
Keluarga Allison tengah berselimut awan duka. Kepergian Jennis sungguh meninggalkan luka. Banyak hati yang bertarung batin saat melerakannya. Terutama bagi orang terdekatnya. Tiada lagi gema canda dan tawa yang memecahkan suasana. Senyum hangat dan binar cerah mukanya pun kini tinggal kenangan pelengkap cerita. Cerita hidup bagi mereka yang berlumur air mata.
Kematian adalah ujung dari perjuangan, akhir dari kemenangan, pintu dari kehidupan. Setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kita semua tinggal menunggu giliran. Entah itu kapan hanya Sang Pemilik Kehidupan yang menetapkan. Maka dari itu ayo persiapkan bekal diri mulai sekarang, kawan.
Hari ini dunia adalah nyata, akhirat hanya cerita. Tapi setelah mati, dunia hanya cerita, akhirat jadi nyata. Hidup itu tidak berurusan dengan bernapas semata, jadi taburlah benih kebaikan di setiap langkah kita.
Satu persatu orang yang berziarah meninggalkan pemakaman. Namun, para sahabat Jeffrey yaitu Sean, Sammy, Alvin, dan juga para istri mereka terlihat masih setia berada di sana. Sebagai sahabat mereka tentu merasakan hal yang sama.
"Kehilangan seseorang untuk selamanya bukanlah suatu hal yang mudah. Rasanya sungguh berat. Tapi, tak ada jalan yang lebih baik selain mengikhlaskannya...." Sean berusaha memberi kekuatan pada Jeffrey melalui tepukan ringan di pundak. Sekeras apapun ia mencoba stay cool, tapi tetap ikut bersedih juga.
"Bersabarlah, Jeff. Satu bab duka tidak berarti itu adalah akhir dari sebuah buku." Alvin juga turut menguatkan, meski hidungnya sudah kembang kempis karena menangis.
"Jeff, biarkan aku membantu merangkul dukamu agar kau tidak terlalu lama hanyut dalam kesedihan." Sammy tampak sesenggukan. Sesekali ia mengusap ingus yang beberapa kali usil bergelantungan di lubang hidungnya.
"Terima kasih," jawab Jeffrey seperlunya karena masih tenggelam dalam kesedihan seraya merangkul pundak istrinya yang masih berguncang.
Di atas pusara sang putra yang masih basah, Jenny menabur bunga diiringi tangisan pecah. "Semua rasa sakit yang kamu alami selama ini sudah berakhir, Tuhan lebih menyayangimu daripada kita semua di sini. Selamat jalan putraku, semoga kamu sudah tenang di surga sana." Jenny masih setia menumpahkan duka laranya.
Jenny sudah bekerja keras untuk tabah, tapi hal itu sangatlah tidak mudah. Hingga topangan kaki mulai melemah, ketegaran hati pun kian terasa payah. Ia akhirnya pingsan karena terlalu lelah.
"Sayang?!" Jeffrey dengan sigap menangkap tubuh istrinya. Dengan hati yang sama-sama berkabut duka karena rasa kehilangan yang mendalam ia membawa Jenny keluar dari kawasan makam. Dan para sababat beserta istri mereka juga akhirnya memilih beranjak dari pemakaman.
Di sana, tinggal Jeaven yang masih ditemani Monica. Sama halnya dengan kedua orang tuanya, pria berparas dingin itu juga berselimut duka. Raut mendung begitu terpahat jelas di wajahnya. Ia belum siap berpisah dengan adik kesayangannya. Rasanya ia tidak rela.
Namun, dia juga tak berdaya melawan takdir. Akhirnya ia memilih menguatkan diri dengan menerima realitas karena dia tahu bahwa realitas akan menyakitinya jika dilawan.
__ADS_1
"Aku turut berduka, Jeav. Sabar, ya." Monica menuturkan rasa simpatinya sebelum berniat meninggalkan makam. Akan tetapi suara Jeaven mengurungkan langkah kakinya.
"Tolong beri tahu aku di mana Jesslyn sekarang." Jeaven masih sempat menanyakan keberadaan Jesslyn meski hatinya sedang berkabung. Jujur, ia sangat menyayangkan karena wanita itu tidak turut mengantar kepergian Jennis.
