
Jesslyn terjingkat kala daun pintu tempat ia bersandar terasa terdorong dan hampir terbuka. Pikiran negatif seketika menjejal otaknya. Di saat pikiran kalut seperti saat ini ketakutan tentu saja mudah sekali tercipta.
Ditambah lagi malam sudah hampir bertemu dini hari. Siapa juga orang yang hendak bertamu di saat malam-malam gini. Anehnya lagi orang itu tahu password pintu yang tentu memiliki kebebasan keluar masuk apartemen tanpa permisi. Suasana mencekam seketika mengiringi. Jesslyn bergidik ngeri.
Tangan segera dibawa mendorong pintu agar kembali tertutup sempurna, mencegah orang asing itu masuk dan mengusiknya. Ia masih ingat untuk memutar kunci agar akses keluar masuk apartemennya itu tidak bisa dimasuki sembarang manusia.
Entahlah, Jesslyn tidak yakin usahanya itu bakal berguna atau malah sia-sia. Sekarang dia hanya ingin segera mencari tempat berlindung dari suatu hal buruk yang tidak diiginkannya. Kaki setengah berlari menuju kamar lalu mengunci pintu dengan segera. Tergesa-gesa dibawa tubuh bersembunyi di balik selimut tebalnya.
"Jeaven, aku takut." Tubuh Jesslyn bergetar. Detak jantungnya kian berdebar. Nalurinya mendambakan perlindungan dari sang suami tanpa sadar.
"Siapa orang itu tadi? Apakah perampok yang berusaha membobol apartemenku? Ya Tuhan." Jesslyn kian meringkuk membawa rasa was-was.
Ceklek! Ceklek!
Ketakutannya kian membuncah kala mendengar seseorang seperti berusaha membuka pintu kamar yang masih terkunci. Jemari menarik lebih erat ujung selimut untuk melindungi diri. Bahkan mengintip dari balik selimutnya pun dia tidak berani.
Debar ketakutan seakan membuat jantungnya ingin melompat dari rongga dada. Jesslyn mendengar orang asing itu berhasil membuka pintu kamarnya. Bahkan terdengar jelas ketukan langkah kaki yang berjalan mendekati ranjangnya.
Jesslyn sedikit pun tak bersuara. Berharap keberadaannya tidak tertangkap mata. Bahkan ia beberapa kali menahan napas agar tidak mengundang curiga. Meski dibuat frustrasi oleh oleh suara berisik detak jantungnya sendiri yang malah memperburuk suasana.
Jeaven ... aku sangat butuh kehadiranmu. Aku takut! Ya Tuhan ....
Batin Jesslyn menjerit histeris. Ia berkeringat dingin sembari menangis. Kepalanya sudah dipenuhi oleh bayang-bayang kejadian tragis. Kalau sampai apa yang ditakutkannya itu menjadi nyata sungguh miris.
Terkejut luar biasa seiring dengan napas tertahan. Tubuh Jesslyn saat ini sudah terkurung di dalam sebuah rengkuhan. Dari belakang seseorang mendekap seraya menghujani ciuman. Wanita itu tak berkutik untuk sekedar melawan. Seluruh sarafnya serasa diserang kelumpuhan, membeku dalam ketidak berdayaan.
"Maafkan aku."
Deg!
Rongga dada yang sudah bergemuruh hebat seakan hampir meledak. Suara yang dirindukan seketika menyirnakan himpitan sesak. Keraguan masih bersorak. Jesslyn masih terhanyut di antara rasa percaya atau tidak. Namun, bisikan hati kecilnya juga enggan mengelak.
Dia adalah Jeaven yang sedang memeluknya sekarang.
"Maaf. Aku yang salah."
Apakah ini hanya mimpi? Jesslyn masih setia mengurai tanya di hati. Segera ia putar tubuhnya untuk mencari jawaban pasti. Hingga tangisnya seketika pecah sembari memeluk erat tubuh gagah sang suami.
