
Atmosfer balapan sudah terasa dari gerbang area sirkuit Bremgarten. Ribuan manusia juga tampak memadati area kursi penonton. Antusiasme juga terlihat saat mereka menaikkan volume sorakan mengiringi deru mesin motor pembalap yang menggema di seluruh langit-langit sirkuit.
Di medan lintasan para pembalap dunia saling unjuk gigi di atas kuda besi. Mereka saling bersaing adu kecepatan dengan gagah berani. Ancaman resiko yang bisa menghadang sewaktu-waktu bahkan tak menciutkan nyali. Hati pantang gentar demi meraih medali. Sebuah medali penghargaan yang menjadi impian para pembalap sejati.
Jeaven saat ini sedang memimpin paling depan. Di atas medan tempur ia benar-benar menunjukkan taringnya pada lawan. Meski di saat sesi kualifikasi tidak berhasil memperebutkan pole position, tapi itu tak dijadikan penyurut semangatnya untuk meraih kejuaraan.
*Istilah pole position dipakai untuk pembalap tercepat di sesi kualifikasi dan berhak menempati posisi start yang paling depan.
Dan sekarang kerja kerasnya pun terbukti nyata di depan ribuan mata. Pada putaran lap terakhir Jeaven berhasil menjadi yang pertama melewati garis finis dengan rekor kecepatan tembus 363,6 km/jam.
Keluar dari area lintasan, pembalap Ice Gun J.J itu tampak berjalan gagah menaiki podium pertama untuk menerima penghargaan yang diberikan langsung dari sang kepala negara. Tangannya terulur diikuti tubuh sedikit membungkuk saat menerima hadiah berupa piala.
Jeaven memang tak terlihat begitu ekspresif di depan banyak mata meski ia adalah sang juara. Bahkan senyumannya tak selebar senyuman kedua peserta balap yang hanya mendapat posisi dua dan tiga. Tetapi binar kebanggaan masih tampak mengulas di wajah tampannya.
"Hei, Jeav. Kau mau ke mana lagi?" Brent terus mengekori langkah Jeaven yang tampak tak mengindahinya.
Setelah menghadiri sesi konferensi pers seusai balapan Jeaven meninggalkan area tanpa berniat kembali ke basecamp tim terlebih dahulu. Dari gelagatnya pria itu terlihat tergesa-gesa seolah sedang mengejar waktu.
"Jeav!" Karena belum juga ditanggapi, Brent memanggil kembali dengan suara naik beberapa anak nada. Dia sedikit menambah kecepatan langkah kaki dan menghadang tepat di depan tubuh besar Jeaven.
"Ada apa?" Akhirnya Jeaven bersuara setelah gerak kakinya terjeda. Cara bicara terdengar tenang seolah Brent yang tersengal-sengal karena ulahnya itu tak mampu menggugah rasa iba.
"Kau mau ke mana? Nanti malam kita harus menghadiri jamuan makan malam bersama presedir perusahaan yang mensponsorimu. Jangan kelayapan lagi. Aku bisa pusing karena mencemaskanmu." Brent kembali mengingatkan dengan omelannya yang khas.
"Iya aku tahu."
"Terus kau mau ke mana?" Dua hari terakhir Brent benar-benar harus mengelus dadanya berkali-kali. Jeaven selalu saja pergi tanpa pamitan padahal banyak serangkaian kegiatan yang harus dilakoninya selama musim balap MotoGP berlangsung.
"Aku ingin menemui seseorang."
__ADS_1
"Siapa?" Brent terus mengintorgasi.
"Kau tidak perlu tahu."
"Tapi aku harus tahu karena kau sepenuhnya menjadi tanggung jawabku selama musim balap ini."
Beberapa detik Jeaven membuat Brent memasang muka bertanya-tanya karena tatapannya yang sukar terbaca. Namun, ekpresi manajer tim itu seketika berubah saat Jeaven kembali bersuara.
