Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Jennis Kolaps


__ADS_3

"Dia kenapa?" Pijakan pertama Jeaven di kediaman Willson langsung disambut pertanyaan Jaeden, kakak kembar Jesslyn.


Sebagai seorang kakak, tentu kerutan di dahi langsung tercetak seiring dengan mimik penuh tanya. Melihat si adik tengah berada di dalam gendongan Jeaven dalam keadaan terpejam, tak khayal menarik rasa khawatirnya.


Jeaven harus menelan kembali jawaban yang hampir meluncur dari ujung lidahnya. Ia lantas memutar leher ke arah sumber ketukan langkah kaki yang baru saja tiba. Dari arah pintu masuk Sean dan Allesya tampak mendekat dengan mimik bertanya-tanya.


"Ada apa ini?" Tanya Allesya dengan raut muka sebelas dua belas dengan Jaeden saat ini, begitu juga dengan Sean.


"Dia hanya tidur, Tante." Jawaban Jeaven langsung meruntuhkan garis-garis tanda tanya dan kecemasan di wajah ketiga orang berbeda usia di hadapanya.


"Dasar anak manja. Kalau sudah tidur pasti seperti kerbau hibernasi?" Celetuk Allesya sekena lidahnya.


Sejak kapan kerbau hibernasi? Ah lupakan.


"Kenapa tidak kau bangunkan saja dia?" Sambung wanita cantik yang tak lagi muda itu.


"Gini, Tan. Itu kar--" Lagi-lagi Jeaven tak berkesempatan untuk menjelaskan sampai akhir karena kini berganti Sean yang menyela.


"Bisa sekalian bawa dia ke kamarnya?" Pinta Sean di sela pertanyaannya.


Hebatnya, sinyal kode dari Sean langsung tertangkap cepat oleh antena koneksi Allesya dan Jaeden. Bergantian mereka saling melempar kedipan mata sebagai tanda paham.

__ADS_1


"Tapi, Om." Jeaven hendak menolak tapi entah mengapa di depan keluarga Jesslyn ia seolah tak memiliki daya.


"Tolong ya, Tante dan Om ingin segera beristirahat. Capek, baru pulang dari luar kota." Allesya tampak memijit ringan pundaknya yang memang terasa pegal, kemudian menggamit lengan Sean dan menyeret tubuh gagah itu untuk berlalu.


Perhatian Jeaven kini terpaku pada Jeaden yang masih di sana, tapi ternyata sama saja. Pria yang memiliki paras mirip dengan Jesslyn itu seolah tak memberinya kesempatan untuk berkata.


"Letak kamarnya masih sama seperti dulu. Jika kau keberatan membawa adikku ini ke kamarnya, taruh saja di lantai." Jaeden juga berlalu begitu saja.


Jeaven dibuat terperangah karena usulan Jaeden yang tentu tak mungkin ia terima. Mana mungkin pria itu tega? Ia menggeleng jengah lalu memandangi wajah Jesslyn yang tampak damai di dadanya.


"Keluargamu sungguh luar biasa," ucapnya meski Jesslyn tak mendengarnya. Ia tahu, sikap Allesya, Sean, dan Jaeden tadi bertujuan mendekatkan dirinya dan Jesslyn. Sayangnya usaha mereka tidak akan mudah mengubah keputusan pria itu.


Sekilas Jeaven mendengus geli. Lucu saja melihat Jesslyn yang sedari tadi tidak terusik sama sekali. Wanita itu bahkan kian meringkuk nyaman ke dalam gendongannya seperti bayi.


Tidak lama, Jeaven sudah berdiri di depan kamar Jesslyn. Di dorong daun pintu dan disusul langkah kaki memasuki ruangan. Dengan hati-hati, direbahkan tubuh mungil wanita itu di atas ranjang. Namun, saat ia ingin menjauhkan diri, tubuhnya seperti ada yang menarik.


Rupanya, tangan Jesslyn tampak menggenggam erat kemejanya. Bahkan gumaman igauan wanita itu terdengar bak hati yang terluka. Kernyitan juga mencetak dua garis di antara pangkal alisnya.


Entah, apa yang sedang Jesslyn alami di dalam mimpi. Pasti itu bukan hal indah yang disenangi.


Dipandangi wajah cantik Jesslyn yang masih terlelap. "Mimpi apa yang kau alami sebenarnya? Hm?" Jeaven mengajak ujung jari telunjuknya menekan lembut dahi Jesslyn, berusaha mengusir garis kernyitan di sana. Dan benar, tindakan sederhananya itu sukses mengembalikan ekspresi damai si wanita.

__ADS_1


Perlahan ia meraih genggaman Jesslyn di kemejanya, mencoba melepaskan satu persatu jemari lentik yang masih mengatup tak bercela. Akan tetapi, tindakan di bawah alam sadar si wanita sungguh tak terduga.


Tubuhnya kian ditarik bahkan sampai bibir mereka bersentuhan. Dan sekali lagi, di sela keterkejutannya setan kembali berperan. Hanya sedikit sentuhan saja hasrat mulai naik ke permukaan.


Tidak dapat disangkal, sebagai seorang pria normal tubuh Jeaven selalu bereaksi kala bibir ranum Jesslyn menyentuhnya. Hingga tembok pertahanannya mulai goyah dan membiarkan hormon testosteron di dalam otak berkelana.


Alih-alih menarik bibirnya dari bibir Jesslyn, Jeaven malah membawa matanya terpejam lalu menciptakan sebuah lumattan lembut. Ia begitu menikmati setiap sesapan manis itu. Hingga akal sehat kembali menampar pria itu saat merasakan sebuah pergerakan kecil di bawahnya.


Ternyata tidur Jesslyn sedikit terusik karena menerima sentuhan nakal di bibirnya. Kendati hal itu tidak sampai membangunkannya. Namun cukup membuat Jeaven kesulitan menelan saliva.


Aksi ciuman pun berakhir seiring dengan Jesslyn mengubah posisi tidurnya ke dalam posisi miring. Bertepatan dengan itu, Jeaven langsung merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia mencuri ciuman wanita itu di saat masih tertidur.


"Gila! Lagi-lagi aku lepas kendali." Jeaven menggerang frutrasi meski tak sampai berbunyi. Antara kesal dan menyesal itu yang dirasakannya kini. Kesal karena tidak mampu menahan diri. Menyesal karena baru saja bertindak seperti bajingan cap ikan teri.


Ditarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mungil si wanita yang tampak meringkuk kedinginan. Ia pun berniat segera keluar ruangan, tapi atensinya tiba-tiba tertarik pada sebuah penampakan. Puluhan dream catcher yang menghiasi dinding kamar memaku pandangan.


"Dasar wanita aneh," gumamnya.


Getaran ponsel di saku seketika mengalihkan perhatiannya. Mengetahui Jenny yang menelepon gegas ia menekan tombol dial terima.


"Iya, Mom." Jeaven mulai mendengarkan.

__ADS_1


"Jeav, Jennis tiba-tiba kolaps. Sekarang Mommy dan Daddy sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit."


Bersambung~~


__ADS_2