"Aku tidak tahu. Sekalipun tahu aku tidak akan menginformasikannya kepadamu. Kau harus berjuang sendiri untuk menebus kesalahanmu." Apapun alasannya, Monica juga masih sangat kecewa dengan Jeaven.
Jeaven berujung pasrah melihat kepergian Monica. Digiring netra merahnya ke arah batu nisan Jennis lalu bersendu kata. "Aku berjanji akan mewujudkan mimpimu. Tidak hanya demi kamu tetapi juga demi diriku sendiri." Pria itu akhirnya pun beranjak dari posisi berjongkoknya dan berlalu. Hingga kawasan makam menjadi sepi tidak ada satu manusia pun yang terlihat.
Tidak lama suara ketukan langkah kaki terdengar menghampiri pusara Jennis. Setangkup bunga gladiol ditaruh perlahan di atasnya seiring dengan air mata yang berguguran.
"Jennis, maafkan aku yang tidak ada saat menjelang napas terakhirmu. Aku memang jahat." Dia adalah Jesslyn. Yang kini tengah tergugu menahan perih di rongga dada.
"Sungguh aku sangat kehilanganmu, terima kasih kau selalu ada di saat aku bersedih dan terluka. Aku akan sangat merindukan canda tawa dan tingkahmu yang usil itu. Rasanya lidahku terasa berat untuk berkata selamat jalan. Maafkan aku Jennis. Aku memang jahat." Suara tangisan Jesslyn kian tedengar menyayat hati. Dia saat ini tidak hanya sekedar bermendung hati, tapi juga berselimut sesal yang tentu akan terpatri.
Jesslyn mencium sendu nama Jennis yang terpahat di batu nisan sebelum memilih beranjak dari posisi jongkok. Diseka titik-titik air kesedihan yang membingkai mata lalu mengalihkan perhatian ke Bryan.
"Kita langsung ke bandara saja," ucap Jesslyn kepada Bryan.
"Kau yakin tidak ingin menemui keluargamu dulu?" Bryan melisankan tanya. Kali saja Wanita cantik di depannya itu berubah pikiran.
"Tidak untuk saat ini. Kita langsung kembali ke Swiss."
"Baiklah. Mari." Bryan merentangkan sebelah tangan di belakang punggung Jesslyn, menuntun dan memberi jalan kepada wanita itu.
Namun, langkah Jesslyn tiba-tiba tersendat seiring dengan rasa bergejolak di dalam perutnya. "Hmmp!" Tangannya reflek menutup mulut untuk menghalau desakan isi perut yang siap dimuntahkan. Tubuhnya mendadak lemas berdampingan dengan denyutan pusing yang menyerang kepala.
__ADS_1
"Jess, kau sakit?" Tanya Bryan karena cemas. Dilingkarkan tangannya di pundak Jesslyn agar tidak terjatuh.
"Hmmp! Ah! Aku tiba-tiba merasa mual," keluh si wanita kian kehabisan daya untuk bertopang kaki.
"Jess!"
Sementara di sudut kota lainnya, Jeaven langsung membanting setir mobilnya di pesisir jalan. Rasa tidak nyaman di tubuhnya tiba-tiba mengusik pikiran.
Dadanya berdebar seolah menyampaikan sebuah firasat. "Jesslyn, apa kau baik-baik saja?" Lirihnya saat bayangan si wanita kembali bersliweran di otaknya.
Jeaven menjatuhkan kepalanya di atas kemudi sembari menahan rasa pusing yang tiba-tiba bersambang. "Jess, kau di mana. Aku merindukanmu."
Bersambung~~
Maaf bab ini agak pendek ya. Mau siap-siap keluar RS nih. Yey! berkat doa kalian juga Nofi bisa pulang sekarang🥰
Oya Nofi sekalian mau promo nih. Ini adalah karya Chat Story kolaborasi yang diperankan langsung oleh lima sahabat Author di Noveltoon.
Mereka adalah Nofi sendiri, lalu ada Najwa Aini, Ayu Widia, Penulis Jelata, dan Ria Diana Santi. Yuk mampir baca, dijamin kalian bakal kram perut dan gigi kering kerontang karena ketawa.
Terima kasih ya masih setia mengawal kisah Jeav dan Jess. Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian berupa like, komen, vote, gift.
Lop you🥰😘
__ADS_1