
Gelak tawa puas menguar dari bibir Selena. Bahkan nyalinya tak menciut karena hunusan tatapan tajam Monica. Ia juga tak terpengaruh oleh raut muka Bryan yang jelas-jelas terlihat kecewa. Wanita itu malah memasang wajah pongah seolah sebuah kemenangan telah digenggamnya.
Jangan senang dulu, Selena! Masih ada penulis skenario cerita yang lebih berkuasa. Jangan bertanya dan berlagak buta. Barang tentu kau sudah tahu siapa dia. Author Nofi tentunya. Haha!
"Kau puas sekarang?!" Monica menyerukan kekesalannya kepada Selena. Ia lanjut menyeret pandangan ke Bryan dan lanjut berkata. "Ini semua juga gara-gara kau. Andai dulu kau tidak menyusup ke dalam persahabatan kami tentu kejadian malam itu tidak akan terjadi. Mulai dari detik ini jangan lagi kau menunjukkan mukamu di depanku." Dirasa tidak ada yang ingin dibicarakan lagi ia memutar tungkai untuk berlalu.
"Jangan pergi, kita harus berbicara." Bryan menarik tangan Monica untuk mencegahnya pergi. Rasanya tidak rela jika wanita itu berlalu meninggalkan situasi seperti saat ini.
"Lepaskan!" Monica yang berusaha lepas tapi Bryan justru kian mengeratkan cekalan tangannya. Pria itu memang sudah mantap dengan perasaannya, sehingga kali ini ia tidak akan melepaskan si wanita.
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan membawa kebencian terhadapku." Sikap Bryan memang terkesan memaksa, tapi itu memang harus dilakukannya. Terus terang sejak menyadari tentang kebenaran perasaannya, ia mulai merasakan takut kehilangan akan Monica.
"Biarkan dia pergi, Bryan. Kenapa kau tidak menghargai keberadaanku?!" Kepongahan Selena beralih ke perasaan panas karena cemburu menjalar ke rongga dada. Di depan matanya Bryan tak segan berlaku posesif terhadap Monica. Barang tentu itu kembali memancing amarahnya.
Akan tetapi Bryan tidak peduli dengan Selena. Memang dari awal keberadaan wanita itu tidak pernah menjadi bagian dari perhatiannya. Setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar pesanan makanan yang belum sempat tersaji ia berniat pergi sembari menyeret Monica.
"Bryan! Jika kau tetap pergi bersama dia aku akan kembali bertindak nekat!" Ancaman Selena belum berhasil membuat langkah Bryan berhenti. Perasaannya kian kalut karena takut jika pria yang dicintainya itu benar-benar pergi. Hingga tanpa berpikir jauh lidah melontarkan sebuah kalimat yang justru membawanya dalam kebodohan hakiki.
"Apa kau lupa? Menyingkirkan calon anakmu saja begitu mudah bagiku apalagi melakukan hal yang lebih dari itu." Selena mengancam, tak peduli terhadap para mata pengunjung restauran yang tengah menyoroti. Tanpa disadari ia telah menjual harga dirinya dengan kebodohan yang dimiliki.
Sementara Monica seketika mengernyit dahi. Kepalanya sudah dipenuhi serangkai pertanyaan yang menari-nari. Dilempar tatapan menuntut akan jawaban kepada Bryan yang masih berdiam diri.
"Dia berkata apa, Bryan? Aku tidak mengerti. Katanya dia telah menyingkirkan calon anakmu? Anakmu dengan siapa? Apakah yang dimaksud janin yang pernah aku kandung dulu?" Monica langsung memberondongi Bryan dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Selena langsung menyela Bryan yang hampir saja membuka bibir untuk bersuara. "Apa kau bodoh?! Tentu saja itu janinmu dari hasil perbuatan murahanmu yang sudah menggoda Bryanku dulu." Selena mengambil dua langkah untuk mendekat lalu menyeringai tajam. "Janin itu adalah pengganggu di dalam perjodohan kami jadi tidak seharusnya ada. Sebaiknya kau pikirkan lagi ya jika tetap ingin berada di sekitar calon suamiku karena aku tak segan-segan bertindak nekat sampai kau dan sahabatmu itu jera."
"Jadi kau? Bukan Bryan?" Pertanyaan Monica direspon Selena dengan seringaian enteng seolah tak merasa berdosa akan perbuatannya. "Bahkan binatang pun tak lebih pantas jika disamakan denganmu," cercanya yang langsung bisa membaca jawaban dari reaksi Selena.
Perasaan nanar menggiring titik-titik embun pada sepasang mata almond Monica. Berarti selama ini ia sudah salah paham begitu lama. Kebencian yang ia tanam terhadap Bryan tak seharusnya ada. Tetapi hatinya justru merasa kecewa. Kecewa karena si pria tidak ada usaha meluruskan pemahaman keliru yang dia punya.
