaven ternyata langsung bisa dicerna. Apalagi dia teringat dengan cerita Callena tentang suaminya yang mengalami mual dan muntah-muntah waktu berada di Austria. Dan ketambahan tadi pagi ia juga sempat mendengar samar-samar suara Jeaven saat di kamar mandi yang tengah berusaha mengeluarkan isi perutnya.
"Kau mengalami sindrom hamil simpatik?" tanya Jesslyn memastikan.
"Sepertinya seperti itu."
Jesslyn seketika tersenyum bangga. "Harusnya aku merasa kasihan tapi bolehkah aku merasa senang?" Ia lanjut merangkum kedua pipi Jeaven seraya menatap hangat pahatan tampan di depannya. "Bukankah itu berarti kau sangat mencintaiku, Jeav?"
"Sangat."
"Sangat sangat sangat?"
"Iya, sangat sangat sangat." Jeaven tertawa kecil begitu juga dengan Jesslyn.
Jeaven menarik tubuh Jesslyn hinga berpindah ke pangkuannya. Dipandang kagum wajah ayu sang kekasih hati yang selalu sukses menggetarkan jiwa. Ia serasa tidak ingin menghapus jejak bayangan cantik itu dari matanya. Belum lagi segala tingkah menggemaskan Jesslyn yang terus terngiang di kepala. Pria itu benar-benar sudah dimabukkan asmara.
__ADS_1
"Kau cantik sekali. Lama-lama aku bisa gila."
Sama halnya dengan Jeaven, Jesslyn juga tengah menahan senandung debaran di dada. Bayangan tampan sang raja hati membias di sepasang mutiara hazelnya. Sungguh indah rasa yang sedang menuai cinta. Hingga tak pernah sekali pun ia mampu mengelak dari karunianya.
"Apa kau tahu? Aku sering frustrasi karena wajahmu ini." Jesslyn mencubit kedua pipi Jeaven hingga wajahnya terlihat lucu.
"Kenapa?"
"Wajahmu ini selalu menarik perhatian wanita di luar sana. Aku sangat membencinya."
"Haruskah aku memakai helm balapku setiap keluar?"
"Itu bukan ide yang bagus. Kau malah lebih terlihat gagah saat memakai helm balapmu."
"Pakai kostum badut?" saran Jeaven sekenanya.
"Ide bagus! Kostum Hello Kitty." Jesslyn langsung setuju.
"Yang benar saja."
"Aw! Kau membuatku geli, Jeav. Hentikan." Jesslyn terkikik kala leher dan pundaknya menjadi sasaran kecupan Jeaven.
"Jess." Sorot mata Jeaven ternyata sudah berkabut gairah.
"Main di sini?" Jesslyn rupanya langsung bisa membaca makna dari tatapan Jeaven.
"Mau coba?"
Lidah Jesslyn tak meluncurkan kata, tapi tangan yang sudah bergerak terampil membuka resleting celana Jeaven cukup dijadikan jawabannya.
"Ketemu, yey!" Jesslyn kegirangan seperti anak kecil saat ekor Jeaven sudah dalam kuasanya.
Sementara Jeaven tampak belum melakukan apa-apa dan membiarkan Jesslyn bermain sesuka hati. Hingga pemanasan harus terjeda kala suara bel pintu berbunyi.
Jeaven segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Hingga mata disambut oleh wajah tak bersahabat seseorang.
"Sebaiknya kau bunuh saja aku!" Tamu yang masih berdiri di depan pintu tampak geram.
Bersambung~~
Jangan bosan ya. Kan mau tamat, jadi partnya tinggal yang adem ayem.
Terima kasih ya ayas segala dukungan kalian. Love you❤️❤️👄👄
__ADS_1