"Jeaven, ini benar kau, 'kan? Aku tidak mimpi, 'kan? Kalau benar ini hanya mimpi aku tidak ingin bangun dari tidurku. Aku ingin seperti ini saja." Jesslyn menangis histeris, menumpahkan segala keluh resah di dada Jeaven.
"Iya, ini aku. Suamimu." Jeaven membalas pelukan seraya membelai sayang rambut kepala si wanita. Terus terang ia agak keheranan dengan sikap Jesslyn yang terkesan tidak seperti biasanya. Yang dia tahu istrinya itu akan selalu bersikap ketus di sela sikap manja.
"Sebenarnya kau kenapa? Kau merasa tidak nyaman? Ada yang sakit kah? Katakan." Naluri pelindung sebagai suami tentu saja langsung terdorong melimpahkan segenap perhatian kepada sang ratu hati.
Jesslyn menggeleng di sela isak tangisnya. "Aku sekarang sangat baik-baik saja karena ada kau di sini." Segera dibawa wajahnya mendongak hingga sepasang jendela hati suami istri itu saling bertemu. "Bagaimana ceritanya kau bisa selamat dari kecelakaan pesawat itu?" Ia tentu keheranan juga.
Kernyitan sontak menghiasi kening Jeaven. "Kecelakaan pesawat?" Ia terlihat belum bisa mencerna ucapan istrinya. Sedari tadi ponselnya juga mati kehabisan daya, jadi itu bisa juga menjadi faktor tentang dia yang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Tadi Brent menghubungi keluargamu, mengabarkan bahwa pesawat yang kau tumpangi mengalami kecelakaan. Dikabarkan juga tidak ada nyawa penumpang yang selamat. Aku sungguh terkejut, Jeav. Kabar buruk itu sungguh membuatku lemas seperti kehilangan nyawa," terang Jesslyn kembali mengadukan keresahannya.
Jeaven sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa dirinya baru saja selamat dari maut. Andai bayang-bayang istri dan calon anaknya tidak terus terngiang mungkin malaikat kematian sudah menjemput.
Secara tidak langsung Tuhan menjadikan istri dan calon anaknya itu sebagai pelantara agar dia terbebas dari maut. Kalau sudah seperti ini tentu batin tak berhenti berucap syukur atas peristiwa tersebut.
"Aku memang sempat membeli tiket pesawat tapi berubah pikiran dan tidak jadi pergi," terang Jeaven. Ibu jarinya diajak menyeka pipi Jesslyn yang basah.
"Syukurlah." Sekali lagi Jesslyn merasa lega. Sungguh dia sangat bahagia. Tuhan benar-benar menunjukkan keajaibannya. "Tapi kenapa kau tidak jadi pergi?" Ia kembali berlisan tanya.
"Hatiku terasa berat untuk pergi." Sejatinya Jeaven tidak tega meninggalkan Jesslyn di saat permasalahan di antara mereka belum terselesaikan.
"Kenapa? Bukankah kau akan didiskualifikasi dari turnamen balap di Paris jika tetap di sini? Turnamen itu sangat penting untuk karirmu." Jesslyn memang bersyukur Jeaven tidak jadi mengambil penerbangan hingga bisa selamat. Tetapi tetap saja tanda tanya besar di kepala tersemat.
"Aku tidak tega meninggalkanmu."
"Tapi--"
"Lagian kau jauh lebih penting dari pada turnamen balapan itu. Aku masih bisa mengikuti turnamen berikutnya," putus Jeaven.
"Jeaven ...." Dada Jesslyn seketika sesak karena terharu.
"Tapi kenapa kau bisa secemas ini? Bukankah bagus jika aku mati di dalam kecelakaan pesawat itu karena kau tidak mengharapkan keberadaanku."
"Maaf. Aku tarik kembali semua perkataanku." Jesslyn memeluk Jeaven kembali, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Ia kembali menangis karena rasa sesal di hati. "Nyatanya aku tidak akan sanggup kehilanganmu."
"Kau masih mencintaiku?"
"Bukankah kau tidak percaya?" Dan Jeaven seolah tak mau kalah. Dia juga balik melempar tanya.
