
"Dok, alternatif apa lagi yang harus dijalani agar putra saya bisa sembuh total dan kembali menjalani hidupnya seperti biasa?" Jeffrey melabuhkan pertanyaan yang sarat akan harapan besar. Kendati raut hampir tak pernah berekspresi lepas, tapi percayalah hati ayah mana yang tidak terluka jika anaknya bernasib malang.
Di sisinya terlihat Jenny tak henti meluapkan kesenduannya di dada dekapan sang suami. Tangan beberapa kali menyeka air mata lara yang terus membasahi pipi. Sungguh, sebagai seseorang ibu melihat kerapuhan sang putra bagai merelakan hujaman pisau yang merobek relung hati.
"Begini, Tuan Jeffrey. Penderita kanker otak staidum 4 kemungkinan sembuh total sangatlah kecil. Di dalam dunia medis memang penyakit kanker tidak bisa dikatakan sembuh. Istilah yang digunakan adalah remisi atau relaps,” terang sang dokter.
Istilah remisi atau relaps disematkan pada pasien kanker yang sudah melakukan terapi, dan sudah dievaluasi, bahwa pasien tersebut tidak mengandung sel kanker lagi di dalam tubuhnya. Pada masa remisi tersebut, si pasien harus tetap kontrol secara teratur dan tetap menjaga tubuhnya agar selalu sehat.
"Saya mohon, Dok. Tolong berikan yang terbaik untuk putra saya. Dia masih terlalu muda. Banyak harapan yang harus dia gapai." Jenny memohon sembari tersedu-sedu.
"Pasien baru saja menjalani operasi kraniotomi. Kami akan memantau kondisi pasien dan memberikan obat-obatan guna mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Kami juga akan melakukan pemeriksaan pada sistem saraf dan otak pasien guna memastikan bahwa organ tersebut dapat berfungsi dengan baik pascaoperasi." Dokter menjeda penjelasannnya. Sesaat, diamati sepasang suami istri yang tengah bermuram durja itu dengan perasaan iba lalu lanjut bersuara.
"Di balik usaha keras kita, sisipkanlah sebuah harapan akan sentuhan keajaiban tangan Tuhan. Dan sekalipun keajaiban itu ternyata belum berpihak untuk saat ini, percayalah bahwa Tuhan tidak semerta-merta menarik kasih sayangnya begitu saja," tutur sang dokter bernama Thomas itu.
Selang tidak lama pintu ruang konsultasi dokter terbuka. Langkah Jeffrey dan dan Jenny langsung disambut Jeaven yang sedari tadi menunggu di sana.
Jeffrey tampak menghela napas kesah saat melihat mimik Jeaven yang meminta kejelasan. "Angka perkiraan fase hidupnya hanya bersifat rata-rata untuk penderita kanker. Ini artinya, kesempatan hidup Jennis sangat bergantung dari ketahanan tubuh dan seberapa ganas atau banyak sel kanker yang terbentuk."
"Apakah pihak medis sedang mempermainkan kita? Apa gunanya operasi kraniotomi kalau gitu?" Nada bicara yang sedikit meninggi. Dia sangat kecewa.
Pria tampan berparas dingin itu langsung memutar kaki, meninggalkan kedua orang tuanya dengan membawa rasa gundah di hati. Sungguh, seorang Jeaven tengah kacau saat ini.
Begitu banyak pukulan tak kasat mata yang mencetak lebam pada dinding rongga dadanya. Tanpa ada orang yang tahu kalau dia sedang menahan kemelut beragam rasa.
"Bagaimana keadaanmu?" Jeaven langsung melabuhkan tanya setelah menempati bangku sebelah ranjang rumah sakit.
Seolah kabar buruk yang menimpanya beberapa hari yang lalu tak mampu meluruhkan ulasan senyum pada bibir Jennis. Kendati keputus asaan telah bernaung di hati. Karena kematian sudah menanti. "Kau itu memang tidak kreatif. Pertanyaanmu itu terlalu basa- basi," celetuk Jennis berkelakar.
Rupanya candaan Jennis tak berhasil merubah ekspresi Jeaven. Kedua sudut bibirnya pun tampak enggan tertarik mencetak senyuman. "Aku serius bertanya. Jika ada yang membuatmu tidak nyaman akan ku panggilkan dokter."
Rona ceria Jennis perlahan luntur bertukar senyuman getir. "Bolehkah aku bertanya?"
"Apa?"
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara kau dan Jesslyn? Aku menemukannya menangis di bawah hujan dekat sungai Thames." Jennis membawa mata sayunya bersiap menilik ekspresi sang kakak. Namun, lagi-lagi ia kesulitan untuk menilai. Sungguh, seorang Jeaven memang tak mudah untuk dibaca.
