
Di ruang tamu sebuah apartemen Jeaven terlihat sedang menunggu Jesslyn keluar dari kamarnya. Kali ini ia akan membawa wanita kesayangannya itu menghadiri undangan makan malam bersama presedir perusahaan yang mensponsorinya.
Awalnya cukup sulit membujuk Jesslyn agar bersedia ikut. Wanita itu terus saja menolak dengan sikap ketus yang enggan menyurut. Wajah cemberut, bibir mengerucut, suara bersungut-sungut begitu terus sampai berlarut-larut.
Sungguh tak patut.
Sabar ya, Jeaven. Ini ujian berat untukmu.
Namun, setelah Jeaven memberi tahu bahwa mereka akan makan malam bersama seorang pimpinan dari perusahaan fashion terkemuka di swiss Jesslyn langsung berubah haluan. Wanita itu menarik kembali semua penolakan yang dilontarkan. Bahkan ia tampak bersemangat menerima ajakan.
Bagi Jesslyn, ini adalah kesempatan emas baginya untuk melebarkan sayapnya di dunia bisnis fashion. Yaitu dengan cara memperluas jaringan relasi bersama orang-orang penting.
Sebenarnya, sebagai satu-satunya putri dari keluarga Willson yang di mana memiliki kerajaan bisnis fashion terbesar di Eropa, dia tidak perlu bekerja keras untuk meraih kesuksesannya. Ibarat kata tinggal menjentikan jari semua yang diinginkan sudah tersedia di depan mata.
Tetapi dia adalah Jesslyn yang selalu ingin berdiri di atas topangan kakinya sendiri. Bahkan saat masih bekerja di perusahan keluarga ia memilih menjabat sebagai staf devisi. Dan tak mendambakan kedudukan tinggi.
Jeaven memperhatikan Jesslyn yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Sepasang mata tajam diajak memindai penampilan mahluk cantik di depannya itu dengan seksama. Menilai balutan gaun si wanita dengan perasaan tidak suka.
"Jangan pakai gaun itu. Itu tidak cocok untukmu." Jeaven berkomentar tanpa basa-basi.
"Apa matamu rabun? Gaun ini sangat indah di tubuhku." Jesslyn memprotes dengan ketusnya. Bahkan raut masam terpahat jelas di balik riasan wajahnya. "Aku tidak mau ganti." Ia menolak dan tidak peduli jika Jeaven kembali berkomentar.
Monica yang kebetulan melewati mereka tampak menggeleng kepala. "Mulai lagi deh perangnya. Sekalian saling lempar granat biar totalitas. Perasaan kapan ademnya kalian itu," cebiknya tanpa menghentikan langkah kaki menuju ke kamar.
Sesaat keberadaan Monica yang seperti iklan lewat itu menjeda percakapan di antara Jeaven dan Jesslyn. Sedetik kemudian suara bariton kembali terdengar dan menarik kembali suasana.
"Gaunmu terlalu terbuka, Jesslyn." Jeaven melirik ke kedua bahu mulus Jesslyn yang sedang dipamerkan.
Long dress midi kemben yang dikenakan Jesslyn memang terlihat sangat cocok di tubuhnya. Namun, bagi Jeaven pemandangan di depannya itu terlalu indah jika harus dipamerkan. Dengan kata lain hanya dia yang boleh melihatnya.
"Aku tidak peduli."
"Jess, menurutlah."
"Butuh banyak tenaga bagiku untuk sekedar mengganti pakaian. Capek dan merepotkan."
__ADS_1
"Aku akan membantumu."
"Hei, kau mau apa?!" Jesslyn sedikit memekik saat Jeaven menariknya menuju kamar.
"Membantumu mengganti pakaian."
Di dalam kamar Jeaven mencoba meraih resleting gaun Jesslyn tapi langsung mendapat tepisan kasar.
"Kyaak! Turunkan tanganmu! Jangan kurang ajar!" Jesslyn berjalan mundur seraya menyilangkan kedua tangan di depan. "Kau gila ya?!" Sentaknya karena emosi.
"Cepat ganti gaunmu, Jesslyn. Ingat juga kau sedang hamil."
"Jangan harap aku akan menuruti semua ucapanmu." Rupanya wanita itu masih ingin memberontak. Kendati nyalinya sedikit mengecil karena tatapan Jeaven yang tak lepas darinya.
Takut saja kalau pria itu bertindak liar menuruti hasrat kelelakiannya. Tetapi meskipun seperti itu ia masih saja keras kepala.
