
Di bawah derasnya guyuran hujan, Jesslyn melabuhkan sorot mata penuh luka pada seorang pria yang sedang menggendongnya saat ini. Sungguh, dia sedang butuh sosok sebagai penampung curahan lara hatinya.
"Jennis," lirihnya dengan suara bergetar, dan tak segan menumpahkan kembali isak tangisnya.
Jennis tak kembali melisankan tanya. Ia hanya mengeratkan rengkuhannya lalu membawa Jesslyn ke dalam mobil yang dibawa. Kendati ia masih keheranan kenapa si wanita keluar di saat pagi buta.
Sementara di sudut lain, Jeaven tampak mengamati keduanya dari kejauhan dengan tatapan sulit diartikan. Dia memang terlambat menemukan Jesslyn, tapi setidaknya ketenangan sedikit dirasa saat tahu sang adik sudah terlebih dahulu membawa wanita itu.
Sorot matanya yang datar dan dingin perlahan melunak disusul helaan napas yang entah bermakna apa. Yang pasti, jiwanya saat ini tengah terbelenggu oleh rantai perasaan tak kasat mata.
Kaki diajak menginjak pedal gas diikuti bantingan setir memutar. Jeaven akhirnya memilih membiarkan Jennis mengurus Jesslyn yang diyakini sedang menangis sesenggukan.
"Katakan, Jesslyn. Apa yang sedang terjadi?" Jennis menangkup kedua pipi wanita itu yang dingin seiring dengan tatapan begitu dalam. Pria itu sangat khawatir sekarang.
"Aku sangat membencinya, Jennis! Aku tidak ingin melihatnya lagi!" Itulah untaian kalimat kekecewaan Jesslyn yang pertama mencelos dari bibirnya.
Garis-garis kernyitan seketika membingkai wajah pucat Jennis yang sudah dipenuhi tanda tanya. Kekhawatiran pun kian melanda. Ia bisa langsung menebak, Jeaven adalah alasan di balik tangisan si wanita.
Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Apakah sang kakak sudah bertindak di luar akal sehatnya, hingga Jesslyn berurai air mata?h Rasanya ingin sekali ia mendapatkan jawaban dengan segera.
Jika tidak, bisa-bisa nanti dia akan mati karena ditimpuk rasa penasaran.
"Apa kakakku sudah menyakitimu?" Jennis bertanya dengan sebuah harapan penuh bahwa apa yang disangka itu salah.
Alih-alih segera menjawab, tangisan Jesslyn justru kian menjadi. Dan hal itu belum cukup dijadikan jawaban yang dinanti. Yang ada, Jennis kian tak tega hati.
Ditarik tubuh basah Jesslyn untuk tenggelam ke dalam pelukannya. Tangan diajak mengusap lembut punggung si wanita, bibir juga melabuhkan kecupan sayang pada pucuk kepala.
"Bantu aku agar bisa berhenti mencintainya. Terlalu sulit jika kulakukan sendiri. Aku sungguh membencinya. Dia sudah melukai hatiku, tapi rasaku kepadanya terlalu dalam," curhat Jesslyn tersedu-sedu di dalam pelukan hangat Jennis.
"Bisakah kau berhenti mencintainya dengan tanpa membenci?" Pinta Jennis dan kian mendekap erat tubuh Jesslyn yang bergoncang karena menangis.
Selama ini, Jennis memang merasa patah hati saat menyadari rasa cinta Jesslyn untuk sang kakak terlalu tinggi. Namun, ia juga tidak rela jika sang kakak dibenci. Bagaimanapun juga, Jeaven adalah orang yang juga ia sayangi.
Bukan seperti itu yang diinginkannya. Sungguh, Jennis tidak ingin ada pergesekan panas di antara mereka. Akan tetapi, ia tidak tahu bagaimana mencari cara. Di saat seperti ini, pria itu merasa tidak berguna.
"Ini sangat sulit," kesah Jesslyn.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, jika kau terluka jadikan aku obatmu. Aku serius dengan ucapanku itu. Apa kau tidak bisa sedikitpun peka?"
"Jennis," lirih Jesslyn di tengah kebingungannya.
Menyadari hal itu, Jennis sedikit mengurai pelukan lalu menatap lekat mutiara hazel basah si wanita. "Apa aku terlalu tidak tahu diri jika mencintaimu?"
Isakan tangis Jesslyn perlahan mereda, tergantikan oleh keterkejutannya. Ia tidak menyangka Jennis memiliki rasa berbeda terhadapnya.
__ADS_1
"Kau akan terluka jika menjadikan hatimu sebagai tempat pelarianku."
"Setidaknya itu lebih baik karena keberadaan rasa cintaku ini ada manfaatnya untukmu."
Jesslyn mengajak raut sendunya menggeleng lemah. "Aku tidak bisa."
"Karena kau masih mencintai, Jeaven?"
Dan lagi, wanita itu kembali terisak. "Tapi aku juga membencinya."
Jennis merengkuh kembali tubuh Jesslyn. Bibirnya bahkan tidak bisa menahan untuk tidak melabuhkan kecupan penenang di pucuk kepala wanita itu.
"Luapkan semua kesedihanmu, baru aku antar pulang."
Sebenarnya apa yang baru saja terjadi di antara kalian?