__ADS_1
"Seperti biasa. Aku kembali menyakitinya dengan menolak perasaannya." Jeaven hanya menggunakan sedikit keterangan guna menutupi pokok peristiwa.
"Kau terus saja membuat dia menangis," protes Jennis.
"Aku tidak bisa menerimanya."
"Karena kau tidak cinta?"
"Kau sudah tahu, kan?"
Jennis menarik pandangannya dan menatap lurus ke langit-langit kamar. Pikiran menerawang dengan perasaan nanar.
"Aku serius dengan apa yang ku katakan sebelum pingsan. Aku ingin menjadi bagian dari kehidupan Jesslyn. Akan tetapi apakah itu mungkin, sementara dia masih sangat mencintaimu?" Jennis kembali memandangi sang kakak. Kali ini sorot matanya lebih serius. "Apakah kau bisa membuat Jesslyn benar-benar melupakanmu, tapi tanpa dengan menyakitinya lagi? Sebelum mati aku ingin membuat diriku menjadi sosok beharga untuknya."
Jennis segera memutuskan tautan matanya dengan Jeaven. Jujur, ia cukup malu mengatakan hal yang cukup menggambarkan sebentuk keegoisannya itu.
"Akan aku coba, tapi tidak bisa janji untuk tidak kembali menyakitinya."
"Sudah aku katakan jangan sakiti dia. Aku akan menghajarmu!"
"Semua orang pasti akan mati, bukan? Hanya cara dan waktunya saja yang berbeda."
"Beristirahatlah, agar segera pulih," tutur Jeaven.
"Baiklah. Kau keluarlah, aku mau tidur." Jennis mulai mengambil posisi tidur ternyaman dan memejamkan mata.
Tidak lama, telinganya mendengar langkah kaki Jeaven yang kian menjauh diakhiri suara pintu tertutup. Bertepatan dengan itu matanya kembali terbuka.
"Maafkan aku karena egois. Bersikap buta dan tuli dengan yang aku ketahui."
…
Ayunan kaki jenjang yang menapaki lorong rumah sakit kini berhenti di depan pintu kamar perawatan. Tangan terulur mendekati handle pintu, tapi tampak terhenti sejenak seolah terhalau oleh kegoyahan hati. Namun, pria itu yang tak lain adalah Jeaven dengan cepat meraup kembali kemantapan dari keputusannya.
"Jeaven," panggil lemah seorang pasien setelah melihat sang pujaan hati datang mengunjunginya.
__ADS_1
Jeaven mengamati penampilan wanita yang tampak pucat dengan sebuah topi kemo menutupi kepalanya yang hampir tak berhias surai. Tak urung rasa iba pun menggelenyar di hati. Mengingat sosok lemah di hadapannya tak memiliki kerabat dekat yang bisa menemani di saat seperti ini.
"Sudah minum obat?" Tanya Jeaven pada akhirnya.
Wanita itu, Verlin, sebisa mungkin mengulas senyum pada bibir pucatnya. "Sudah. Bagaimana keadaan Jennis?"
"Fokuslah pada kesehatanmu sendiri.
"Kau hanya tinggal menjawab, apa susahnya sih?"
"Kenapa selama ini kau tidak pernah cerita kalau sakit?" Sesal Jeaven. Andai dia tahu jika manajer pribadinya itu selama ini menderita kanker servik sudah pasti dia akan lebih banyak memberi waktu untuk beristirahat.
"Aku tidak ingin terlihat menyedihkan di depanmu. Meski pada akhirnya sesuatu yang tidak aku inginkan itu benar-benar terjadi. Saat ini kau pasti sedang mengasihaniku, kan?"
"Iya."
"Sudah ku duga."
Sesaat keheningan mengitari suasana hingga Jeaven akhirnya kembali bersuara. "Aku sudah memutuskan," ucapnya membuat Verlin menautkan garis penuh tanya di muka.
"Keputusan apa?"
"Memenuhi permintaanmu kemarin."
Verlin sontak memasang wajah tak percaya. "Kau serius?" Ia kembali meyakinkan dan anggukan Jeaven langsung diterima.
"Kau pasti sangat mengasihaniku, ya? Hingga mau mewujudkan keinginan terkahirku?"
"Itu satu dari alasanku."
"Tidak apa-apa. Meskipun begitu aku sudah sangat bahagia." Verlin mencoba tersenyum kendati suara hati yang lain tengah berbisik.
Maafkan aku. Pada akhirnya aku menjadi pihak egois di antara kau dan Jesslyn.
Bersambung~~
__ADS_1