Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Harmonis


__ADS_3

Pagi syahdu bersambut sinar mentari penghapus jejak malam. Sentuhan hawa dingin menyonsong raga merengkuh hangat bersemayam.


Jeaven tiba-tiba terbangun dari mimpi kala ruang perut bergejolak hingga mengundang rasa tidak nyaman. Masih sempat tangan mengusap lembut kepala Jesslyn yang tampak tenggelam di dalam pelukannya kendati mual kian tak terbantahkan. Perlahan ia mengurai lilitan tangan, meletakkan tubuh mungil itu dengan kehatian-hatian, berharap tidak mengusik kedamaian.


Langkah cepat menggiring Jeaven ke kamar mandi dan langsung memuntahkan semua isi perutnya. Kening mengernyit tajam disapa denyutan pusing di kepala. Begitulah suasana pagi si calon ayah muda itu selama masa kehamilan istrinya. Morning sickness memang sangat menyiksa.


Namun, tiba-tiba kedua sudutnya melengkung ke atas hingga mencetak senyuman kecil. Jeaven teringat apa yang dialaminya itu adalah gejala couvade syndrome yang terjadi ketika si istri hamil.


"Sepertinya calon anakku sedang menghukumku." Jeaven berkata lirih. Hati juga merutuki diri karena teringat akan sikap buruknya kepada Jesslyn dulu.


Sebenarnya di kala Jesslyn mengalami kram Jeaven juga mengalami hal yang sama tanpa siapapun menyadari. Pria itu urung bercerita dan dirasakan sendiri dengan perasaan iklas dari relung hati.


"Rasa ini hanya sebagian kecil saja tapi sudah sangat menyiksa. Apalagi bagi istriku yang akan melahirkan?" lirih Jeaven lagi. Sungguh kalau boleh meminta cukup dia saja yang merasakan sakit saat istrinya melahirkan nanti. Membayangkan sang ratu hati akan bertaruh nyawa sudah menciptakan denyutan nyeri.


Terbebas dari lamunannya Jeaven memilih menyikat gigi di depan cermin wastafel kamar mandi. Sesekali ia kembali mendengus geli, mengingat tingkah manja si istri.


Manis sekali, puji Jeaven di dalam hati.


Hingga ia terkesiap seiring dengan wajah menoleh ke samping. Tiba-tiba sepasang tangan melingkari perutnya dari belakang seiring dengan rasa hangat yang menempel di punggung. Hampir saja busa pasta gigi yang memenuhi rongga mulut tersembur.


"Jeav ...." Suara Jesslyn masih terdengar serak khas orang bangun tidur.


"Kenapa bangun?" Jeaven mengusap lembut tangan Jesslyn yang memeluk posesif perutnya.


"Aku pikir kau ke mana lalu mencarimu. Aku takut kau hilang diculik. Hmm, perasaan seperti ini sangat menyebalkan," ucap Jesslyn terkesan manja. Ia kian menempelkan pipi di punggung bidang Jeaven sembari memejamkan mata. Rupanya rasa kantuk masih tersisa.


"Ada-ada aja." Jeaven mendengus geli karena tingkah Jesslyn lalu melanjutkan aktivitas menyikat giginya yang sempat terjeda.


"Kau sedang apa?" tanya Jesslyn sekenanya tanpa memperhatikan apa yang sedang Jeaven lakukan. Matanya masih terpejam dengan nyawa belum sepenuhnya terkumpul.


"Sikat gigi," jawab Jeaven lalu berkumur.


"Aku masih ngantuk. Capek banget .... Semalam kau seperti pak petani yang rajin sekali bercocok tanam. Keluar masuk ladang, mencangkul dan menyiangi. Belum lagi kau seperti bayi yang gemar menghisap susu. Sekarang aku serasa sedang menggendong dua melon di dadaku. Berat."


Mulut yang masih berkumur hampir saja tersembur. Jeaven lagi-lagi mendengus geli karena kalimat perumpamaan yang digunakan Jesslyn.