Ternyata Jennis masih tersiksa oleh tanda tanya besar. Ditambah lagi ia tahu pakaian yang dikenakan Jesslyn adalah milik Jeaven. Tidak mungkin dia bisa acuh begitu saja.
Beberapa saat setelah tangisan Jesslyn mereda. Jennis mengantar wanita itu pulang. Tapi kali ini tujuannya bukan di kediaman Willson, melainkan ke rumah Monica. Itu karena permintaan Jesslyn.
"Terima kasih," ucap Jesslyn kepada Jennis yang sudah mengantarnya hingga di depan pintu rumah Monica. Wanita itu masih memasang muka berselimut mendung kelabu.
Jennis mengulas senyuman terbaiknya, meski hati sedang tak baik. "Tersenyumlah, aku suka melihatnya."
"Bagaimana bisa kau menyuruh orang yang sedang badmood tersenyum?" Protes Jesslyn pada akhirnya ia tersenyum juga. Meski hanya senyuman tipis dan terkesan terpaksa setidaknya ia sudah berusaha.
"Satu kecupan saja di pipi," goda Jennis tersenyum nakal.
"Nggak boleh!" Tolak Jesslyn diikuti tukikan tajam pada kedua pangkal alisnya.
Mendengus kecewa karena belum bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi Jennis tidak kehabisan ide begitu saja. "Hei, Monica. Apa kabar?"
Jesslyn seketika menoleh, tapi tidak ada sosok Monica yang datang. "Jennis ...!" Serunya saat pria yang lima tahun lebih muda darinya itu mencuri ciuman di pipi. Ia mengangkat tangan dan hendak melayangkan pukulan, tapi pria muda itu dengan tangkas menangkap tangannya dan bahkan mengecup buku-buku jemarinya.
"Aku mencintaimu. Dan cepat ganti pakaianmu dengan yang kering. Aku tidak ingin kau sakit" bisik Jennis lalu melenggang pergi.
"Jesslyn, sejak kapan kau datang?" Seorang pria paruh baya yang baru saja menyapa tampak keheranan. Seaaat ia melirik ke arah jam tangannya. " Ini masih sangat pagi. Dan ada apa dengan penampilanmu ini?" Pria itu mengamati pakaian putri dari sahabatnya itu dengan ekspresi keheranan.
Semua orang pasti akan melakukan hal yang sana, karena Jesslyn saat ini sedang mengenakan pakaian serba kedodoran dan juga terlihat basah. Rambutnya juga belum sepenuhnya kering.
"Paman Sammy, apa kabar? Lama tidak bertemu. Jesslyn kangen." Wanita itu langsung menepis raut sedihnya dan memeluk sayang pria yang merupakan ayah kandung Monica.
"Kau masih saja berisik seperti Ibumu." Celetuk Sammy diiringi tawa renyahnya yang selalu menjadi ciri khas.
"Waah! Kau terlihat sangat buruk. Matamu bengkak seperti habis disengat lebah. Apa kau baru saja menangis?" Rupanya Sammy menyadari jejak-jejak tangisan Jesslyn.
__ADS_1
"Iya, Paman." Jesslyn nyatanya tak berniat ingin menutupi. Toh sudah ketahuan juga.
"Kau pasti butuh teman untuk diajak menangis bukan?"
"Apa Paman ingin menangis bersamaku?"
"Apa kau bercanda? Mukaku sudah bengkak karena lemak, jangan dibuat tambah bengkak lagi karena menangis. Sudah masuk saja ke rumah sana. Monica masih mendengkur di kamarnya."
"Paman mau ke mana?"
"Aku mau keluar beli pembalut."
"Apa?! Paman pakai pembalut?"
Pletak!
"Aw! Sakit ...!" Rintih Jesslyn setelah mendapat hadiah jitakan dari Sammy.
"Kau pikir Paman ini pria apa'an? Istriku yang memintaku untuk membelikannya."
"Oow ...." Jesslyn mengulum senyuman.
"Paman pergi dulu sebelum ibu ratu mengamuk."
"Hati-hati, Paman."
"Iya."
Jesslyn tampak menghela napas panjang setelah punggung Sammy sudah tak tertangkap mata. Wajah sendunya pun kembali menyapa.
"Sebaiknya aku segera menemui, Monica."
…
"Sayang, kau mana saja semalaman? Mommy meneleponmu tapi nomor tidak aktif." Kepulangan Jeaven langsung disambut mimik kecemasan Jenny.
"Maaf, semalam Jeaven menginap di luar dan lupa tidak mengisi ulang batrai ponsel, Mom," terang si putra sulung keluarga Allison itu.
"Ada apa, Mom?" Jeaven kini balik bertanya karena raut wajah sang mommy memang perlu dipertanyakan.
"Adikmu pergi dari rumah dari semalam." Jenny langsung berhamburan ke pelukan sang putra dan menangis histeris.
"Kenapa?" Ekspresi terkejut seketika menghiasi wajah Jeaven yang dari awal memang sudah terlihat kusut.
"Adikmu sudah tahu semuanya," sela Jeffrey yang baru saja datang mendekat.
__ADS_1
Bersambung~~
Maaf ya jika banyak typo. Ngetiknya buru-buru soalnya..😭