"Kau akan sangat berdosa jika menghalangiku untuk bertemu wanitaku dan anakku."
"Wanitamu? Anak? Kau--"
"Untuk jamuan makan malam itu kau tenang saja. Aku akan datang," ucap Jeaven lalu berlalu meninggalkan Brent yang terdiam dengan tampang tak percayanya.
…
Di sebuah kitchen hotel beberapa pasang mata staf dapur tengah memandang penuh damba punggung lebar yang sedang sibuk berjibaku dengan alat dan bahan-bahan dapur. Staf dapur yang mayoritas wanita itu berkali-kali berdecak kagum di dalam hati.
"Terima kasih sudah mengijinkanku memakai dapur hotel. Ini untuk kalian." Dia yang tak lain adalah Jeaven meletakkan beberapa lembar uang di atas meja yang terletak tepat di depan para staf dapur.
Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, Jeaven memang suka melenggang pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan lawan bicara. Sebelum keluar dari kitchen hotel ia tidak lupa menenteng makanan hasil olahan tangannya.
Jee Boutique adalah tempat tujuannya setelah ini. Bayangan Jesslyn sungguh menciptakan keresahan hati. Iya, resah kalau rindu tidak segera diobati. Meski, sang pujaan hati masih setia menekuk muka jika bertemu dengannya sampai saat ini. Namun, pria itu berusaha berlapang dada untuk memaklumi. Bagaimanapun juga dialah yang memulai menyakiti.
Dari pintu masuk utama Monica keluar menghampiri Jeaven yang sudah berdiri di dekat bangunan butik. "Sudah dari tadi datangnya?" Ia berucap sembari mengamati bagian wajah Jeaven yang tidak tertutup masker. Terlihat dahi dan pelipisnya basah oleh keringat.
Monica sangat tahu betapa ayah dari anak yang dikandung Jesslyn itu sudah sangat bekerja keras. Kemarin usai mengikuti sesi latihan bebas di sirkuit, Jeaven langsung menyempatkan diri memasak makanan apa yang Jesslyn inginkan. Dan sekarang pun pria itu juga melakukan hal yang sama setelah keluar dari lintasan balap.
"Baru saja." Jeaven menjawab seraya menyodorkan kantong makanan dari tangannya dan langsung di sambut Monica.
__ADS_1
"Kali ini aku akan bilang kalau makanan ini darimu."
"Dia tidak akan memakannya jika tahu itu dariku."
"Ya sudahlah, terserah kau saja. Kau tidak masuk juga?" Tawar Monica yang sangat tahu kalau Jeaven ingin bertemu dengan Jesslyn.
"Dia sedang apa?"
"Dia berada di atas, ketiduran. Sepertinya dia sangat kelelahan karena harus menyiapkan acara fashion show yang akan di selenggarakan 3 hari lagi." Monica menjeda kalimatnya untuk menghela napas panjang. "Jangan kau kira dia wanita kuat. Selama beberapa hari tinggal bersama aku diam-diam melihatnya menangis setiap malam. Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?"
"Kau masuklah duluan. Suruh dia makan dulu," titah Jeaven.
"Lalu kau?"
"Aku harus menelepon seseorang dulu."
"Baiklah."
Bersamaan tubuh Monica yang kembali masuk ke butik Jeaven langsung merogoh ponselnya lalu melakukan panggilan suara.
"Iya, Sayang. Ada apa kau menelepon Tante? Ngomong-ngomong selamat ya atas kemenanganmu. Tante tadi menonton siaran langsung balapanmu di tivi." Suara Antusias Allesya langsung terdengar setelah panggilan tersambung.
"Terima kasih, Tante." Jeaven meraup lebih banyak kemantapan diri sebelum melanjutkan percakapan. "Tante."
"Iya, Sayang. Ada apa?" Suara lembut Allesya terdengar menyejukkan hati.
"Jesslyn ada di sini."
"Benarkah?!"
__ADS_1
Bersambung~~