"Aku percaya. Sangat percaya malahan. Maafkan aku yang sempat meragukan cintamu. Maaf juga sudah membanding-bandingkanmu dengan pria lain. Nyatanya kau adalah pria yang terbaik setelah daddyku."
Jeaven terdiam seketika. Mamandangi wajah Jesslyn dengan perasaan tak percaya. Ia tak menampik bahwa rasa bahagia sudah merambat di relung jiwa. Ucapan yang baru saja terdengar bagaikan hembusan angin surga. Membuat hati sejuk bak terbebas dari dahaga.
Dikecup lama kening Jesslyn dengan cinta. "Terima kasih."
"Katakan kau mencintaiku, Jeav."
"Aku mencintaimu."
"Sekali lagi."
"Aku mencintaimu, Jesslyn. Sangat."
Senyuman Jesslyn mengembang sempurna. Rasa senang bak menaburkan kelopak bunga di dalam dada. "Siapa cinta pertamamu?"
"Kau."
__ADS_1
"Siapa cinta terakhirmu?"
"Ku pastikan tetap kau."
"Janji?"
"Janji."
Jesslyn mencegah tangan Jeaven yang ternyata sudah bermain di balik bajunya. "Jangan ingkar."
"Kau tentu sudah mengenaliku, Jesslyn."
"Tunggu dulu." Kali ini Jesslyn mendorong bibir Jeaven yang hendak menciumnya. "Apa sebelumnya ada wanita yang pernah kau cinta?"
"Hanya kau satu-satunya, Jesslyn. Tidak pernah ada yang lain." Kesabaran Jeaven kian terkikis karena Jesslyn terus saja mencegah dirinya untuk bermain.
Ia langsung mengungkung lalu menarik dress terusan yang dikenakan Jesslyn sampai sebatas dada. Hingga menampilkan buah kembar yang memanjakan mata.
"Jeav, tunggu sebentar. Hmm." Sekali lagi Jesslyn menghalau Jeaven yang hendak mensesap ujung dadanya.
"Aku ingin, Jesslyn. Jangan larang aku." Wajah Jeaven terlihat frustrasi dengan sorot mata melas.
"Tidak boleh. ASInya sudah keluar. Itu untuk anak kita." Jesslyn terkikik melihat ekspresi Jeaven yang seketika berubah kecewa. "Bisa-bisa aku menjadi ibu persusuanmu nanti."
Sontak saja Jeaven tergelak pecah. Jesslyn bahkan sampai terperangah. Baru kali ini dia melihat pria pelit senyum itu tertawa hingga matanya basah.
"Tidak ada yang seperti itu, Jesslyn. Itu hanya berlaku untuk bayi. Sementara aku pria dewasa. Aku ini suamimu, jadi sah-sah saja. Kau lugu sekali." Jeaven tertawa sampai perutnya kaku. Ucapan polos Jesslyn sungguh teramat lucu.
"Ow, gitu ya," respon Jesslyn dengan tampang polosnya. Ia bahkan terlihat pasrah kala Jeaven lanjut melepas satu persatu kain di tubuhnya. Pria itu terlihat sekali kalau sudah tidak sabar untuk mamainkan tubuh istrinya.
Tidak lama kedua raga sepasang suami istri itu sudah saling tak berbalut benang. Di bawah selimut Jeaven mengajak lidahnya bermain dengan senang. Jesslyn bahkan sudah menegang. Kecupan dan gigitan nakal si suami sukses membuat si istri basah karena terangsang.
Selimut tampak bergelombang kala Jeaven menyembul dari sana. "Kau mau mencobanya?"
"Mencoba untuk apa?"
"Pakai mulut."
"Jorok, ih!" Jesslyn langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Jadi nggak mau?"
"Apa kau akan senang jika aku mau melakukannya?" Meski masih merasa jijik rupanya Jesslyn masih berusaha mempertimbangkan.
"Tentu saja."
"Baiklah."
__ADS_1
Bersambung~~
Sambung besok lagi ya..🤣