Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Tak Seharusnya Mencinta


__ADS_3

Sepasang mutiara cantik Jesslyn berbinar saat kaki berpijak pada sebuah tempat yang sebagian besar ruangan menggunakan warna dominan gelap. Di salah satu sisi ruangan terpasang sebuah layar datar dan besar yang memenuhi dinding. Lampu hias juga tampak menyinari arah dinding dan lantai. Dan di tengah ruangan tersedia beberapa sofa bed yang nyaman dan empuk. Tidak lupa juga tersedia mesin minuman di sudut ruangan.


Ia baru tahu kalau di kediaman keluarga Allison memiliki fasilitas mini home theater berdesain mewah seperti ini. Mulai dari dekorasi, layar film, hingga sound system dirancang sedemikian rupa seperti bioskop asli.


"Apa kau suka?" Suara Jennis menyelusup di sela kekaguman Jesslyn.


"Iya. Bahkan ini tidak kalah dengan home theater premium di luar sana," ucap Jesslyn lalu berjalan mendekati sofa bed. Kedua tangannya dibawa membelai badan sofa setelah menjatuhkan tubuhnya di atasnya. "Ini sangat nyaman."


"Aku sudah menduganya kalau kau akan menyukainya."


"Apa kau yang berinisiatif membuat bioskop mini ini di rumah?" Tanya wanita itu dengan bola mata mengikuti pergerakan Jennis yang tampak sibuk menata beberapa camilan di atas meja.


Usai membuat permukaan meja penuh dengan makanan dan minuman ringan, Jennis menjatuhkan tubuhnya di sebelah Jesslyn. "Bukan aku, tapi Jeaven. Lebih tepatnya bioskop ini miliknya."


"Ow ... begitu?" Jesslyn hanya ber O ria. Sedikit terkejut sih, tapi sedikit. Pasalnya, kecewa masih menunjuk tegas ke pria kutub super dingin itu.


Jennis mengambil posisi duduk ternyaman di sebelah Jesslyn. "Kau ingin menonton film apa?"


"Terserah kau saja." Jesslyn malah sudah tampak sibuk mengunyah kripik kentangnya. Padahal film belum juga dimulai.


"Romance atau action?" Jennis memberi pilihan, tapi Jesslyn menggeleng, tanda tidak setuju.


"Ada yang lain?"


"Horor?"


"Aku tidak berani. Terlalu menyeramkan."


"Thriller?"


"Nggak mau. Terlalu menegangkan."

__ADS_1


Jennis mulai merasa gemas bercampur frustrasi. "Wanita memang paling sulit dimengerti jika mereka sudah berkata 'terserah'. Itu adalah fakta bukan fiktif," sindir Jennis disertai dengusan geli.


"Hiish! Beraninya kau meledekku." Jesslyn mendesis kesal seraya mencubit pinggang Jennis, membuat pria itu seketika menggeliat geli seperti ulat daun yang di siram air dingin.


"Ya sudah kau saja yang memutuskan."


"Drama komedi saja. Hari ini aku ingin tertawa sampai menangis." Akhirnya wanita cantik itu menentukan gendre film yang diinginkannya.


Waktu terus merangkak ke depan. Sepanjang durasi film berjalan, gelak tawa Jesslyn dan Jennis terus menggema ke seluruh ruangan.


Suasana tenang bergilir kala film kedua bertema slice of life diputar. Jesslyn sampai menangis sesenggukan hingga kedua pundaknya bergetar.


Jesslyn tidak ingin Jennis sampai tahu, selain karena alur cerita filmnya yang mengandung air mata, wanita itu sebenarnya sekalian meluapkan perasaan hatinya yang terluka. Karena siapa? Siapa lagi kalau bukan Jeaven alasannya.


Namun, selang tidak lama Jennis dibuat terperangah saat isakan tangis Jesslyn tiba-tiba berganti dengkuran lembut. Di dalam rangkulan tangannya, makhluk cantik itu ternyata sudah terlena dalam lelap.