__ADS_1
"Apa sih susahnya bercerita? Kenapa kau malah diam saja kalau sudah tahu aku telah salah mengira kepadamu?" Monica mengajukan protes diikuti tangan mendorong dada Bryan.
"Dulu kau pernah bilang tidak akan menerima semua penjelasanku saat aku mengajakmu berbicara. Lagian aku juga bersalah karena tidak bisa melindungimu waktu itu," terang Bryan penuh sesal.
"Kau sangat bodoh, Bryan!"
"Jangan kejar dia. Kau harus tetap bersamaku." Selena memeluk tubuh Bryan agar tidak mengejar Monica yang meninggalkan tempat.
Ditepis lilitan tangan Selena, Bryan sudah muak dengan sikap wanita yang tidak tahu malu itu. "Aku akan terus mengejar Monica sampai berhasil membawanya di atas altar pernikahan. Dan untukmu, bersiaplah untuk menuai hukuman karena aku kali ini tidak akan tinggal diam."
"Bryan! Arrgh ...! Sial!" Umpatan demi umpatan diluapkan Selena . Bryan akhirnya tetap memilih mengejar Monica. Ia berteriak seperti orang gila. Hingga ia harus menanggung malu karena seorang manajer restauran datang menegurnya.
"Maaf, Nona. Tolong jangan membuat keributan di restauran kami karena bisa mengganggu kenyamanan para pelanggan lainnya."
"Awas ya!" Selena masih sempat melontarkan kalimat ancaman kepada sang manajer restauran sebelum berlalu melewati sorotan mencibir para tamu.
…
"Kyaak! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Jesslyn terkejut luar biasa. Kakinya yang semula menapak tanah tiba-tiba melayang ke udara karena Jeaven membopongnya tanpa aba-aba.
"Jangan berlari. Kau sedang hamil. Itu bisa berbahaya."
"Apa pedulimu? Turunkan aku." Ia meronta tapi Jeaven tak menghiraukannya. Pria itu malah berjalan membawanya menyusuri trotoar jalan raya.
"Jangan banyak bergerak. Nanti jatuh."
"Iya ... iya. Baiklah. Bisa 'kan sekarang turunkan aku!"
Jeaven tersenyum tipis, tapi cukup menciptakan ekspresi teduh di wajahnya. "Bisakah kau tidak memintaku untuk menurunkanmu?"
__ADS_1
Jesslyn membawa netra menyisiri kawasan di sekitar. Tiba-tiba ia menenggelamkan wajahnya di dada Jeaven karena sedang menjadi pusat perhatian para pengguna jalan yang berlalu lalang.
"Aku malu, Jeav. Turunkan aku," pinta Jesslyn dan kali ini terdengar menyerupai cicitan anak tikus. Tetapi lagi-lagi Jeaven urung menuruti.
"Kau ingin ke mana? Biar aku antar."
"Aku tidak tahu. Yang jelas aku belum ingin pulang. Aku masih kesal dan kecewa sama Monica. Selama ini aku tidak benar-benar dianggap sahabat olehnya." Jesslyn ngedumel menyampaikan unek-uneknya. Ia marah dan kecewa. Tetapi juga merasakan duka karena hal buruk yang sudah menimpa Monica.
"Katakan saja kau ingin ke mana?"
"Kenapa kau tidak peka sih? Aku lagi kesal tapi masih saja bertanya."
"Kau tinggal bilang saja."
"Terserah!"
"Kau bisa membunuhku dengan satu kata itu." Jeaven sangat tahu, 'terserah' adalah sebuah kata keramat yang terdengar angker bagi para pria.
Ia bahkan sering melihat sang daddy menggila saat sang mommy merajuk dan kembali melontarkan kata keramat itu di penghujung kalimatnya. Jeffrey selalu kelimpungan membedah makna kata paling krusial di dunia wanita. Bagi para pria kata 'terserah' dari kaum hawa itu berarti banyak tak terhingga. Jika salah mentafsirkan bisa berakhir bencana.
Benar tidak ibuk-ibuk? Eaaak!
"Kau memang sangat payah. Sangat tidak peka," cebik Jesslyn.
Jeaven belum kembali bersuara. Ia masih lanjut berjalan sembari menggendong si wanita. Namun, pikiran tengah berputar mencari cara agar sosok mungil yang masih di dalam gendongannya itu bahagia.
"Apa alasannya kau tidak jadi menikah dengan Verlin?"
Pertanyaan tiba-tiba Jesslyn sontak menarik Jeaven dari lamunan. Air sendu pun tampak mengulas wajahnya yang rupawan. Dipandangi mutiara bening yang kini tengah menuntut jawaban dengan tatapan.
__ADS_1
"Verlin sudah meninggal."
Bersambung~~