
Jesslyn dan Bryan akhirnya memijakkan kakinya di negara Swiss setelah hampir dua jam melewati jarak tempuh penerbangan. Meski mereka sebelumnya harus mengalami sedikit perdebatan.
Bryan yang mencemaskan kesehatan Jesslyn menyarankan agar menunda penerbangan. Namun, wanita cantik itu sangat keras kepala dan tetap ingin melakukan perjalanan.
Hingga Bryan yang kebetulan berprofesi sebagai seorang dokter terpaksa melakukan pemeriksaan darurat di dalam mobil saat menuju ke bandara internasional London Heathrow. Berat rasanya membiarkan Jesslyn melakukan penerbangan dalam kondisi kurang sehat. Dan yang bisa ia lakukan hanya memberi pengawasan ekstra selama perjalanan.
Setelah sampai di bandara internasional Zurich, Swiss, kondisi Jesslyn kian meresahkan. Hingga Bryan segera melarikannya menuju rumah sakit. Dan di saat itu juga lah ia tahu bahwa si wanita sedang berbadan dua dan mengalami pendarahan implantasi.
Beruntung kondisi Jesslyn beserta janinnya tidak mengalami goncangan terlalu serius. Namun, dokter tetap menganjurkan agar dia melakukan bed rest selama beberapa hari.
"Apa kau butuh sesuatu?" Bryan menyelipkan tawaran bantuan di kalimat tanyanya.
"Tidak, terima kasih. Aku ingin segera beristirahat saja." Rasa tidak nyaman yang menggerayangi tubuh menuntun Jesslyn untuk segera berhamburan di ranjang apartemennya. Ia bahkan tidak peduli dengan keberadaan Bryan yang masih berada di sana.
"Lepas dulu sepatumu." Pria berambut blonde itu langsung berinisiatif membantu melepas sepatu Jesslyn yang terlihat pasrah. Tidak lupa ditarik selimut untuk menutupi tubuh mungil wanita itu.
Jujur, Bryan sedikit kesal dengan sikap Jesslyn yang abai dengan kesehatannya. Rona pucat tengah bertengger di wajah si wanita, tentu rasa cemas juga ada.
"Terima kasih, Bryan." Jesslyn masih sempat bersuara lemah meski mata sudah terpejam.
"Boleh aku tahu, siapa ayah dari janin yang kau kandung?" Memang sebagai seseorang yang baru beberapa hari bertemu kembali dengan Jesslyn ini terkesan lancang dan terlalu ikut campur. Akan tetapi rasa ingin tahunya sudah terlanjur mengucur. Selain itu rasa cemburu juga turut membaur.
"Maaf, Bryan. Aku sedang tidak ingin membahasnya," balas Jesslyn bersungguh-sungguh. Saat ini ia memang terlalu malas mengingat Jeaven yang merupakan tersangka utama penebar benih di rahimnya.
Ditambah lagi berita kehamilan itu juga sukses mengguncang psikisnya. Segunung kerisuan tengah menggerogoti bilik pikiran dan hatinya.
Dia masih muda, banyak cita-cita yang belum tergenggam secara nyata. Luas harapan yang dipertaruhkan dalam doa. Tapi kini setitik nyawa di dalam perutnya memporandakan agenda hidupnya.
__ADS_1
Jesslyn tidak membenci calon anaknya, hanya saja kegamangan sedang merajai hatinya. Bagaimana nanti dia menjalani hidupnya? Apakah kelak dia bisa menjadi seorang ibu yang baik seperti para ibu di luar sana? Bagaimana juga dengan reaksi keluarganya jika tahu dia sedang hamil lepas dari ikatan pernikahan berbalut cinta?
Ah! Sungguh Jesslyn sedang dilema. Di saat seperti ini, bayangan sosok Jeaven malah kian mengapung di atas kepala. Kalau seperti ini tentu sulit baginya untuk lupa. Lupa akan debaran cinta pertamanya. Padahal hatinya sedang berlumur rasa kecewa.
"Baiklah. Aku keluar sebentar dan akan kembali membawakan obat untukmu." Bryan pun tidak ingin memaksa dan lebih mencoba untuk mengerti. Lagian dia juga harus menjaga sikap agar tidak melampaui porsi.
Sebenarnya pria itu diam-diam berniat mengambil hati Jesslyn kembali. Meskipun wanita itu sedang hamil, tapi dia tidak peduli. Bahkan jika si wanita membutuhkan sosok seorang ayah untuk anaknya dia bersedia mengambil posisi.
