Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Akhirnya ....


__ADS_3

Lemah langkah kaki bak pundak memikul segunung beban. Rendah pandangan mata menyiratkan akan hantaman sejuta pikiran. Di sisipan ayunan tungkai Jesslyn tampak tenggelam dalam lamunan. Saat ini hatinya tengah kesulitan menetapkan perasaan.


Ingatan akan semua kalimat Allesya terus saja berkelebatan. Seakan mendesaknya untuk segera mendudukkan jawaban. Hah! Situasi dilema seperti ini memang tidak mengenakan, di mana ia harus memilih berpihak pada suara hati atau ego pikiran.


Jesslyn terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa mempedulikan keberadaan Jeaven yang sedari tadi menemaninya. Selepas keluar dari kamar perawatan tadi pria itu memang sengaja mengikutinya.


Hingga jalannya perlahan melambat dengan raut wajah seperti menahan rasa nyeri. Rupanya ia sedang mengalami kram pada kaki. Tangan meraba dinding di sebelahnya agar tubuh tetap bisa berdiri. Dan gelagatnya itu langsung disadari Jeaven yang sedari tadi menemani.


"Kenapa?" tanya Jeaven yang terlihat cemas.


Jesslyn tak langsung bersuara. Ia memilih diam sembari mencoba menguasai serangan nyeri di kakinya, berharap rasa tidak nyaman itu hilang dengan segera. Namun, usahanya seperti berujung sia-sia.


"Jess." Suara Jeaven kali ini berhadiah perhatian Jesslyn. Wanita itu melihat ke arahnya dengan tatapan sarat akan sebuah makna.


"Kakiku kram," jawab Jesslyn pada akhirnya. Semejak hamil ia memang sering mengalami kram di bagian perut, punggung, dan kakinya secara bergantian.


"Masih bisa jalan?"


Jesslyn menggeleng. "Rasanya sakit sekali."


"Aku gendong ya?" Jeaven dengan pose tubuh sedikit membungkuk, bersiap menggendong Jesslyn jikalau tawarannya diterima. Dan ternyata wanita itu mengangguk pelan seraya tangan dibawa menggelayut di lehernya.


Jeaven langsung mengangkat tubuh mungil Jesslyn ke dalam gendongan, lanjut berjalan dan berhenti di sebuah taman. Ia menurunkan si wanita pada bangku kosong yang terletak di pojokan.


Tampak di sekeliling bunga-bunga sedang bermekaran. Kupu-kupu pun tampak berterbangan. Suasana yang kebetulan sepi terkesan romantis kala Jeaven bersimpuh gagah dengan wajahnya yang tampan.


"Bilang kalau kurang nyaman." Jeaven mulai memijat kaki Jesslyn dengan telaten.


"Akh!" Jesslyn memekik kecil.


"Sakit?"


"Iya."


"Maaf."


"Pelan-pelan saja."


"Seperti ini?" Jeaven tampak mengurangi tenaga pijitannya.

__ADS_1


"Iya."


Sesaat sepasang anak manusia itu tak kembali berkata. Jeaven tampak fokus memijat tanpa disadari pandangan Jesslyn sedang terpaut pada wajah rupawannya.


Masih sama. Dia sangat tampan. Pembawaan dirinya juga masih kaku seperti dulu. Tetapi ... aku merasa sikapnya lebih hangat sekarang. Pasti itu karena aku sedang mengandung anaknya.


Jesslyn menjeda monolognya di dalam hati saat teringat akan sesuatu yang sempat terlupakan. Jeaven yang selalu ada saat ia diganggu atau dalam bahaya.


Jeaven yang selalu membawanya pulang saat mabuk. Jeaven yang selalu menutupi tubuhnya saat berpenampilan seksi. Jeaven yang memenjarakan artis Angelina Rowler karena sudah mengusiknya. Jeaven sukses menggagalkan niat bejat Rocky yang hendak memperkosanya, meskipun malam panas malah terjadi di antara mereka.


Sebenarnya sedari kecil Jeaven selalu menjadi pelindungku, tapi sifat dinginnya itu selalu menyakitiku. Oh hati, haruskah aku mempercayainya? Aku sedang dilema sekarang.


"Bagaimana sekarang? Masih sakit?" Jeaven menengadahkan muka hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Jesslyn yang tak kunjung beralih.


Tidak ada rasa canggung pada diri Jesslyn meski gelagatnya kepergok si pria. Wanita cantik itu malah kian mempadalam tatapannya dengan bibir siap berkata.


"Jika kita menikah, tapi kebencianku terhadapmu masih ada, bagaimana?" Jesslyn seolah mengingatkan akan keputusan Jeaven yang mengajaknga menikah.


"Kau tetap istriku."


"Meskipun aku berniat balas dendam akan rasa sakit hatiku?"


"Iya."


"Karena aku sangat mengenalimu."


"Ow jadi bukan karena cinta?" Sungut Jesslyn karena tidak puas dengan jawaban Jeaven.


"Aku sudah pernah bilang cinta, tapi kau tidak percaya."


"Hish! Kau sangat menyebalkan!" Tangan yang sudah bersiap melayangkan pukulan malah berakhir pada genggaman Jeaven. Pipi Jesslyn merona seketika saat pria itu mencium lembut buku-buku jarinya.


