Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Hampir Saja


__ADS_3

Sepasang kaki berbalut sepatu sneakers sudah berpijak di depan pintu sebuah apartemen. Tangan bergerak mantap menekan bel pintu dengan buncahan rasa menggebu.


Tidak lama daun pintu terbuka dan bertepatan dengan itu Monica muncul dari sana. Wanita itu sedikit terkejut dengan raut wajah penuh tanya. "Dari mana kau tahu tempat ini? Aku bahkan tidak memberi tahumu sebelumnya."


"Aku ingin bertemu dengannya." Jeaven bukannya menjawab pertanyaan dari Monica malah mengutarakan keinginannya tanpa basa-basi.


Beberapa saat yang lalu, pria dingin berparas tampan itu menerima laporan dari orang suruhannya perihal alamat tempat tinggal Jesslyn. Hingga di sinilah dia berpijak sekarang.


"Dia sudah tidur. Lagian ini sudah larut malam. Apa kau tidak mengerti waktu?" Monica masih enggan mempersilahkan Jeaven masuk.


"Biarkan aku melihatnya."


"Untuk apa melihatnya? Dia baru saja pulang dari rumah sakit, jadi jangan ganggu dia yang sedang beristirahat."


Lidah tak langsung melepas kata, Jeaven justru melayangkan tatapan datar tapi mampu mengintimidasi Monica. Hingga si wanita itu berujung pada helaan napas dari bibirnya.


"Aku tahu kau memiliki perasaan kepada Jesslyn, meski sepengetahuanku itu belum lama. Aku juga tahu, kau ingin menebus semua kesalahanmu, tapi jangan berlagak amnesia tentang statusmu yang notabene seorang suami dari Verlin." Wanita berwajah imut itu mengingatkan. Kali saja lawan bicaranya itu lupa bahwa ruang geraknya untuk mendekati Jesslyn tersekat oleh ikatan pernikahan.


Jeaven tiba-tiba mengangkat kesepuluh jari besarnya sampai sebatas dada. Guratan serius pun mengiringi lidah untuk lanjut berkata. "Aku yakin ini bisa meruntuhkan persepsimu terhadapku."


Sikap ambigu Jeaven beruntung tak menyulitkan otak cerdas Monica untuk menyimpulkan apa yang ada di depan matanya itu. Hingga kelegaan mengintruksi tubuhnya untuk sedikit bergeser dari ambang pintu. Memberi akses masuk untuk sang tamu.


"Kau sungguh luar biasa. sifatmu yang super tertutup membuatku ingin menendang pantatmu hingga ke dasar laut. Aku ini sebenarnya di anggap apa?" Monica mendadak kesal. Mulut terus menggerutu seraya menutup kembali pintu. "Bukankah aku ini temanmu juga? Kau--"

__ADS_1


Omelan Monica seketika terhenti saat mata tak menangkap lagi sosok Jeaven di sekitarnya. Wanita itu lantas berjalan menuju ke kamar Jesslyn dan ternyata tubuh gagah pria itu sudah berada di sana.


"Ck! Dia bahkan bisa langsung mencium keberadaan Jesslyn tanpa aku beri tahu terlebih dahulu," lirihnya tak percaya lalu memberi ruang dan waktu untuk Jeaven agar bisa bersama Jesslyn.


Di kamar Jeaven mengamati Jesslyn yang tampak terbuai dalam mimpi. Sebelah tangannya menjulur ke arah wajah si wanita dengan hati-hati, menyibak anak rambut yang menutupi. Hingga ruang pandang kian leluasa menikmati pahantan cantik alami.


Tiba-tiba sebuah hasrat kembali merayu hati. Bibir ranum yang tersaji di depan sungguh menggoda untuk dicicipi. Jeaven yang memang sudah meruntuhkan tembok pertahanan diri terhadap Jesslyn lebih memilih mengikuti dorongan keinginannya saat ini.


Dicium bibir Jesslyn dengan sekilas. Mungkin hanya berupa gerakan menempel yang rasanya pun tak membekas. Ia lanjut membawa wajah turun hingga ke perut si wanita dan kembali melabuhkan ciuman gemas.


Seakan janin di dalam perut Jesslyn memberi sinyal melalui kalbu jiwa, dada Jeaven kembali bergetar luar biasa. Sentuhan asing di hati seolah memberi sensasi bahagia. Pria itu bahkan tanpa sadar mencetak senyuman yang begitu kentara.


"Ibumu sedang sangat membenciku sekarang. Jika besok pagi ibumu terus menyangkal bahwa kau adalah anakku, tolong bantu ayahmu ini ya." Ia berbisik hampir tak bersuara, mengajak si janin berinteraksi.


Awalnya Jeaven mengira bahwa Jesslyn terusik karena sentuhannya. Namun, bulir bening yang tiba-tiba menyembul dari ujung mata si wanita menepis asumsinya.


"Apa di dalam mimpimu aku juga membuatmu menangis? Aku memang benar-benar buruk." Pria itu berlirih sendu di dalam hati. Lidah kembali merutuki diri, karena rasa sesal yang kian menggerogoti.


Karena dorongon naluri Jeaven membawa badannya melewati bibir ranjang hingga kaki tak lagi menyentuh lantai. Pelan sekali, ia ikut beringsut ke dalam selimut lalu menarik Jesslyn ke dalam dekapannya.


"Dasar kebiasaan. Kalau sudah tidur seperti orang pingsan." Ia mengusap hangat punggung Jesslyn.


Rupanya tindakan lembut Jeaven membuat Jesslyn kembali mendapati tidurnya yang damai. Sentuhan hangat pria itu sungguh membuai.

__ADS_1


Bahkan wanita itu bergerak sendiri agar lebih menempel di tubuh Jeaven yang gagah paripurna. Sampai pria itu harus menahan napas kala tangan kecil Jesslyn menyusup masuk ke dalam baju dan berhenti di dadanya.


Sepertinya malam ini Jeaven memang sedang diuji. Di bawah sana kaki Jesslyn bergerak nakal, menggesek sesuatu yang perlahan mulai menggeliat. Di detik-detik awal, pria itu terlena dalam nikmat. Ingin sekali ia menerkam tubuh wanita itu di saat itu juga.


Sinyal ransangan yang diterima dengan cepat menjalar hingga ke puncak kepala. Otak seketika memutar ulang akan kenangannya bersama Jesslyn saat bercinta. Meski berawal dari kesalahan, tapi tetap saja rasa nikmat itu ada. Dan dia tidak akan pernah melupakan pengalaman pertamanya itu untuk selamanya.


Gebuan hasrat mulai bersorak merdu. Gairah libido kian bertalu. Jeaven terbuai oleh bisikan godaan yang gencar merayu.


Tangan yang semula memberi usapan di punggung Jesslyn bergerak turun masuk ke dalam celana piyama hingga bertemu dengan gundukan kenyal. Belum puas, jemarin terus merayap lebih dalam hingga bertemu sapa dengan bulu-bulu tipis nan halus.


Namun, Jeaven kembali menarik tangannya seiring dengan kewarasan yang mengetuk akal sehat. Ia pun menelan kembali hasrat gilanya yang sempat tak terkendali seraya mengutuk diri.


Sial! Hampir saja!


Jeaven langsung merengkuh erat tubuh Jesslyn yang masih terlelap karena sesal di dada. Kuasa nafsu hampir saja mengajaknya bertidak sesuatu yang tentunya akan kembali menyakiti hati si wanita.


Kata maaf dari Jeaslyn saja belum ia dapatkan, malah mau berulah lagi.


Dasar Jeaven!


Maaf, aku kembali bertindak gila.


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2