Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Kau Harus Menjadi Istriku


__ADS_3

"Jesslyn. Aku ingin dia sekarang." Bryan meracau di sela hantaman emosi. Amarah yang merajah akal sehat seakan mengambil alih sebagian pengendalian pada diri.


Selama beberapa bulan terkahir Jesslyn lah yang selalu mengisi ruang hati dan pikirannya. Entah karena berlandaskan oleh perasaan cinta atau hanya mengagumi semata, yang jelas pesona makhluk cantik itu sukses mengalihkan dunianya. Hingga di saat jiwanya terguncang seperti ini sinyal hasrat langsung tertuju pada wanita itu tanpa diminta.


Roda mobil berhenti pada parkiran luas sebuah hotel mewah. Sebuah gedung komersial yang mana sebuah pesta perpisahan mahasiswa sedang digelar meriah.


Bryan tahu Jesslyn sudah berada di dalam sana. Bisikan setan kian gencar merayu dan menggoda. Hasratnya harus segera terlaksana.


"Bryan."


Kaki yang baru saja menuruni mobil dan siap melangkah harus terjeda. Sorot mata dinginnya seketika tergiring pada sumber suara lembut seorang wanita. Akan tetapi atensinya hanya teralih untuk sementara. Setelah itu ia lanjut mengayun kaki, tak acuh pada sosok yang memanggilnya, yaitu Monica.


"Hei aku memanggilmu. Apa kau tidak dengar?" seru Monica karena merasa diabaikan begitu saja. Ia berjalan cepat guna mengimbangi langkah lebar Bryan. "Kau ini kenapa sih?" Masih bernasib sama, ia seolah dianggap makhluk tak kasat mata. Pria itu masih setia dengan kebisuannya.


Tatapan Monica menyipit saat bercak darah di ujung bibir Bryan tertangkap matanya. Merasa ada yang tidak beres ia lantas menghentikan pria itu dengan sekali tarikan tangan.


Di saat itu pula garis kernyitan tercetak di dahi Monica. Sorot mata Bryan tidak seperti biasanya. Kali ini terkesan sangat dingin selakyaknya orang yang sedang murka. Eskpresi hangat yang biasa membingkai wajahnya pun tak lagi kentara.


"Enyahlah!" usir Bryan yang terlihat sekali saat ini sangat merasa terganggu dengan keberadaan sahabat Jesslyn itu. Ia bahkan tak segan meninggikan nada bicaranya.


Hardikan Bryan sontak membuat Monica terhenyak dan kian keheranan. Namun, buru-buru ia menetralkan perasaannya. "Bersihkan darah di bibirmu dulu."


"Bukan urusanmu. Aku harus segera menemui Jesslyn."


"Tidak boleh!" Monica menghalau Bryan yang hampir kembali melangkah. "Suasana hatimu sepertinya sedang buruk. Aku tidak ingin kau menyakitinya."


Monica terus terang mulai menaruh curiga. Ada yang tidak beres dengan Bryan jika dilihat dari gelagatnya. Isntingnya mengatakan bahwa pria itu akan menyeret Jesslyn ke dalam situasi bahaya. Dia tentu tidak ingin melihat sahabat kesayangannya terluka. Dia tidak akan rela.


"Sudah aku katakan bukan urusanmu." Bryan menghempas cekalan tangan Monica dengan sangat kasar.


"Kau sedang tidak waras sekarang, jadi aku tidak akan membiarkanmu menemui Jesslyn." Monica rupanya tak gentar, kendati degub jantungnya sedang bergetar.

__ADS_1


Bagaimanapun juga gelagat Bryan kali ini cukup membuatnya ketakutan. Wajar, karena dia juga seorang wanita yang memiliki sisi kerapuhan.


"Hei! Aku akan membunuhmu jika masih keukuh menemui Jesslyn. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya!" Monica menghadang tepat di depan Bryan. "Aku tidak tahu apa masalahmu. Tetapi aku sarankan kau sebaiknya pulang sekarang! Tenangkan dirimu!"


"Jangan halangi aku, Monica."


"Aku hanya ingin melindungi sahabatku."


Tindakan berani Monica rupanya kian menambah amarah Bryan. Gemertak gigi seolah tengah menandai sebuah peringatan. Peringatan bahwa si wanita harus diberi pelajaran.


Tanpa banyak kata Bryan langsung menyeret paksa Monica dan membawanya pergi menjauh dari area bangunan hotel. Tidak lama mobilnya berhenti pada kawasan sepi oleh pengguna jalan.


"Kyaak! Jangan lakukan itu, Bryan!" Monica menangis dan meronta. Meskipun usahanya tiada guna. Tubuhnya sudah sepenuhnya terkunci oleh kungkungan Bryan yang penuh kuasa. Ditambah lagi ruang sempit di dalam mobil kian membunuh pergerakannya.


Bryan sangat kuat. Tangannya melucuti satu persatu kain yang dipakai Monica dengan cepat. Hingga tubuhnya kini telanjang bulat.


"Kenapa? Aku tahu kau mencintaiku selama ini. Harusnya kau tidak keberatan jika aku merasakan tubuhmu." Suara Bryan sudah terdengar parau karena hasrat gairahnya yang sudah terbakar.


"Bukan seperti ini, Bryan. Aku mohon jangan lakukan. Aku tidak mau!" Monica kian histeris, kepalanya menggeleng kasar saat Bryan mulai memposisikan miliknya. "Ahk!" Ia langsung memekik kesakitan karena benda tumpul telah merobek selaput keperawanannya dalam sekali hentakan.