"Menikahlah denganku, barulah menilai tentang perasanku."



Gundukan selimut membungkus dua raga yang sedang terlena di sumudera mimpi. Mereka terlihat damai dalam kenyamanan yang menaungi. Rengkuhan kian mengerat berbagi kehangatan di pagi hari.


Gulungan selimut mulai bergelombang seiring dengan tubuh beringsut masuk ke dalam pelukan. Di bawah alam sadarnya, Jesslyn begitu menikmati dada bidang yang saat ini menjadi tempat meletakkan pipi. Kendati kelopak mata masih terpejam, tapi tubuhnya bereaksi.

__ADS_1


Pergerakan-pergerakan manja Jesslyn rupanya menarik Jeaven dari dengkuran. Pria itu membuka mata dan langsung disambut suasana hangat yang menyenangkan. Makhluk mungil yang saat ini sedang tenggelam di dalam ketiaknya sungguh terlihat menggemaskan.


Perlahan ditarik dagu tirus sang kesayangan hingga mendongak ke arahnya. Tiada sungkan ia mencium kening kecil si wanita dengan penuh perasaan cinta. Hasrat belum terpuaskan ia lanjut mencium bibir ranum yang terlihat sedikit terbuka.


Sungguh pagi yang menyenangkan di sepanjang hidupnya. Di sela ciuman Jeaven menyungging senyuman karena Jesslyn membalasnya. Lumattan kian intens diikuti tangan yang mulai meraba-raba.


"Hmm ...." Jesslyn bergumam saat Jeaven membuat gigitan kecil di bibirnya. Bersamaan dengan itu kelopak mata yang semula masih mengatup perlahan terbuka.


Jesslyn tak langsung terkejut saat pandangan kaburnya melihat Jeaven masih gencar menciumnya. Ia masih belum sepenuhnya bisa mencerna situasi karena nyawa belum terkumpul sempurna. Dipikir pemandangan kali ini hanyalah mimpi belaka. Jadi tak ada teriakan histeris yang memekakkan telinga.


Wanita itu malah kembali memejamkan mata dan lanjut mengimbangi ciuman si pria. Hingga remasan nakal di gundukan dada seketika menarik semua kesadarannya.


"Kyaak! Beraninya kau!" Jesslyn beringsut mundur dengan kedua tangan menekan dada Jeaven, disusul melempar mimik ketus seperti biasanya. Ia berusaha membuat jarak lebih jauh, tapi pria itu masih enggan mengurai pelukannya. "Dan ada apa ini? Kenapa kau bisa tidur bersamaku? Kau tidak bertingkah mesum, 'kan?!" sengitnya sedikit sanksi dan juga rada kebingungan.


Jeaven membalas reaski tak bersahabat Jesslyn dengan tatapan mengintimidasi sekaligus memaklumi. Ia tidak marah ataupun sakit hati.


"Tidak ada yang salah jika aku ingin berlaku mesum kepadamu. Kalau mau aku berhak memakanmu sekarang juga."


Jesslyn langsung terlonjak dari posisi berbaring. Tangan reflek menyilang di depan dada. "Jangan gila! Kau tidak berhak. Dan sekarang keluar!"


Jeaven ikut bangkit lalu bersandar pada headboard ranjang. "Jesslyn, aku ini suamimu sekarang." Ia menekankan.


Kepala Jesslyn tiba-tiba serasa digetok palu hingga kembali teringat bahwa statusnya saat ini sudah menjadi istri dari seorang Jeaven. Rasanya seperti mimpi karena pernikahan di antara mereka terjadi begitu saja. Secara mendadak tanpa ada rencana atau bahkan serangkaian acara selayaknya sebuah pernikahan mewah.


Sebuah acara sakral yang hanya disaksikan oleh seorang pendeta dan orang tua. Tidak lupa ada Jaeden, Brayn, dan juga Monica.


Setelah pembicaraan di taman rumah sakit kemarin, Jeaven rupanya bergerak cepat. Keesokan harinya pernikahan pun terlaksana. Allesya yang semula sakit mendadak sembuh. Jeffrey dan Jenny yang baru saja tiba di London harus kembali terbang ke Swiss.


"Nanti malam kau tidur di sofa saja. Aku tidak bisa tidur denganmu." Jesslyn mengalihkan topik pembicaraan. Padahal sebenarnya ia sedang menyembunyikan rasa canggung.


Jeaven membawa kaki menuruni peraduan. Masih berdiri di sebelah ranjang mulutnya mengeluarkan helaan, sebagai bentuk akan ketidak setujuan. "Permintaanmu terlalu berat. Aku tidak bisa."


"Ck! Kau manja sekali rupanya. Kalau begitu aku saja yang tidur di sofa kau tidur di ranjang."


"Akan ku pastikan, besok tidak akan ada sofa lagi di kamar ini." Jeaven agak gedek dengan cara pikir Jesslyn yang keliru tentangnya. Bukan karena keberatan tidur di sofa, tapi karena ia memang ingin tidur bersama istrinya.


"Kok gitu sih?!"


"Agar tidak jadi penghalangku untuk menidurimu."

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2