"Maaf. Apa kau kurang nyaman?" Jeaven menatap lurus di cermin, melihat sosok Jesslyn yang hanya terlihat sedikit di belakangnya.


"Aku suka sih, tapi badan pegal semua."


"Aku pijit, ya."


"Nggak mau." Cepat-cepat Jesslyn menolak tawaran si suami. Bahkan matanya langsung terbuka seiring dengan raut wajah sangsi.

__ADS_1


"Kenapa? Katanya pegal semua?"


"Kali ini aku tidak mempercayaimu. Awal-awalnya saja mijit tapi berujung kuda-kudaan," cebik Jesslyn tapi tak membuat Jeaven tersinggung. Bahkan pria itu mulai tertawa kecil.


Jeaven menarik Jesslyn untuk menghadap cermin wastafel lalu menyodorkan segelas air untuk berkumur. "Lain kali jangan menantangku," ucapnya sembari menuangkan krim pasta di atas sikat gigi. "Buka mulutmu." Titahan pria itu langsung dipatuhi. Dia mulai membantu si wanita menggosok gigi.


"Tapi 'kan nggak gitu juga. Iissh! Kau benar-benar--"


"Jangan ngomong dulu. Busanya muncrat kemana-mana," seloroh Jeaven sembari mengulum senyuman.


"Hmm!" Jesslyn kesal.


"Meringis," titah Jeaven kembali dan lagi-lagi Jesslyn hanya mematuhi.


"Jess, bolehkah aku bertanya?"


"Tanya aja," ucap Jesslyn setelah usai berkumur guna membersihkan busa di mulutnya.


"Kenapa kau tiba-tiba mempercayai perasaanku?" Sejujurnya sejak semalam Jeaven tengah menyimpan tanya akan perubahan sikap Jesslyn yang secara mendadak itu.


Binar wajah Jesslyn seketika bersinar cerah. Senyuman bibirnya pun tampak merekah. "Oh ya, aku ingat sesuatu." Ia lanjut menarik tangan Jeaven, mengajak suaminya ke suatu tempat.


Di ruang baca ...


"Kau mau apa?" Jeaven mulai salah tingkah kala Jesslyn mengetahui letak pintu rahasia di ruang baca.


"Untuk apa? Tidak ada apa-apa di dalam." Pria itu benar-benar tidak ingin Jesslyn melihat semuanya. Mau ditaruh di mana mukanya nanti.


"Minggirlah, Jeaven." Jesslyn terlihat kesal karena Jeaven seolah terus menghalanginya untuk membuka pintu.


"Kita sebaiknya sarapan dulu," Jeaven berusaha mengalihkan perhatian Jesslyn yang tampak keukuh ingin masuk ke ruangan.


"Hish! Kau ini kenapa sih? Aku sudah melihat semuanya, jadi tidak ada yang perlu kau tutupi lagi," sengit Jesslyn lalu meminta Jeaven minggir dari depan pintu menggunakan lirikan mata. Dan si pria akhirnya memilih pasrah tak berdaya.


Senyuman seketika tersemat manis di bibir Jesslyn kala mata kembali menangkap seisi ruangan yang penuh oleh gambar dirinya. Perasaan kagum membawa kaki masuk lebih jauh mendahului Jeaven yang terlihat ragu mengekorinya.


"Semua penghuni yang ada di ruangan ini sukses menyadarkanku akan sebuah fakta. Satu persatu dari mereka seolah bercerita tentang perasaanmu kepadaku. Hingga rasa percaya itu seketika tumbuh di dalam dada." Jesslyn memutar tubuhnya hingga sosok Jeaven yang tampak berjalan mendekat memenuhi ruang mata. "Aku sangat menyukai ruangan ini, Jeaven."


"Ini memalukan."


"Justru ini mengagumkan," bantah Jesslyn dengan pujian.