Kaki yang hampir melangkah menuju pintu keluar tiba-tiba kembali memaku. Sekilas Bryan tampak terdiam dengan pandangan memindai sebagian sudut kamar Jesslyn. Beberapa dreamcatcher terbias di kedua lensa matanya.
Jesslyn sepertinya sangat menyukainya. Batin Bryan berbisik.
Beberapa tumpukan amplop kartu ucapan yang menghiasi nakas meja juga turut menarik perhatiannya. Tanpa menyentuh, Bryan membaca sederet tulisan yang tertera di atas lembaran tersebut.
"Secret Admirer." Ia mengulang bacaannya dalam lirih. Tidak lama, ia pun memilih berlalu dari apartemen Jesslyn membawa senyuman cerah di bibirnya.
…
Iya, cinta tak berkandung asa karena selama ini benih rasa di dalam hati dihalaunya untuk bertunas dan menjulang tinggi. Demi siapa lagi, kalau bukan untuk adik yang di sayangi. Namun, pada akhirnya justru sesal yang merajai kini.
Upaya pengorbanan perasaannya ternyata berakhir sia-sia. Sang adik yang pergi dengan membawa luka cinta. Dan Jesslyn pun menghilang membawa lumbung kecewa terhadapnya.
Jeaven duduk termenung di atas sofa. Sepasang mata elangnya tampak meredup tak bercahaya. Hatinya kini bagaikan raga tak bernyawa.
Kehilangan sang adik sudah sangat mematahkan perasaannya sebagai seorang kakak. Belum lagi kepergian Jesslyn kian membuat hatinya bergejolak. Ingin rasanya ia berteriak, tapi hal itu juga tak mampu memangkas jarak.
Jarak antara dia dan Jesslyn maksudnya.
__ADS_1
"Apa kau sedang menertawaiku sekarang?" Jeaven tersenyum getir dengan tatapan menyorot nanar sebuah foto besar yang menghiasi dinding. Sebuah foto seorang wanita cantik yang sedang memamerkan senyumannya yang indah. Sebuah foto yang diambil secara diam-diam.
"Andai dari dulu kau berhenti mengejarku, mungkin hati ini tidak akan terpaut oleh pesonamu." Ia mengusap kasar wajah kusutnya diakhiri sebuah helaan kasar sebagai bentuk rasa frustrasi.
Dia mengakui bahwa selama ini pesona Jesslyn sudah meracuni hati dan pikirannya. Bahkan dia sampai beberapa kali melawan hasrat gairah jika bersentuhan dengan si wanita.
'Kau Gairah Cintaku', judul novel ini memang sangat cocok menggambarkan apa yang dirasakan Jeaven terhadap Jesslyn selama ini. Sama halnya dengan cuplikan kalimat yang menghiasi sampul karya, 'sebenarnya kau adalah detak jantungku. Namun, takdir seolah membungkam mulutku. Mengubur rasa di palung sendu', yang di mana juga sedang di alami pria tampan itu saat ini.
Dering nada panggilan tiba-tiba mengusik ketenangan. Jeaven langsung meraup ponselnya dari meja setelah melihat nama seorang suruhan menghiasi layar. Gegas digeser ikon bewarna hijau lalu ditempelkan ke telinga.
"Katakan," titahnya dan siap mendengarkan.
"Saya sudah memeriksa seluruh jadwal penerbangan dalam sepekan terakhir, Tuan. Swiss adalah negara tujuan nona Jesslyn. Bahkan hari ini dia juga melakukan penerbangan pulang ke London, tapi di sore hari dia sudah kembali ke Swiss lagi," lapor Dion seorang pengawal yang dititahkan Jeaven untuk melacak keberadaan Jesslyn.
"Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya."
"Siap, Tuan. Dan ada sebuah informasi tentang Bryan Cleve."
"Katakan."
"Bryan Cleve adalah konsumen VIP dari produk Willson Corp. Tapi dia hanya melirik rancangan khusus dari nona Jesslyn saja. Dan hari ini Bryan Cleve juga melakukan penerbangan yang sama dengan nona Jesslyn. Ini memungkinkan kalau mereka pergi bersama." Dion berspekulasi di penghujung laporannya.
"Lanjutkan tugasmu."
"Baik, Tuan."
Jeaven langsung mematikan sambungan panggilannya. Dihempas kasar punggungnya ke sandaran sofa. Perasaannya kian tak karuan setelah mendengar laporan dari pengawalnya.
__ADS_1
"Sial! Rupanya pria itu masih memiliki ketertarikan terhadap Jesslyn."
Bersambung~~