
"Kenapa berhenti?" Langkah Bryan tersendat saat Monica tiba-tiba menarik tangannya.
"Apa kau yakin?" Monica meragu. Detak jantungnya kian berseru. Baru beberapa saat yang lalu ia sudah membulatkan tekadnya untuk terus maju, tapi angin kerisauan malah datang berhembus menggoyahkan akar kalbu.
"Kau harus percaya kepadaku." Bryan meraih jemari Monica untuk meyakinkan.
"Bukan karena aku tidak percaya kepadamu, Bryan. Aku hanya takut kau kembali menerima perlakuan kasar darinya. Aku tidak ingin itu terjadi." Monica mengutarakan alasan dari keraguannya.
"Aku bukanlah yang dulu lagi, Monica. Semuanya sudah aku pikirkan dengan matang. Lagian aku memiliki kekuatan lebih besar sekarang karena ada kau di sisiku."
Monica tersenyum lega. Ucapan Bryan bak angin surga yang menenangkan jiwa. "Baiklah. Apapun yang terjadi aku akan tetap berdiri di sampingmu."
Sama seperti Monica, Bryan pun ikut tersenyum lega. Wanita yang sedang diperjuangkannya itu ternyata tidak sulit diajak bicara. "Ayo jalan lagi." Ia menuntun mahkluk berparas imut itu menyusuri halaman luas sebuah rumah mewah.
"Beraninya kau!" sentak Crish yang hampir melayangkan tamparan tapi segera ditangkis Bryan. Dengan cepat ditarik kembali tangannya dari cengkeraman.
Crish yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Bryan tampak berselimut amarah. Ia merasa dipermalukan karena putranya kembali bertingkah.
Di depan Selena dan juga kedua orangtua wanita itu Bryan terang-terangan kembali menolak perjodohan. Padahal beberapa hari lagi serangkaian acara pernikahan mewah akan segera dilaksanakan.
"Bryan! Kau tidak bisa bertindak sesuka hatimu. Pernikahan kita harus tetap terjadi." Selena langsung melontarkan protes. Ia juga melayangkan tatapan tajam kepada Monica yang di anggap sebagai biang keretakan hubungannya bersama Bryan.
"Bukankah selama ini kalian yang selalu bertindak sesuka hati tanpa melibatkan aku dalam berkeputusan?" Bryan tentu tidak mau kalah atau disalahkan.
"Cukup! Di sini aku yang berhak memutuskan tentang hidupmu. Karena aku ayahmu. Patuhi perintahku." Crish kembali bersikap otoriter sebagai orang tua.
"Aku berhak atas hidupku, Ayah. Dan aku akan menikah dengan wanita pilihanku. Namanya Monica." Bryan kian menggenggam erat tangan wanitanya dengan raut wajah serius.
Monica langsung membalas genggaman Bryan karena hatinya peka jika saat ini prianya itu butuh dukungan. Memang tiada kata terlepas dari lisan. Namun hanya inilah yang bisa ia lakukan, berdiri di sebelah Bryan sebagai sumber kekuatan.
"Kau sangat tidak menghargai kami, Bryan!" Ayah Selena ikut menyerukan rasa tidak terimanya. Sementara sang istri yang juga berada di sana terlihat kecewa.
"Pernikahan kalian harus tetap terjadi!" hardik Crish menekankan. Sejurus kemudian hunusan tatapan tajam tertuju ke Monica. "Aku peringatkan agar segera menjauh dari kehidupan putraku. Keberadaanmu sudah merusak semua!" kecamnya lagi.
"Sayangnya semua yang Ayah impikan itu tidak akan terjadi." sela Bryan kian berani. "Apakah Ayah akan tetap mendambakan pernikahan bisnis ini setelah tahu kalau istrimu bermain api di belakangmu bersama calon besanmu sendiri? Ayah harus tahu, mereka berdua juga memiliki rencana jahat untuk menjatuhkan bisnismu."
Apa yang dibeberkan Bryan seketika menggemparkan seisi ruangan. Ditambah lagi ia juga menyerahkan sebuah bukti berupa video percakapan.
"Dengan apa yang telah terbongkar, Ayah pasti bisa memutuskan secara bijak untuk melanjutkan perjodohan ini atau sebaliknya." Bryan sempat memberi tuturan sebelum akhirnya menarik Monica keluar dari ruangan yang mulai memanas. Sudah bisa dipastikan pertengkaran hebat akan segera mengganas.
Di dalam mobil ...
__ADS_1
"Terima kasih karena bersedia menemanku," ucap Bryan penuh syukur.