"Apa yang bisa dikagumi dari seorang pengecut?" Jeaven menatap lekat wajah si istri yang menurutnya kian bertambah cantik dan mempesona. Ahh ... Detak jantungnya bahkan kian berpacu bak pacuan kuda.

__ADS_1


"Iya, kau memang pengecut. Selama ini hanya bersembunyi di balik dreamcather yang kau kirimkan kepadaku."


"Kau sudah tahu rupanya." Jeaven tersenyum kecut.


"Sekarang aku tidak akan menyalahkanmu. Kau punya alasan di balik sikapmu dulu." Jesslyn tiba-tiba merasakan denyutan pilu kala merasakan Jeaven sedang merendahkan dirinya sendiri. Sebagai insan yang mencintai tentu rasa tidak terima tersemat di hati. Ia langsung berhamburan ke dalam pelukan sang raja hati.


"Jangan menyalahkan dirimu terus. Tahu kah kau kalau aku saat ini sedang sangat mengagumi suamiku ini? Di balik sikap dinginnya, suamiku ini memiliki sifat penyayang yang luar biasa kepada keluarganya."


"Maafkan aku."


"Aku juga minta maaf karena sempat meminta cerai. Aku sangat menyesal." Di saat perasaan sedang melow-melownya Jesslyn tiba-tiba mendongak dan mengadiahi wajah cemberut. "Tapi kenapa waktu itu kau tidak mencegahku dan malah menuruti permintaanku itu? Harusnya kau terus meyakinkanku agar percaya kepadamu," protes wanita itu.


"Maaf. Aku memang salah. Tapi sebenarnya aku juga tidak akan rela melepasmu." Jeaven merangkum hangat kedua pipi Jesslyn lalu mendaratkan ciuman di kening.


"Apapun situasinya, aku mohon pertahankan aku. Sejauh mana aku terbang kau harus tetap menemaniku."


"Aku janji."


Jesslyn tampak tersenyum bahagia. Sungguh kebersamaannya dengan Jeaven bak bersemayam di bawah gubuk cinta, menentramkan kapal jiwa yang sempat diterjang badai lara.


"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?"


"Sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya saat kau tertidur diranjangku setelah bermain bersama Jennis. Di saat itu aku benar-benar menyadari perasaanku itu." Jeaven menjawab tanpa berpikir lama. Memang seperti itulah kenyataan yang ada. Bagi pria itu debaran pertamanya terhadap Jesslyn tidak mudah terlupakan dan bahkan kian menggila seiring berjalannya masa.


Terkesima luar biasa, Jesslyn sungguh tak menduga. Ternyata selama itu Jeaven memendam rasa. Dan bahkan seorang diri mendekam dalam derita cinta.


"Ah, aku ingat. Waktu itu aku bermimpi kau mencium bibirku," celetuk Jesslyn bersemangat.


"Itu bukan mimpi, Jesslyn."


"Hish! Kau benar-benar pengecut. Berani nyium pas aku tidur," cebik Jesslyn antara kesal dan senang.


"Sekarang sudah tidak." Jeaven langsung menyambar bibir Jesslyn.


"Kau mau minta jatah lagi?" Setelah beberapa saat berciuman Jesslyn memundurkan wajah agar Jeaven berhenti memagutnya.


"Tidak. Kau harus sarapan."


"Tapi aku mau ...," rengek Jesslyn, tangan sudah mulai merayap ke bawah. "Sekali lagi ya."


"Jangan nakal. Kau harus sarapan, minum susu, dam vitamin." Jeaven mencegah tangan nakal Jesslyn yang sudah mulai meremas, kendati hasrat sudah terpancing, tapi kali ini ia tidak akan goyah.


"Hiish! Kau cerewet sekali." Jesslyn merajuk seraya berjalan dengan hentakan kaki kesal.

__ADS_1


"Dasar!" Jeaven mengekori Jesslyn dengan perasaan gemas.


Bersambung~~


__ADS_2