Dipandang hangat wajah ayu si wanita, disertai jemari membelai lembut pipi putihnya yang merona. Jennis mengulas senyuman sarat akan cinta.


"Padahal baru beberapa saat aku mendengar dia menangis tersedu-sedu," lirihnya keheranan.


Pria itu melihat jam tangannya dan helaan berat kembali terdengar. "Rupanya sudah waktunya minum obat," monolognya pada diri sendiri. Jujur ia sudah sangat frustrasi karena hidupnya tidak bisa lepas dengan puluhan butiran pahit yang harus rutin ia telan.


"Jess, bangunlah." Pria berparas teduh itu menepuk pelan pipi Jesslyn tapi tidak ada tanda-tanda pergerakan sedikitpun. Hanya ada dada yang naik turun secara teratur seiring dengan dengkuran lembut.


"Dia pasti sangat kelelahan." Rasa tidak tega menyongsong sebuah inisiatif untuk mengantar pulang wanita itu dengan cara menggendongnya.


"Ah, payah! Aku benar-benar pria berpenyakitan yang nggak berguna." Ia merutuki dirinya sendiri saat kedua tangannya tiba-tiba kesemutan hingga ia tidak ada cukup tenaga untuk menggendong Jesslyn.


"Sedang apa kalian di sini?"


Jennis terhenyak karena suara bariton Jeaven tiba-tiba saja menyentak indera pendengarannya.

__ADS_1


"Jesslyn ketiduran," terang Jennis sedikit berbisik, tidak ingin suaranya mengusik kenyamanan tidur Jesslyn.


"Cepat bangunkan dia. Dan kau sudah waktunya minum obat." Seperti biasa, Jeaven kembali menitah sekaligus mengingatkan.


"Aku tidak tega membangunkannya. Dia sepertinya sangat kelelahan."


"Kalau begitu tinggalkan saja dia di sini."


"Kau tega sekali."


Jeaven mendengus jengah. "Lalu maumu apa?"


"Kau gendong dan bawa dia pulang. Lagian rumahnya ada di sebelah. Tidak jauh," pinta Jennis tak memperdulikan mimik muka Jeaven yang mulai mengeras.


"Tidak. Bangunkan saja dia."


"Dia itu kelelahan karena hatinya terus kau sakiti. Apa kau sedikitpun tidak ada rasa bersalah terhadapnya? Tadi dia menangis waktu menonton film, tapi aku sangat tahu dia menangis karena benar-benar merasa sedih bukan karena film." Rupanya Jennis sangat peka dengan apa yang di rasakan Jesslyn.


Malas berdebat panjang, tanpa banyak berkata Jeaven langsung mengangkat tubuh Jesslyn yang terlihat sama sekali tidak terusik. "Cepat minum obat. Jangan buat mommy dan Daddy kepikiran," tutur tegasnya sebelum memutar tubuh untuk melenggang pergi.


"Kau harus benar-benar mengantarnya. Jangan macam-macam." Jennis masih sempat memberi peringatan keras seraya memandang punggung Jeaven yang kian menjauh.


"Aku tahu," jawab Jeaven sebelum menghilang di balik pintu.


Langkah jenjang Jeaven menyusuri lorong yang membawanya menuju gerbang keluar yang berada di samping bangunan rumah. Ia menggendong Jesslyn dengan gagah. Hingga suara igauan wanita itu pun membuat ia terperangah.


"Aku sangat membencimu. Aku membencimu, Jeav," racau Jesslyn yang sedang bermimpi.


Gejolak rasa yang tiba-tiba merayapi dinding hati, menuntun hasrat untuk kian menenggelamkan tubuh mungil Jessly ke dalam gendongannya.


Kau memang tak seharusnya mencintaiku.

__ADS_1


Bersambung~~


Maaf ya, babnya sedikit pendek. Kepala Nofi lagi cekot-cekot nih. Ni kepala rasanya mau gelundung😵


__ADS_2