"Fyuh! Tadi aku serasa mau pingsan," celetuk Monica merasa lega.
"Kau luar biasa," puji Bryan.
"Aku hanya berdiri dan diam saja. Apanya yang luar biasa?"
"Ya karena kau tidak pingsan. Kalau itu sampai terjadi aku juga yang susah," kelakar Bryan dan langsung mendapat lirikan sinis.
"Ow ... jadi gitu?"
"Iya, aku susah jika kau tidak baik-baik saja." Bryan berniat mencium Monica tapi malah menerima penolakan. "Kenapa?"
"Aku belum terbiasa."
"Kau malu?"
"Kok masih nanya sih?!" sungut Monica antara kesal dan malu.
Bryan malah terkekeh gemas dan langsung menyambar bibir Monica yang tampak terkejut karena menerima serangan tiba-tiba. Namun, pada akhirnya wanita itu turut mengimbangi juga.
"Kita ke London hari ini. Aku sudah membeli tiket pesawat,' ucap Bryan setelah menyudahi ciumannya.
"Menemui kedua orang tuamu."
"Apa?!"
"Kita harus segera menikah minggu ini."
"Ha?! Apakah tidak terlalu mendadak?"
…
Sementara di belahan bumi lainnya.
Perlahan Jeaven merebahkan tubuh Jesslyn di atas peraduan empuknya. Ia menyusul berbaring miring dengan sebelah tangan menopang kepala. Tangan terulur membelai lembut setiap pahatan cantik wajah si wanita. Satu kecupan manis di kening pun mendarat sempurna.
Masih sebatas kecupan singkat, Jeaven tak ingin langsung bereaksi meski sudah didesak oleh hasrat. "Jika kau tidak nyaman, aku tidak akan berhubungan lagi dengan dokter Nicole."
"Aku hanya tidak nyaman saat kau dipanggil ayah. Bisakah dia memanggilmu dengan sebutan paman saja?" Jesslyn rupanya mulai terbiasa mengutarakan isi hatinya di depan Jeaven.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan bicarakan ke dokter Nicole."
"Kau akan menemuinya lagi?" Jesslyn langsung cemberut. Meski tahu usia dokter Nicole sepantaran dengan ibunya tapi tetap saja kecantikan paripurna dokter itu membuatnya resah.
"Tidak boleh?"
"Terserah kau saja." Jesslyn membelakangi Jeaven.
Jeaven langsung memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. "Kau cemburu?"
"Tauk!"
"Aku suka."
"Hish!"
Jeaven mendekatkan bibirnya ke telinga Jesslyn lalu berbisik. "Aku tidak perlu minta ijin, 'kan?"
"Ijin untuk apa?" Jesslyn menggeliat kecil karena hembusan napas Jeaven di telinganya memberi sensasi geli tapi juga enak.
"Menidurimu," bisiknya lagi dengan suara mulai terdengar parau karena gebuan hasrat sudah meronta di dalam desiran darahnya. Dibawa bibir menyusuri leher mulus Jesslyn sembari meninggalkan jejak basah. Sebelah tangan bergerak lihai bermain di balik kain yang kian merangsang gairah.
"Hmm. Jeav, geli."
Jeaven terus melakukan pemanasan. Tidak ingin terburu-buru apa lagi membuat wanitanya merasa tidak nyaman. Memang melakukan kegiatan ranjang bersama Jesslyn sangat di inginkan. Tetapi bukan berarti ia harus bersikap egois hingga membuat pasangannya kesakitan. Pokoknya, malam pertama di antara mereka harus berlangsung menyenangkan.
Malam pertama? Ya anggap saja seperti itu.
Kruuk ...!
Aksi Jeaven langsung terhenti. Jesslyn yang hampir terbuai pun mengernyit dahi.
"Aku yakin itu tadi bukan suara perutku tapi perutmu," sambar Jesslyn dengan cepat sebelum ia menjadi sasaran tuduhan.
Jeaven seketika menyembunyikan wajahnya ke dalam ceruk leher si istri. Pria itu terkekeh geli di sana lalu manarik tubuhnya kembali. Dikecup sekilas bibir ranum Jesslyn sebelum mendudukkan diri.
"Sebaiknya kita makan dulu," ucap Jeaven.
"Benar 'kan itu tadi kau."
"Aku lapar. Kau pasti juga lapar."
__ADS_1
Bersambung~~
MAAF! ANUNYA DITUNDA DULU SAMPAI BESOK YA. NOFI TAKUT BAPER. WKWKW..