Plak!


Tamparan Jesslyn seketika menghentikan Bryan yang sedang bercerita. "Kau memang bajingan, Bryan! Harusnya kau mati saja! Selama ini aku sudah benar-benar tertipu oleh topeng keramahanmu itu." hardik Jesslyn yang sudah tersulut amarah.


Jesslyn lanjut memutar badan dan langsung memeluk Monica. "Maafkan aku, Monica. Musibah yang menimpamu itu semuanya gara-gara aku. Andai dulu aku mendengarmu agar tidak terlalu dekat dengan Bryan hal buruk itu tidak akan terjadi." Ia terisak berderai air mata. Bagaimanapun juga ia juga sangat terluka.


Belum lagi rasa sesal juga turut menyesakkan dada. Dulu Monica memang sempat mengingatkannya untuk tidak menyeret Bryan ke dalam lingkar persahabatan mereka. Tetapi ia tidak mau mendengarkan karena beranggapan Bryan adalah sosok baik yang dapat dipercaya.


"Aku memang bukan sahabat yang baik. Kau menjadi korban pelecehan Bryan demi melindungiku. Dan sahabat seperti apa aku ini, bahkan di saat kau terpuruk aku tidak berada di sampingmu. Aku malah asyik dengan duniaku sendiri."


Inilah yang dikhawatirkan Monica jika Jesslyn sampai tahu tentang musibah yang menimpanya. Sahabatnya itu akan terus menyalahkan diri sendiri dalam kurun waktu yang lama.

__ADS_1


"Jangan salahkan dirimu terus. Aku tidak suka. Maaf ya karena tidak memberi tahumu dari dulu." Monica diliputi rasa haru. Tangan diajak mengusap punggung Jesslyn.


Jesslyn mengurai pelukannya diikuti tatapan bertanya-tanya. "Kenapa kau bisa keguguran?"


Pertanyaan yang diterima membuat Monica melempar lirikan ke Bryan, memberi isyarat agar pria itu segera menjelaskan.


"Monica keguguran karena aku," terang Bryan. Pandangannya merendah tertimpa rasa sesal.


"Kamu masih ingat wanita yang melabrakmu di restauran tadi, 'kan? Dia adalah calon istri Bryan. Dan dia pula yang sudah memberi obat penggugur kandungan di minumanku dulu. Entah dari mana dia tahu, aku juga heran. Yang jelas dia merasa kehadiran janin yang aku kandung dulu bisa mengancam nasib perjodohannya dengan Bryan. Itulah sebab dia bertindak gila." Karena belum puas dengan keterangan Bryan yang terkesan setengah-setengah Monica langsung menyela, menyampaikan semuanya secara mendetail kepada Jesslyn.


"Ya Tuhan ... Wanita itu memang gila!" Jesslyn kembali tersulut emosi. Ia lantas menghunus tatapan sinis ke Bryan. "Kau itu sudah memiliki calon istri, tapi masih sempat mencoba mendekatiku." Ia menunjuk tegas tepat di depan wajah Bryan. "Kau tadi juga bilang kalau sebenarnya mencintai Monica. Sebaiknya kau buang saja perasaanmu itu ke laut mati. Kau tidak pantas untuknya."


Monica terhenyak seketika. Perkataan Jesslyn terdengar sulit di percaya. Yang dia tahu selama ini Bryan mencintai sang sahabat, tapi kenapa sekarang jadi dirinya yang dicinta?


Bryan pun ikut terhenyak di tempat. Baginya kecaman Jesslyn terdengar sangat mengerikan. "Bukahkah kau tadi mendukungku untuk mendekati Monica. Lagian aku tidak pernah menganggap Selena calon istriku." Ia gencar membela diri.


"Lalu?" tuntut Jesslyn.


"Aku akan menuntaskan masalah perjodohan itu dan segera menikahi Monica," ucap Bryan diikuti sorot mata mantap.


"Jangan gila. Siapa yang akan kau ajak menikah? Aku? Mimpi!" Monica seketika menyela karena tidak terima dan tentu tidak suka dengan sikap Bryan yang memutuskan sesuatu tanpa berbicara empat mata dengannya terlebih dahulu.


"Monica, kau mau ke mana? Mari kita bicara dulu." Bryan langsung mengejar wanita itu yang memilih berlalu meninggalkan ruang tamu.


Dan kini tinggallah Jeaven dan Jesslyn saja.


"Hah! Alangkah baiknya jika mereka menikah saja," gumam Jesslyn di akhir helaan resahnya.


"Dari pada mereka, kita yang seharusnya menikah." Jeaven menyela tiba-tiba.


"Mimpi!" Jesslyn memilih beranjak tapi tarikan Jeaven membuatnya kembali terduduk. Lebih tepatnya duduk di atas pangkuan kokoh pria itu.

__ADS_1


"Dengarkan aku dulu." Jeaven kian mengeratkan pelukannya agar Jesslyn berhenti memberontak. "Kita harus menikah. Sekeras apapun kau menolak, pernikahan itu akan tetap dilaksanakan." Perlahan ia melabuhkan kecupan hangat di pundak Jesslyn yang tampak menggeliat. "Turnamen musim MotoGP mengharuskanku pergi untuk beberapa bulan. Jadi sebelum aku berangkat kau harus sudah menjadi istriku."


Bersambung~~


__ADS_2