Astaga ....
"Kita bisa terlambat kalau kau terus membangkang." Masih berusaha sabar, Jeaven berkata lembut tapi juga tegas. Sorot matanya teduh tapi sangat mengintimidasi.
"Aku tunggu kau di mobil," imbuh Jesslyn kembali.
"Berhenti di sana jika tidak ingin menyesal," titah Jeaven kepada Jesslyn yang berniat keluar kamar.
"Aku tidak takut." Ia tak gentar dan tak berniat menghentikan langkah kakinya.
"Baiklah jika itu maumu." Jeaven mengambil langkah lebar disusul tangan menarik tubuh kecil Jesslyn.
"Kyaaak! Lepaskan!" Wanita itu seketika meronta. Dari belakang Ia bisa merasakan aura hangat dari tubuh Jeaven yang menempel di punggungnya.
"Kau cukup diam dan menikmatinya," bisik Jeaven menyerupai sebuah desisan sensual.
"Ahk! Apa yang kau lakukan?! Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu!" Jesslyn kian histeris saat Jeaven membawa bibir untuk bermain pada bahu dan lehernya. "Ahk! Jeav, aku mohon jangan lakukan itu." Rontahannya mulai melemah di dalam rengkuhan posesif si pria. Bahkan sekilas terdengar dessahan tertahan.
Jeaven berhasil menciptakan sensasi panas di setiap gigitan nakalnya. Makhluk cantik yang masih terkunci di dalam rengkuhannya itu mulai meremang.
__ADS_1
Sial! Tubuhku malah bereaksi! Ya Tuhan, aku tidak ingin mengulang kesalahan lagi.
Hati kecil Jesslyn terus menolak tapi tubuhnya justru menerima tanpa sungkan. Wanita itu tengah berperang dengan perasaannya yang saling bertabrakan.
Manis sekali. Aku menyukai semua yang ada padanya. Tidak! Tapi aku harus berhenti sebelum lepas kendali.
Sama halnya dengan Jeaslyn, Jeaven juga merasakan tubuhnya sudah menegang. Namun, dia harus kuat menahan hasrat yang menerjang.
Jeaven segera menyudahi aksinya sebelum ia terkena bomerang yang dia lempar sendiri. Niat awalnya memang ingin memberi pelajaran pada Jesslyn agar mengerti. Hanya itu saja, tidak ada yang lain lagi.
Dituntun tubuh Jesslyn yang masih lemas itu di depan cermin meja rias lalu kembali berbisik. "Apa kau masih tidak ingin merubah pikiran?" Ia membawa jemarinya menunjuk satu persatu tanda merah di bahu dan leher Jesslyn karena hasil perbuatannya.
Sepasang mata cantik Jesslyn seketika membola. Antara tercengang dan marah itulah yang dirasa. Ternyata di saat ia terbuai oleh sentuhan nikmat Jeaven justru menggencarkan niat terselubungnya.
"Kau memang gila, Jeav!" Jessyln berkali-kali menghadiahi pukulan keras di dada Jeaven. Namun, pukulannya yang lemah tak membuat tubuh gagah itu bergerak sedikitpun.
"Itu karena kau menantangku."
Jesslyn kian geram dibuatnya. "Aku tidak menantangmu." Ia mengeyel.
"Cepat ganti pakaianmu."
"Ck! Baiklah aku akan ganti pakaianku dengan kostum badut agar kau malu."
"Boleh juga."
Jesslyn kembali tercengang dengan tanggapan santai Jeaven yang melenceng jauh dari ekspetasinya.
"Arrgh! Yang benar saja. Dasar kuno, cupu, tidak mengerti gaya fashion! Ya Tuhan ... jangan ada lagi pria seperti dia di belahan bumi lainnya. Sungguh menyebalkan!" Jesslyn terus menggerutu kesal di sela langkahnya menuju walk in closet.
"Kau dengar ya, Tuan Jeaven yang menyebalkan! Aku akan memakai kostum badut, hidung tomat, dan rambut pelangi biar agar mukamu tercoreng! Camkan itu!" Di dalam walk in closet Jesslyn masih sempat-sempatnya mengumpat.
Sikap absurd Jesslyn membuat Jeaven yang berkarakter dingin itu tidak mampu lagi menahan tawa. Pria itu tersenyum lebar untuk pertama kalinya setelah ia dewasa.
"Dia manis sekali."
__ADS_1
Bersambung~~